TOREHKAN KISAH LITERASIMU!

Belum pernah dalam hidupku melihat orang belajar bersama dalam jumlah banyak di satu tempat. Di PM, orang belajar di setiap sudut dan waktu. Kami sanggup membaca buku sambil berjalan, sambil bersepeda, sambil antri mandi, sambil antri makan, sambil makan bahkan sambil mengantuk. Animo belajar ini semakin menggila begitu masa ujian datang. Kami mendesak diri melampaui limit normal untuk menemukan limit baru yang jauh lebih tinggi. (Fuadi, 200)

resensi-negeri-5-menara

Kutipan di atas saya ambil dari novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi (2009). Novel penuh inspirasi ini kaya dengan penuturan dan gambaran Alif tentang bagaimana kegiatan membaca dan menulis berkelindan dengan indahnya dalam kesehariannya sebagai anak pesantren di Pondok Madani.

Kisah tentang bagaimana seseorang mulai belajar dan kemudian mencintai dunia buku dan tulisan semakin banyak kita jumpai di dunia maya. Mulai dari status update di media sosial sampai blog entry banyak bertebaran kisah tentang buku dan menulis dalam kehidupan penulisnya. Di blog saya ini bahkan saya mengkhususkan diri menulis tentang literasi, yakni dunia membaca dan menulis berbagai ragam teks.

Kata literasi memang tidak lagi asing. Bila beberapa tahun yang lalu orang masih bertanya apa itu literasi, sekarang ini bahkan ibu-ibu RT di tempat saya sudah bisa langsung menggunakan istilah Gerakan Literasi ketika saya mengajak ibu-ibu PKK untuk mendirikan Taman Baca Masyarakat di RT kami. Saya cuma bilang, ‘ayo buat taman baca buat warga RT.’ Mereka merespon positif dan sudah langsung menggunakan frase ‘demi gerakan literasi.’ Nampaknya Gerakan Literasi Sekolah dalam bentuk kegiatan 15 menit membaca di sekolah anak-anak mereka sudah mulai membentuk pola pikir baru di antara para orangtua.

Karena kita sudah akrab dengan kisah-kisah tentang buku dan tulisan, mari kita mulai mengenal istilah akademiknya. Dalam berbagai kajian tentang Literacy Studies, kisah seperti ini disebut dengan Literacy Narrative. Apa ya terjemahannya dalam Bahasa Indonesia? Naratif Literasi? Kisah Literasi? Untuk sementara saya memilih menggunakan istilah Kisah Literasi. Rasanya terdengar lebih manis.

Kisah literasi biasanya ditulis oleh para penulis untuk memerikan perjalanan mereka mengenal tulisan, kapan mulai suka membaca buku, mulai menulis, tantangan yang dihadapi, cerita suka duka tentang membaca dan menulis. Kisah seperti ini membuat para pembaca lebih mengenal sosok penulis. Kisah literasi juga menjadi salah satu bentuk tugas menulis yang kerap diberikan di kelas-kelas Bahasa. Para siswa atau mahasiswa biasanya diminta menuliskan tentang pengalaman dan perasaan mereka tentang banyak hal yang terkait dengan buku dan tulisan.

Kisah literasi adalah kisah tentang buku dan tulisan yang kita tulis dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal ini, kita tidak hanya mengacu pada kegiatan membaca dan menulis sebagai ketrampilan Bahasa yang dapat yang diukur dengan berbagai standar penilaian. Kisah literasi adalah kisah perjalanan hidup seseorang yang menuliskannya, kisah tentang perubahan identitas di mana buku dan tulisan menjadi bagian penting. Kisah literasi dapat mengungkapkan bagaimana seseorang memosisikan dirinya dalam hal kelas sosial, status pendidikan dan ekonomi. Kisah literasi juga dapat menjadi pembuktian bagaimana buku, tulisan, dan bahkan teks audiovisual dapat mengubah citra diri seseorang.

Konsep Figured World, Positional Identity, dan Figurative Identity yang diusung oleh Dorothy Holland dkk. dapat dengan cantik dikawinkan dengan dunia literasi. Riya Rizqi, salah seorang mahasiswa S2 Unesa bimbingan saya baru saja menyelesaikan tesis tentang Literacy Narratives and Students’ Identities. Dari kisah literasi yang ditulis dalam Bahasa Inggris sederhana oleh siswa SMP di Lamongan, Riya berargumen bahwa kehadiran buku, kegiatan membaca, dan gurunya sendiri membuat siswa mengubah cara pandang tentang diri mereka sendiri. Pada awalnya mereka memandang diri mereka sebagai ‘bad reader and bad writer.’ Setelah berproses dengan berbagai kegiatan di mana buku dan tulisan banyak dihadirkan, mereka mulai berani menilai diri sebagai ‘good reader and good writer.’

Sekali lagi, kisah literasi bukanlah kisah melulu tentang kesuksesan bergulat dengan teks yang mungkin diwakili oleh deretan angka. Kisah literasi yang membebaskan penulisnya untuk berekspresi akan menjadi kisah yang reflektif dan berperan membentuk atau mengembangkan karakter penulis dan juga pembacanya. Dalam hal ini, kisah literasi banyak bertebaran di karya sastra dan budaya populer seperti film. Novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri sarat dengan kisah kedekatan batin tokoh Ashoke dengan seorang pengarang besar dari Rusia, Nikolai Gogol, melalui koleksi cerpen yang dia punyai. Dengan latar belakang budaya masyarakat India diaspora, novel ini mengantarkan pembaca kepada perjalanan identitas hibrid dengan artifak literasi (buku, majalah, iklan, pendidikan tinggi di LN, dll) sebagai katalisator perubahan identitas diri.

namesake

Berbicara tentang projek menulis kisah literasi, saya ingin menyebutkan dua buku karya alumni Unesa sebagai projek yang luar biasa. Pena Alumni (2013) dan Boom Literasi (2014) amat dinamis menampilkan kisah literasi para penulisnya yang berasal dari beragam latar belakang profesi. Dua buku ini bahkan terbit saat gempita literasi belum segempar sekarang ini. Seharusnya kedua buku ini layak cetak ulang.  Meski projeknya nirlaba, alias tidak cari untung (bahkan urunan), kualitas tulisan-tulisannya patut diacungi jempol.

pena alumni                         boom literasi

Buku terbaru yang saya tulis bersama mbak Sofie Dewayani, Suara dari Marjin (2017) juga diwarnai dengan kisah literasi. Dalam buku ini, kami menggunakan istilah Trajektori Literasi. Di bab 2 dan 3, secara terpisah mbak Sofie dan saya berkisah tentang bagaimana mulanya kami suka membaca dan menulis, dan bagaimana dunia literasi ini membawa kami pada minat mengkaji kisah literasi anak-anak jalanan dan buruh migran Indonesia di Hong Kong. Pendek kata, buku Suara dari Marjin adalah buku tentang kisah literasi, tidak hanya tentang komunitas anak jalanan dan BMI Hong Kong, namun juga kedua penulisnya.

suara dari marjin

 

Kisah literasi dapat diungkapkan oleh siapa saja, mulai siswa yang baru belajar mengarang dan mulai menyukai buku sampai penulis terkenal. Mulai dari mahasiswa anyar sampai para profesor. Kisah-kisah ini akan menjadi catatan abadi yang ditorehkan di tonggak peradaban bangsa kita sebagai bangsa yang literat. Dengan semakin banyak kisah literasi, akan semakin beragam pula kajian tentang kisah-kisah tersebut dalam membentuk narasi besar gerakan literasi bangsa kita. Tanpa ada kisah literasi, tidak akan ada kajian tentang kisah literasi.

Maka dari itu, torehkan kisah literasimu!

 

 

Advertisements

“YANG PENTING ADALAH MEMBANGUN MINDSET PARA GURU DAN STAF” : PRAKTIK YANG BAIK DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH

Pagi ini saya menikmati obrolan yang bernas dengan para alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris di sebuah WAG. Diskusi kami  berawal dari pertanyaan seorang alumni yang mengajar di sebuah SMP negeri di bilangan Sidoarjo. Dia bertanya tentang kegiatan 15 menit membaca. Apakah kegiatan ini hanya alternatif GLS ataukah kegiatan utama? Dia memperoleh informasi ini dari Kepala Sekolahnya yang kebetulan mengikuti pelatihan instruktur propinsi. Menurut Kepala Sekolahnya, kegiatan 15 menit membaca hanyalah satu alternatif GLS.

Saya menjelaskan bahwa kegiatan 15 menit membaca adalah kegiatan utama dalam tahap pembiasaan. Bentuknya bisa membaca dalam hati bersama-sama atau membacakan cerita. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun tahap pembiasaan sesuai prinsip.

Obrolan kami semakin menarik ketika para alumni mulai berbagi tentang praktik literasi di sekolah masing-masing. Satu contoh yang luar biasa datang dari Ana yang saat ini mengajar di sebuah Sekolah Dasar Regents di Denpasar, Bali. Sekolah ‘R’ ini adalah sekolah nasional plus yang terbilang baru. Sekolah baru berjalan selama 6 tahun dan menerapkan kurikulum nasional dan Cambridge. Saat ini sekolah tengah menjalankan program yang disebut dengan D.E.A.R. (Drop Everything and Read). Ini nama lain yang biasanya dipakai untuk mengacu pada program membaca dalam hati seperti Sustained Silent Reading (SSR). Di dalam Panduan Gerakan Literasi Sekolah, program ini diadaptasi menjadi bagian dari pembiasaan 15 menit membaca.

Saya akan merekap testimony Ana dengan menggunakan 8 prinsip kegiatan membaca dalam hati dalam tahap pembiasaan. Prinsip ini dicantumkan dalam Panduan GLS Kemdikbud. Sekolah ‘R’ juga menggunakan Panduan GLS tingkat SD sebagai salah satu rujukan.

  1. Akses terhadap buku

Meskipun Sekolah ‘R’ sekolah nasional plus, koleksi perpustakaannya masih belum banyak. Begitu penuturan Ana. Buku-buku untuk program D.E.A.R dibawa sendiri oleh siswa dari rumah. Setelah selesai mereka bisa berbagi atau tukar buku dengan temannya.

 

Perpus mini
Perpustakaan sederhana (dokumen Ana)
  1. Siswa memilih sendiri buku yang ingin dibaca

Siswa di sekolah ‘R’ memilih sendiri buku yang mereka baca, sesuai dengan minat masing-masing, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Yang penting ada target bahwa bukunya terselesaikan.

  1. Lingkungan yang kondusif

Sekolah ‘R’ memang didukung oleh fasilitas yang cukup baik dan staf guru yang masih muda, berkualitas dan bersemangat belajar. Sebagian gurunya adalah native speakers karena bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Inggris. Meskipun hal ini tidak perlu dijadikan patokan keberhasilan program GLS. Yang penting adalah persepsi yang sama tentang pentingnya program literasi di antara para staf di sekolah.

  1. Disediakan waktu membaca secara berkala

Pada semester 1, sekolah ‘R’ menyisihkan waktu sebanyak 10 menit sebelum pelajaran dimulai. Sementara itu, pada semester 2 diubah menjadi setiap pukul 10 selama 15 menit. Apapun yang dilakukan oleh guru dan siswa di kelas, semuanya akan berhenti dan memulai membaca pada pukul 10 pagi. Untuk menandai dimulainya sesi D.E.A.R, sekolah memutarkan lagu tertentu untuk tanda mulai membaca 15 menit.

DEAR at ICT class
D.E.A.R. di jam pelajaran ICT (dokumen Ana)
  1. Guru ikut membaca untuk memberikan keteladanan

Di sekolah ‘R’, bahkan semua guru, staf sampai petugas kebersihan wajib sampai petugas kebersihan juga wajib ikut D.E.A.R. Prinsip ini memang amat penting dilakukan. Saat ini Ana memegang mata pelajaran ICT (meski dia alumni jurusan Bhs. Inggris). Di mata Ana, GLS akan berjalan bila persepsi semua staf sekolah sama. Tantangannya adalah bagaimana membangun mindset akan pentingnya program membaca. Dalam banyak penelitian, keteladaan guru dan staf adalah kunci keberhasilan program membaca.

Di banyak sekolah, guru tidak ikut membaca, atau diserahkan kepada petugas perpustakaan yang dianggap bertanggung-jawab atas program Kurikulum Wajib Baca. Ada juga yang menganggap bahwa program membaca ini hanya berlaku untuk guru Bahasa. Ada pula curhatan seorang Kepala Sekolah kepada saya. Beliau merasa dimusuhi ketika mengajak para guru melaksanakan GLS.

Di sekolah ‘R’, prinsip ini dapat terjaga karena beberapa faktor. Menurut penuturan Ana, pemilik sekolah adalah lulusan luar negeri dan mencoba menerapkan praktik literasi yang baik di luar negeri untuk diterapkan di sekolahnya. Selain itu, kepala sekolahnya kebetulan adalah kutu buku. Tentu saja program ini menjadi lebih mudah dijalankan karena motivasinya internal, dan bukan semata-mata untuk pencitraan sekolah.

  1. Tidak ada tagihan tugas

Hal yang patut diacungi jempol adalah konsistensi sekolah ‘R’ untuk tidak memberikan tugas apapun setelah membaca. Para guru yang expatriat juga tidak setuju dengan adanya tagihan. Ini persis dengan komentar teman saya, Jonnie Hill, yang mengajar di sekolah nasional plus di bilangan Pakuwon City Surabaya. Tagihan tidak boleh diberlakukan bila ingin membangun kebiasaan membaca karena akan kontraproduktif.

Di sekolah ‘R’, yang dilakukan siswa adalah mengisi jurnal harian. Mereka menyebutnya reading log. Kebetulan yang dibaca adalah buku-buku berbahasa Inggris. Ini adalah contoh-contoh reading log.

Untuk memberikan motivasi kepada siswa dan mendorong kompetisi sehat antar kelas, reading log dibuat dalam bentuk tempelan di dinding dengan berbagai pola. Tempelan  reading log di dinding membuat siswa merasa tertantang ketika kelas lain sudah membaca lebih banyak buku.

display 1           display 2

  1. Kegiatan tindak lanjut

Meskipun tidak ada tagihan membuat ringkasan, sekolah ‘R’ menerapkan berbagai kegiatan yang sifatnya untuk memberikan motivasi kepada siswa. Sesekali ada tanya jawab ringan tentang buku yang dibaca. Sekolah juga baru saja menyelenggarakan Bookweek. Salah satu tujuannya untuk merayakan tercapainya tujuan membaca 1000 buku semester ini. Ada acara character day. Semua kostumnya handmade untuk penghematan. Baik siswa maupun guru juga wajib mengenakan kostum karakter buku. Ada juga acara drama dengan cerita Charlie and the Chocolate Factory, diskusi buku, dan lain-lain. Menurut Ana, para siswa amat menyukai agenda ini.

play
Drama Charlie and the Chocolate Factory oleh siswa (dokumen pribadi Ana)

 

bookcharacter
Guru-guru ikut parade kostum karakter buku (dokumen pribadi Ana)
  1. Pelatihan staf

Salah satu faktor yang dapat memperkuat proses GLS adalah adanya pelatihan untuk para guru dan staf. Sekolah ‘R’ memiliki program Professional Development. Salah satu tema yang dibahas adalah program membaca dan bagaimana melaksanakannya di sekolah. Wakil kepala sekolah bidang kurikulum turun langsung untuk mengawal program ini. Semua guru dipahamkan dulu tentang pentingnya GLS dan diyakinkan bahwa mereka dapat melakukannnya. Selain mengacu kepada Panduan GLS Kemdikbud sebagai salah satu rujukan, sekolah juga  tidak ingin terburu-buru pindah ke tahap berikutnya sebelum kebiasaan membaca terbentuk dengan kuat. Salah satu hal yang dilakukan untuk persiapan GLS tahun depan adalah memohon masukan dari para guru tentang daftar buku yang akan dibaca siswa.

Kegiatan GLS di sekolah ‘R’ ini luar biasa. Kalau ditilik kegiatan yang mereka lakukan, sebenarnya malah mereka sudah masuk ke tahap pengembangan. Saya bahkan yakin bahwa kegiatan pembelajaran yang mereka lakukan sudah menerapkan berbagai strategi literasi dalam pembelajaran. Saat ini sekolah ‘R’ tengah melaksanakan program GLSnya sebagai berikut:

  • membuat Mini Library di kelas-kelas. Anak-anak diminta membawa buku dari rumah untuk dibaca dan sharing di kelas);
  • menetapkan 1 jam mata pelajaran Library Time (di luar 15 menit membaca tiap hari);
  • membuat program membaca dengan target membaca 1000 buku per semester;
  • membuat Reading Log untuk merekam  data target membaca
  • melaksanakan program D.E.A.R. (15 menit membaca tiap hari)
  • menerapkan kegiatan read aloud (membacakan cerita oleh guru) 1x seminggu oleh para guru bahasa (EL, BI, Bali)
  • menerapkan program literasi media n Teknologi untuk siswa kelas 5 dan 6. Mereka memiliki blog di kidblogs.org;
  • mengadakan Community Service dengan melakukan kegiatan read aloud ke salah satu TK pilihan oleh siswa
  • menyumbangkan buku ke sekolah lain.

Contoh praktik yang baik di sekolah ‘R’ ini menunjukkan bahwa persepsi yang sama tentang program GLS sangat penting untuk dibangun dan dipahami oleh segenap unsur sekolah. Selain itu, panduan yang ada memang harus dibaca dan didiskusikan bersama. Sekolah dapat dan bahkan didorong untuk mengadaptasinya sesuai dengan kondisi sekolah, asalkan prinsip utama tetap terjaga. Dengan demikian kita bisa melihat bahwa ketika prinsip-prinsip ini betul-betul diperhatikan dan dilaksanakan, hasilnya akan luar biasa.

Tidak harus menunggu dana besar atau fasilitas lengkap untuk memulai program GLS di tahap pembiasaan. Dibutuhkan lebih banyak catatan praktik yang baik GLS di sekolah-sekolah lain. Kunci keberhasilan GLS adalah adalah pola pikir yang sama tentang filosofi dan strateginya. Bersama kita bisa membawa anak didik kita menjadi generasi yang lebih literat.

Rencanakan dan laksanakan!

Kebraon, 1 Mei 2017

BAGAIKAN PEDANG BERMATA DUA

Saya seringkali menerima email yang tanpa isi. Saya menyebutnya email bodong. Biasanya pengirimnya adalah mahasiswa yang mengirimkan tugas esai untuk mata kuliah yang saya ampu. Pernah saya tanyakan ke beberapa kelas yang mahasiswanya melakukan praktik seperti ini. Jawabannya beragam, mulai “kami biasa begitu ke semua dosen, ma’am,” “takut dianggap cari perhatian sama dosen,” sampai “tidak tahu harus ngomong apa di email.”

Meski saya sempat jengkel saat harus mengunduh semua file agar tahu apa isi email para mahasiswa, saya memberitahu mereka bahwa etika menulis email itu sama halnya dengan menulis surat. Harus ada pengantar, isi, dan penutup. Sejak saat itu, email dari mahasiswa yang pernah saya beri briefing ini tidak lagi bodong. Walaupun masalah ini kemudian berpindah ke kelas-kelas lain yang nampaknya menunggu diberi briefing juga, hehe.

Di kesempatan yang berbeda, mahasiswa tingkat akhir di jurusan tempat saya mengajar mulai dilanda kecemasan. Kami memang mulai memberlakukan penggunaan Turnitin, software anti plagiasi berbayar yang dilanggan oleh kampus. Mereka yang akan maju ujian skripsi harus melampirkan laporan tingkat kesamaan dokumen. Dosen pembimbing diberi tugas mengunggah file skripsi mahasiswa untuk mengidentifikasi tingkat kesamaan. Hasilnya amat beragam. Mahasiswa yang memang menulis sendiri skripsinya sejak awal boleh berbangga dengan tingkat kemiripan di bawah 20%. Cukup banyak yang ‘sukses’ hanya terdeteksi di bawah 10%. Sementara itu, mereka yang skripsinya terdeteksi di atas 20% jadi kelabakan. Bahkan saya sendiri pernah menunda ujian skripsi seorang mahasiswa yang skripsinya terdeteksi sampai 46% kemiripannya.

Dampak penggunaan Turnitin ini mulai ‘menjangkiti’ para dosen. Sebagian malah menggunakannya sebagai saringan awal dalam menilai tugas-tugas UAS mahasiswa yang berbentuk esai. Saya termasuk di antaranya. Mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan modal sakat (salin lekat) dari makalah gratisan yang beredar tak terbatas di dunia maya bagaikan tertangkap basah. Bayangkan! Tingkat kemiripan sampai 98% dapat terdeteksi. Jangan harap bisa lulus mata kuliah bila begini caranya. Para dosen bersorak gembira. Para mahasiswa harus mikir seribu kali sebelum menyerahkan skripsi atau tugasnya.

digital-literacy

sumber: pomo.com.au

Sementara itu, di seberang dunia sana di Hong Kong, ribuan buruh migran Indonesia (BMI) tak ketinggalan exist di dunia maya. Di pojok-pojok warung internet, taman, dan perpustakaan Hong Kong, saya pernah menyaksikan puluhan saudari sebangsa dan setanah air sedang chatting. Penuturan sebagian blogger BMI mengungkapkan berbagai versi praktik romansa antar bangsa lewat dunia maya. Sebagian dari praktik ini bahkan berdampak pada upaya memeras isi rekening sebagian BMI atas nama cinta. Cerpen-cerpen yang ditulis BMI penulis cukup banyak mengungkap fenomena ini.

Di antara para BMI ini, ada puluhan yang aktif ngeblog dengan misi perjuangan. Mereka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Menulis di ponsel sambil menunggu cucian berputar di dalam mesin cuci. Membuka laptop saat larut malam meski tubuh lelah tak terkira. Mencatat hasil pengamatan di kertas di balik daftar belanja. Mereka menulis tentang banyak hal. Tentang lika-liku kehidupan BMI. Tentang kegiatan komunitas di hari libur di sepanjang sudut Victoria Park. Dan lebih penting lagi, tentang hak-hak TKW dalam hukum perburuhan di Indonesia dan Hong Kong. Lewat jejaring dunia maya yang melibatkan penggunaan blog, Facebook dan Twitter, bahkan para BMI sukses menggerakkan dunia internasional dalam menuntaskan kasus Erwiana, seorang BMI asal Magetan yang disiksa dan dipulangkan tanpa gaji oleh majikannya. Singkat cerita, dalam kurun waktu 1 tahun sejak kasus terjadi di awal 2014, perhatian dunia internasional tertuju pada Erwiana. Sang majikan divonis 16 tahun oleh pengadilan Hong Kong. Dan Erwiana bertransformasi dari perempuan lugu yang tak berani bicara menjadi salah satu sosok paling berpengaruh di dunia versi majalah Time di tahun 2014.

Apa makna dari contoh-contoh yang saya paparkan di atas? Internet laksana pedang dengan dua mata. Di tangan seorang yang pintar tanpa hati cerdas, pedang dapat membunuh. Di tangan seorang bersahaja namun berhati mulia, pedang yang sama dapat menyelamatkan dunia. Dunia maya adalah pedang yang dapat membuat sosok calon ilmuwan seperti mahasiswa saya untuk berani melanggar etika akademik demi nilai tinggi. Dia juga mendorong sosok yang sering dianggap bodoh dan udik seperti para BMI menjadi pejuang kemanusiaan. Jadi sebenarnya internet hanyalah alat. Makna dan kebermanfaatannya bergantung pada siapa yang menggunakannya.

Email bodong dapat berubah menjadi email beretika berkat briefing. Esai dan skripsi berbau plagiasi dapat direvisi melalui pembelajaran ketrampilan menulis akademik. Para BMI mampu memanfaatkan dunia maya sebagai alat perjuangan karena mereka tahu dahsyatnya pengaruh internet. Ini semua berarti bahwa pemanfaatan internet sehat dapat dilatihkan dan diajarkan.

Tentu saja pembelajaran internet sehat adalah tanggung-jawab kita semua. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah bergulir di awal tahun 2016, dan digawangi Direktorat Jendral Dikdasmen Kemdikbud. Dalam Disain Induk dan Panduan GLS untuk setiap jenjang pendidikan disebutkan pentingnya literasi informasi. Literasi informasi itu sendiri dimaknai sebagai ketrampilan berpikir untuk memahami dan mengolah informasi dari berbagai sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Inilah literasi abad ke-21 sebagaimana ditetapkan oleh Unesco (2003).

Komponen literasi informasi meliputi literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Pemahaman dan pemanfaatan semua komponen ini secara holistik adalah tanggung jawab pendidikan formal, keluarga, dan masyarakat. Dengan demikian anak-anak kita dapat berkembang menjadi pembelajar sepanjang hayat yang dapat memberikan sumbangsih secara aktif sebagai warga negara global.

Misi ini pastinya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu perubahan paradigma di berbagai lapisan kepentingan. Orang tua yang khawatir akan pemanfaatan gadget untuk hal-hal yang tidak sehat perlu melek teknologi. Mereka harus tahu aplikasi apa saja dan situs apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk pendidikan yang ramah anak, menyenangkan dan menghibur. Guru dan dosen yang gemes dengan tingginya tingkat kecurangan akademik harus mendongkrak kemampuan mengajarnya dengan menggunakan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Ini berarti perlu adanya kerangka kompetensi literasi informasi yang dapat menetapkan indikator yang lebih terukur.

Jadi, sebaiknya kita berhenti terus berwacana atau bahkan memperdebatkan apakah internet itu membahayakan atau mendidik. Sudah waktunya kita menyatukan dan menetapkan langkah-langkah konkrit dan terukur. Saya membangun harapan agar kita semua para pendidik dan perencana di dunia pendidikan mulai berpikir untuk menyusun kerangka kompetensi literasi informasi yang sesuai dengan nilai-nilai bangsa dan agama. Semoga ini dapat menjadi salah satu resolusi 2017 buat teman-teman Penggerak Literasi Unesa (PLU)

Dunia 3.0 sudah bergulir, jangan sampai kita tetap berada di dunia analog. Sebagaimana pernyataan Marc Prensky (2001), anak-kita kita adalah digital natives, alias penduduk asli di dunia digital. Sementara itu, mayoritas di antara kita para orang-tua dan guru atau dosen adalah penduduk pindahan alias imigran. Mari kita didik anak-anak kita dengan cara sesuai jamannya, namun tetap mempertahankan nilai-nilai yang mencerminkan identitas bangsa kita.

 

Surabaya, 30 November 2016

Digital storytelling buat anak yang demen gadget

Jaman sekarang rasanya semakin susah memisahkan anak dari penggunaan gadget. Jangankan anak-anak, kita sendiri saja praktis terpapar teknologi informasi di setiap menit. Mau meminta anak untuk berhenti bermain iPad berarti bahwa orang-tua juga meninggalkan laptop atau hapenya pada saat yang sama.

Saya termasuk agak cerewet dengan pemberian batasan screen time buat Adzra. Terutama bila di hari-hari sekolah. Berbagai metode saya lakukan, mulai tidak memperbolehkan dia pegang iPad atau Tab ayahnya sampai memberlakukan tagihan bila dia meminta ijin pakai iPad. “Please, please, sebentar saja,” begitu rayunya. Dan kata sebentar saja bisa molor bila tidak diingatkan. Tagihan yang saya minta bisa seperti ini. 1 jam pakai gadget, berarti 1 jam membaca, atau 1/2 jam menulis. Hehe, maklum ibunya provokator literasi. Anaknya juga tidak boleh lepas dari kegiatan literasi tiap hari.

Cara tagihan ini biasanya cukup manjur. Kadang Adzra merasa sudah cukup lama main Minecraft atau lihat video di Youtube (dia suka mencari video naratif anak-anak yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari). Setelah itu, tanpa disuruh, dia akan cari buku ceritanya dan sekejap kemudian tenggelam dalam imajinasi cerita.

Meski begitu, saya sebenarnya agak galau bila Adzra hanya melakukan kegiatan ‘pasif’ dengan gadget. Saya harus mencari cara agar gadget dapat dimanfaatkan secara lebih kreatif. Saya amati Adzra suka sekali merekam suaranya di Musical.ly atau membuat video pendek tentang cara membuat slime atau prakarya. Sejak masih di Melbourne dulu, iPad praktis penuh dengan rekaman video tentang kegiatan crafting yang dia buat sendiri. Selain itu, Adzra juga suka oret-oret komik, yang dia gambar di kertas HVS dan dia jepret menjadi sebuah buku kecil. Dia memang suka dengan komik KKPK. Boleh jadi kemampuan menulisnya dalam bahasa Indonesia menjadi lebih lancar karenanya. Dia punya daftar sekitar 10an judul komik yang ingin dia tulis, dan sekitar 5 judul sudah dicentang. Artinya komiknya sudah jadi. Komik sederhana saja, cuma sekitar 4-5 halaman, tapi ada plotnya.

Mengamati kegemarannya, saya mencari aplikasi yang bisa dipakai untuk membuat cerita. Maka ketemulah Toontastic. Aplikasi ini gratis di App Store, sehingga saya tinggal install saja. Ada banyak aplikasi dan website yang lain untuk membuat cerita secara digital. Dalam bahasa pembelajaran, Toontastic adalah aplikasi untuk digital storytelling. Aplikasi ini pas untuk anak-anak usia di bawah 10 tahun.

toontastic

Dari hasil review saya, fitur-fitur Toontastic memang bagus sekali. Anak dapat memilih sendiri tokoh dan latar cerita. Tinggal mix and match. Suara juga bisa direkam dengan mengaktifkan fitur microphone. Hebatnya lagi, fitur elemen cerita-set up, conflict, climax, dan resolution juga ada. Dengan fitur-fitur ini, anak akan paham struktur teks dan mampu memproduksi teks sendiri.

Adzra girang sekali ketika mengetahui bahwa saya sedang menginstall Toontastic. “Thank you, thank you, bu,” ujarnya sambil memeluk lengan saya. “Aku tahu, aku tahu, dulu aku pernah buat kayak gini dengan Khalila,” tambahnya seraya mengingat-ingat satu aplikasi digital storytelling yang pernah dia gunakan dengan temannya di Melbourne dulu.

Saya tidak harus mengajari Adzra cara menggunakan Toontastic. Anak sekarang memang digital natives. Dia sudah tahu bagaimana bernavigasi dengan aplikasi baru ini. Jari-jarinya lincah memilih-milih karakter dan setting cerita. Dia klik icon tiap tahap/elemen cerita, dan terdengarlah penjelasan fungsi elemen-elemen tersebut.

Tidak sampai lama, terdengar suara Adzra menjadi narator yang dia rekam setelah memencet ‘Start.’ Jari telunjuknya menggerak-gerakkan kartun sejalan dengan cerita yang dia buat. Cerita tentang seorang cameraman sedang shooting dengan tokoh robotpun mengalir dalam Bahasa Inggris. Beberapa kali Adzra mengulang perekaman, dan dia lakukan perubahan plot di sana-sini. Kisah robot shooting dengan elemen lengkap terangkaipun menjadi video berdurasi 2 menit. Sambil tertawa Adzra memamerkan film kartunnya, lengkap dengan judul dan nama sutradaranya (Directed by Novandra).

Sejenak kemudian dia terdengar melakukan perekaman lagi. Kali ini dia membuat narasi dalam Bahasa Indonesia. Sebuah group band sedang pentas, dan penyanyinya  melantunkan lagu nasional ‘Hari Merdeka.’ Suara Adzra lantang melagukan ‘Tujuh Belas Agustus tahun Empat Lima…’ Lagu belum selesai, penyanyinya pingsan, dan datanglah ambulance. Nging…ngeng…nging…ngeng.

Menilik kembali teori literasi sebagai praktik sosial, ternyata pengalaman malam minggu ini merupakan literacy event yang menarik dieksplorasi lebih jauh. Bahasa dan kisah yang Adzra buat juga mencerminkan nilai, pengalaman, dan perasaannya yang membentuk identitasnya sebagai anak yang bilingual, suka menyanyi, dan merekam apa saja yang dia lakukan lewat video. Buktinya, dia membuat video tentang tokoh cameraman. Bila mau diteliti lebih lanjut, tema literasi digital dan identitas sudah siap dikembangkan. Saya tidak terlalu mendalami teknik-teknik pembelajaran untuk kegiatan penelitian saya, namun mengamati proses produksi teks digital ini membuka kemungkinan penerapan metode narrative inquiry.

Saya yakin cara yang sama dapat diterapkan oleh para guru di sekolah, terutama di daerah perkotaan di mana siswanya sudah akrab dengan teknologi informasi. Siswa yang lebih dewasa (SMP dan SMA) dapat diajak membuat cerita digital dengan aplikasi yang lebih kompleks. Bagi saya, inti dari digital storytelling adalah agar strategi literasi dapat disesuaikan dengan karakteristik anak sekarang yang lebih tertarik dengan penggunaan teknologi informasi dalam belajar apapun.

Ada yang tertarik melakukannya di kelas/rumah dengan siswa atau anak Anda?

Hore, Literasi resmi menjadi mata kuliah

Minggu pagi yang lalu, saya iseng mengecek email di sela-sela acara bersih-bersih rumah. Eh, ada email dari pak Hartono, sekretaris Prodi Bahasa dan Sastra  Pasca Sarjana Unesa. Tertulis di subject: Jadwal Pasca. Hmm, saya berpikir, apakah semester ini saya diplot mengajar di pasca ya?

Dua semester sebelumnya, nama saya sudah sempat masuk di jadwal S2 Unesa, tapi kemudian tidak jadi. Yang pertama karena saya yang menolak. Belum resmi menyandang Ph.D, apalagi masih proses menunggu hasil penilaian tesis dari para penguji. Rasanya kurang pas kalau tawaran itu saya terima. Semester berikutnya, yakni awal tahun ini, nama saya muncul lagi. Kali ini saya lebih sreg. Status sudah resmi lulus S3, hehe. Tapi kemudian ternyata jadwal saya dibatalkan. Mata kuliah yang sedianya saya ampu adalah non kredit, dan ternyata ada aturan tak tertulis bahwa yang mengampu matkul non kredit ini juga terjadwal di matkul berkredit.

Saya buka file yang dilampirkan pak Hartono. Hati saya seperti melompat membaca nama mata kuliah yang akan saya ampu. Literacy in Education. Horee, akhirnya Literasi resmi menjadi bahan kajian yang terwakili dalam 1 mata kuliah tersendiri. Ada 2 kelas S2 angkatan 2016/2017 yang akan mendapatkan mata kuliah ini di konsentrasi Bahasa dan Sastra Inggris. Setelah saya amati lebih detil, ternyata mata kuliah dengan nama Indonesianya, Literasi dalam Pendidikan juga ditawarkan di konsentrasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Pak Hartono sendiri yang akan mengampunya. Sementara itu di konsentrasi Bahasa Asing, pak Bandi, Wakil Dekan I FBS dipasang sebagai dosen pengampunya.

Keputusan menawarkan mata kuliah Literasi, tidak hanya sebagai bahan kajian yang diselipkan di mata kuliah lain, bagi saya adalah keputusan besar dan strategis. Sudah saatnya Unesa melakukannya. Dalam hal membangun portofolio, Unesa sudah punya deretan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bernuansa literasi dan yang dengan jelas membawa bendera literasi. Portofolio ini sudah dibangun selama kurang lebih 4-5 tahun terakhir. Para pionir dan penggeraknya tidak hanya dari kalangan akademisi di lingkungan kampus Unesa. Para alumni Unesa punya peranan besar dalam membangun citra Unesa sebagai kampus berbasis literasi.

Kalau mau napak tilas, setidaknya ada beberapa kegiatan dengan bendera literasi di mana saya ikut menjadi bagian kecilnya. Yang layak saya sebut antara lain kumpulan alumni Unesa yang tergabung dalam mailing list Keluarga Unesa. Para anggotanya cukup intensif berinteraksi di dunia maya sejak sekitar tahun 2010. Hasil obrolan dan perdebatan tentang berbagai topik, terutama literasi, kemudian menghasilkan buku. Sampai saat ini setidaknya ada 4 buku antologi yang kami hasilkan. Salah satu yang menurut saya dahsyat adalah Boom Literasi (2014). Buku ini menjadi tonggak tekad kami untuk secara sadar mengangkat literasi sebagai salah satu perhatian utama para alumni.

Kiprah para alumni secara individu juga semakin jelas di masyarakat. Ada mas Satria Dharma yang baru saja dinobatkan sebagai inisiator program Literasi di kota Surabaya. Mbak Sirikit Syah sudah malang melintang lewat Literasi (Melek) Media dan Sirikit School of Writing (SSW), sekolah menulisnya. Sahabat-sahabat saya sesama akademisi seperti Prof. Luthfiyah (a.k.a. Ella) dan pak Khoiri selalu menjadi teladan dalam banyak hal, utamanya produktivitas menulis. Pengalaman teman-teman alumni yang menjadi guru seperti Icha dan Ida memperkaya catatan literasi saya. Teman-teman yang berkiprah di dunia jurnalisme dan kepenulisan tidak kalah hebatnya. Ada mas Eko Pras, mas Eko Pamuji, mas Hartoko, mas Rohman, Agung Putu, mas Basir. Ah, saya jadi kangen sahabat saya, Rukin, yang sudah mendahului kami menghadap Yang Kuasa. Kalau saja dia masih ada di antara kita, insya Allah dia akan senang sekali dengan perkembangan literasi sekarang ini.

Selama kurun waktu tahun 2012- pertengahan 2015, ketika teman-teman saya terjun langsung merintis ‘gerakan’ literasi, saya hanya puas membaca reportase mereka di milis. Saya sendiri menikmati dunia literasi melalui pergulatan saya sebagai mahasiswa S3 di the University of Melbourne saat itu. Meneliti praktik literasi para buruh migran Indonesia di Hong Kong membawa saya ke dunia baru yang ternyata amat beririsan dengan dunia sastra dan linguistik yang sudah lebih dulu saya kenal. Jadilah saya menekuni pendekatan literasi dengan paradigma baru yang cukup berbeda dengan pendekatan literasi a la genre-based approach yang sudah lebih dulu saya kenal di dunia pembelajaran Bahasa Inggris. Selain itu, pengalaman saya sebagai ibu dari dua anak yang terpapar pada praktik literasi di dunia persekolahan di Australia juga banyak mewarnai perjalanan literasi saya. Banyak di antara pengalaman itu saya tuliskan di blog ini.

Secara akademis, sepak terjang Unesa di bidang literasi sudah cukup kuat. Ketika saya masih menikmati hidup sebagai mahasiswa di negeri seberang, teman-teman saya di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia sudah rutin menggelar Seminar Literasi. Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang mereka lakukan juga kental sekali warna literasinya. Belum lagi kiprah PPG melalui mahasiswa SM3T. Tiap tahun pengalaman mahasiswa SM3-T mengajar di daerah 3T dibukukan dan menjadi sumber inspirasi banyak orang. Ketika mereka menjadi mahasiswa PPG, kelas literasi juga menjadi bagian dari jadwal kuliah mereka. Saya juga harus menyebut teman-teman saya di FMIPA yang sudah menggarap literasi sains secara intens. Kerja keras teman-teman ini kemudian menjadi benih subur yang mendorong didirikannya Pusat Literasi Unesa pada paruh kedua tahun 2015. PLU yang masih merangkak ini berupaya memperkokoh kontribusi Unesa dalam mengaji dan mengembangkan kajian literasi dalam konteks sekolah, keluarga, dan komunitas.

Jadi itulah mengapa saya seperti anak kecil dapat hadiah mainan baru ketika diminta mengampu mata kuliah Literacy in Education. Buku-buku dan artikel yang selama ini terkumpul dan saya nikmati sendiri akhirnya akan memperoleh sahabat baru. Para mahasiswa S2 angkatan baru. Teman diskusi baru. Hari Senin yang lalu, di hari pertama perkuliahan pasca sarjana, saya sudah memulai perkuliahan. Bertemu dengan wajah-wajah muda nan cerdas seakan menjadi dorongan kuat bagi saya untuk memberikan yang terbaik. Saya juga siap belajar dari mereka. Para pemuda pemudi cemerlang ini pastilah punya perjalanan literasi yang layak diceritakan dan didiskusikan.

Entah kenapa, kalau mengajar mata kuliah apapun, saya tidak bisa menyembunyikan antusiasme saya. Dampaknya memang kadang jadi lupa waktu. Tidak berhenti bila tidak diingatkan mahasiswa. Mungkin karena saya cenderung punya agenda tersembunyi. Memasukkan ide-ide tertentu (yang baik pastinya) atau menyemangati mahasiswa untuk mengeluarkan potensi terbaik mereka. Mudah-mudahan mahasiswa juga membacanya seperti itu (dan bukannya geleng-geleng kepala melihat dosennya terlalu bergairah). Antusiasme sejenis menghangatkan tubuh saya saat mulai mengajar kelas Literasi Senin lalu.

Di kelas Literasi ini, saya menaruh harapan besar kepada para mahasiswa. Karena ini mata kuliah baru, bidang kajian baru dengan pendekatan baru, tentunya saya dan para mahasiswa harus sama-sama belajar. Mereka lulus S1 dari berbagai universitas dengan disiplin yang bervariasi-Literature, Applied Linguistics, dan English Education. Saya sengaja memilih New Literacy Studies sebagai pendekatan karena sifatnya yang interdisipliner dan menekankan pada literasi sebagai praktik sosial. Pendekatan ini akan membuka kemungkinan berbagai disiplin untuk ikut berperan dan memberikan warna. Sastra, Linguistik Terapan, dan Pembelajaran Bahasa Inggris sama-sama punya kepentingan dalam hal literasi.

Literasi sudah mulai menjadi istilah yang seksi. Setidaknya, sekelumit pengetahuan dan pengalaman saya menjadi bagian dari satgas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kemdikbud akan banyak bercerita tentang dinamika literasi di berbagai daerah Saya banyak belajar dari senior saya, Prof. Kisyani, yang menggaet saya masuk dalam lingkaran GLS. Para sahabat sesama anggota satgas GLS juga akan selalu menjadi jujugan tempat saya bertanya.

Banyaknya aktivis dan praktisi yang menggeluti dunia literasi sekarang ini adalah ladang subur untuk dikaji dan ditulis secara ilmiah. Ada banyak data dan informan yang siap digali dan dieksplorasi. Sementara itu, sebagai sebuah kajian, literasi masih belum banyak dikembangkan. Di sisi lain, masyarakat luas dan dunia internasional perlu tahu kiprah bangsa kita. Oleh karena itu saya ingin mengajak mahasiswa saya untuk mendokumentasikan, mencermati, menganalisis, dan menginterpretasi berbagai praktik literasi di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Mudah-mudahan  ide-ide baru dan cemerlang dapat dihasilkan dari tangan-tangan mereka. Ketika ilmu bermuatan semangat perubahan, bukankah kebermanfaatannya dapat diharapkan? Semoga.

Kebraon, 6 September 2016, 23.00

 

Menambah Pasukan Literasi

     Minat utama seorang guru pada dasarnya bisa ditelusuri dari topik-topik yang dibahas dalam kelas mereka. Para dosen biasanya memiliki kebebasan yang cukup lapang dalam menentukan pokok bahasan. Dan saya termasuk orang yang tidak dapat menyembunyikan minat-minat yang suka saya geluti. Sekarang ini, praktis di setiap kesempatan, tema atau kegiatan bernafaskan literasi mewarnai semua kelas yang saya ajar. Entah itu kelas Film Interpretation, Prose Criticism, maupun Poetry. Bahkan mahasiswa bimbingan skripsi juga kena sasaran tembak.
       Satu semester setelah saya kembali mengajar, saya diberi tugas untuk membimbing skripsi lagi seperti dulu. Ada 5 mahasiswi yang tercatat memilih saya menjadi dosen pembimbingnya. Mereka adalah mahasiswi Sastra Inggris 2012. Pastinya mereka belum terlalu mengenal saya, belum tahu bagaimana kebiasaan saya membimbing. Saat mereka mulai kuliah, saya sedang dalam status studi lanjut. Baru semester yang lalu mereka mengenal saya di kelas Film Interpretation yang saya ajar. Bisa jadi mereka memilih saya karena dosen-dosen favorit mereka sudah dikeroyok teman-teman mereka yang lain, hehe.
       Literasi belum menjadi bidang garapan penelitian yang diangkat dalam penelitian berbasis sastra. Wajar juga. Sastra sendiri sebenarnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari literasi. Dengan demikian, menulis analisis atau kritik sastra itu sendiri adalah praktik literasi yang jelas membutuhkan kompetensi tertentu. Namun yang saya bicarakan kali ini adalah mengangkat topik praktik literasi dalam karya sastra.
       Pada pertemuan pertama, saya lihat judul-judul yang diajukan mahasiswa angkatan 2012. Hmm, belum ada hal yang betul-betul baru. Cukup banyak judul yang sebenarnya sudah banyak diangkat oleh mahasiswa angkatan sebelumnya, tapi kali ini karya sastranya beda. Sebenarnya belum jenuh juga, namun sayangnya sudut pandang yang dipilih tidak banyak berubah. Acapkali kerangka teorinya sama persis dengan kakak-kakak kelasnya.
       Ketika saya tawarkan kepada mahasiswa bimbingan untuk mengangkat tema literasi, pertanyaan mereka seragam. “Apa itu ma’am?,” “Bagaimana cara menganalisinya?”, “Wah, nanti lama nulisnya ma’am.” Saya menjawab kegelisahan mereka dengan memberikan beberapa artikel tentang konsep New Literacy Studies dan representasi literasi dalam budaya populer. “Baca dulu artikel-artikel ini, 2 minggu lagi kita ketemu ya.”
      Hasil mengompori 5 mahasiswa untuk menulis tentang literasi berhasil. Mereka beralih topik, tanpa mengubah novel yang sedianya mereka gunakan untuk sumber data. Semoga bukan karena mereka takut atau sungkan pada saya sebagai pembimbingnya, hehe. Tapi sebelum saya menyarankan mereka untuk mempertimbangkan ganti topik, saya memastikan bahwa di dalam novel-novel yang sudah mereka baca dan pilih untuk skripsi, ada cukup ‘bukti’ praktik literasi di dalamnya. Saya cukup yakin tentang ini. Dengan berpijak pada argumen bahwa praktik literasi selalu dapat ditemukan dalam berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari (Barton dan Hamilton 2000), tidak akan terlalu susah melacak apakah para tokoh dalam cerita juga melakoni praktik literasi untuk berbagai tujuan. Dengan kata lain, di setiap karya pasti ada praktik literasi.
       Singkat cerita, setelah berproses selama 2 semester, 3 mahasiswi berhasil menyelesaikan skripsi dan siap diuji pada awal Mei yang lalu. Ketiganya mengangkat representasi literasi. Nur Adyanti (Didin) memilih novel The Book Thief karya Marcus Zusak  untuk membahas literasi dan kekuasaan, Afiyah Maghfiroh menyoroti makna literasi sebagai kekuasaan dan ancaman dalam Harry Potter and the Half-blood Prince karya J.K. Rowling, sementara Dina Octavia mengangkat novel A Tree Grows in Brooklyn karya Betty Smith untuk membahas literasi dan pemberdayaan diri seorang perempuan.
       Saya tahu tidak mudah bagi mereka meyakinkan para penguji bahwa tema literasi yang mereka angkat itu merupakan hal yang penting dan menarik. Terlebih lagi memastikan bahwa interpretasi mereka meyakinkan dan dapat diterima. Namanya juga tema baru yang didekati dengan perspektif baru. Saya salut dengan kegigihan mereka dalam menjawab pertanyaan para penguji. Bahkan pak Khoiri, sahabat saya yang juga menjadi salah satu penguji menyarankan agar mereka bertiga berkolaborasi dan mengubah skripsi mereka menjadi buku. Beliau menawarkan diri untuk memberikan kata pengantar. Tentu saja sebagai pembimbing, saya juga akan menyumbangkan pemikiran saya dalam calon buku yang direncanakan ini. Di luar keberhasilan ini, saya lebih berharap agar mereka mau menjadi bagian dalam gerakan literasi sesuai dengan kapasitas mereka. Dari skripsi, mereka pasti semakin memahami bagaimana literasi memiliki berbagai makna dan mampu mengubah identitas seseorang.
       Masih ada beberapa mahasiswa S1 di prodi Sastra Inggris Unesa yang sedang menyelesaikan skripsinya dengan tema literasi dalam karya sastra. Ada juga mahasiswa S2, Dyah Nugraheni, yang sukses kena ‘kompor’ literasi yang saya nyalakan. Dia sempat praktik mengajar di kelas Prose Criticism saya semester lalu. Saat kelas saya membahas The Great Gatsby karya F.Scotts Fitzgerald, dia tertarik dengan cukup kentalnya praktik literasi dalam keseharian tokoh utama, Jay Gatsby. Saya sempat menyebutkan bahwa belum ada yang mengangkat tema literasi dalam novel ini.  Beberapa waktu kemudian Dyah mengutarakan minatnya untuk mengangkat tema praktik literasi dalam dua novel karya Fitzgerald.
       Membuka trend baru dalam penelitian literasi berarti bahwa perlu ada gambaran topik apa saja yang dapat digarap. Nah buat mereka yang tertarik mengangkat literasi sebagai praktik sosial dengan menggunakan pendekatan New Literacy Studies, masih ada banyak topik yang menunggu untuk dieksplorasi. Karena pendekatan ini sifatnya interdisipliner, berbagai disiplin dapat berkontribusi dalam pengembangan keilmuannya. Pada dasarnya, literasi menjadi salah satu kaki dari ilmu Pembelajaran Bahasa, di mana kedua kaki yang lain adalah Linguistik dan Sastra. Hal ini sudah saya tulis sebelumnya di sini.
       Berikut adalah beberapa payung yang menarik dikembangkan:
  • Representations of literacy in literary works, films and popular culture
  • Literacy practices and social identities
  • Digital literacy in education
  • Literacy and multiculturalism
  • Commercial reading materials and the deskilling of teachers

Ada yang tertarik dengan topik-topik di atas?

Sumber:

Barton & Hamilton. 2000. Situated Literacies: Reading and Writing in Context. London:                            Routledge.

Literasi dan Kapital Budaya

Literasi sudah lama dinilai sebagai salah satu tolok ukur bangsa yang modern. Literasi, baik sebagai sebuah ketrampilan maupun praktik sosial mampu membawa hidup seseorang ke tingkat sosial yang lebih baik. Meminjam teori Bourdieu, pakar sosiologi dari Perancis, kemampuan literasi adalah salah satu contoh kapital budaya yang bisa menjadi alat untuk mengimprovisasi habitus. Kapital budaya bisa dipahami sebagai sarana untuk meraih status sosial budaya tertentu, misalnya gelar akademik, pengetahuan akan sesuatu, ketrampilan, hobi membaca buku, dan selera musik tertentu. Sementara itu, konsep habitus ini bisa dipahami sebagai segala jenis aturan, norma, nilai yang sudah mengakar pada hidup seseorang, sehingga dia otomatis tahu apa yang harus dilakukan. Misalnya saja, seseorang yang merasa habitus kelas sosialnya adalah warga kelas dua, maka tanpa sadar dia akan berlaku selayaknya warga kelas dua. Nurut, pasif, minder, tidak banyak inovasi, waton mlaku. Tentu saja habitus ini bisa diubah (diimprovisasi), asal ada perubahan besar yang ingin dilakukan oleh yang bersangkutan.

Saya akan menghubungkan kedua konsep ini—improvisasi habitus dan kapital budaya—dengan praktik literasi buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong. Kapital budaya dalam praktik literasi BMI bisa diwakili oleh karya-karya mereka yang telah dipublikasi, ketrampilan dan kemampuan yang memungkinkan mereka menghasilkan tulisan, dan juga, untuk sebagai BMI, latar belakang pendidikan mereka. Kapital budaya ini juga bisa dianggap sebagai artefak budaya yang memfasilitasi improvisasi habitus mereka sebagai pembantu rumah tangga menjadi ‘pembantu yang menulis.’

Sebagai contoh, saya ingin menggunakan buku TKW Menulis (2010) yang ditulis oleh Bayu Insani dan Ida Raihan.

TKW Menulis

Mereka berdua adalah BMI-HK yang juga anggota FLP cabang Hong Kong. Bagi Sani, improvisasi habitus yang dilakukannya dimediasi oleh kapital budaya yang dia miliki, dalam bentuk kebiasaan membaca dan keterlibatannya di perpustakaan koper. Dalam pengamatan saya selama ini, ada hubungan erat antara kebiasaan membaca dan kemampuan menulis dalam komunitas BMI penulits. Keterkaitan ini ditunjukkan oleh keberadaan perpustaak koper dan perkembangan menulis para BMI yang berjalan seiring. Bagi Sani dan Ida, buku mereka, TKW Menulis, adalah manifestasi proses perkembangan kapital literasi mereka. Dalam tesis saya, saya mengajukan sebuah definisi untuk istilah kapital literasi, yang saya maknai sebagai gabungan antara beberapa jenis kapital (budaya, sosial, ekonomi, simbolis) yang saling berpengaruh melalui literasi sebagai katalisator.

Kapital literasi inilah yang mendorong Sani untuk semakin mengembangkan kemampuan menulis. Sebelum tertarik pada dunia kepenulisan, Sani menggambarkan dirinya sebagai seorang BMI yang minder dan pemalu. Meskipun begitu, hobi membacanya tersalurkan melalui kunjungannya secara rutin ke berbagai perpustakaan koper.  Seringkali ia juga menghabiskan waktu liburnya di Perpustakaan Pusat Hong Kong, yang berada di seberang Victoria Park, tempat berkumpulnya para BMI di hari Minggu. Keberadaan perpustakaan-perpustakaan inilah yang menjadikan hobi membaca Sani tetap terjaga.

Kunjungan rutin Sani ke perpustakaan koper membuka jalan berkembangnya kapital budaya yang baru. Sani kemudian berubah peran menjadi penjual buku, dengan teman sesame BMI sebagai pelanggan setianya. Pengetahuannya yang luas tentang buku-buku yang ia jual (karena ia juga membacanya) mendongkrak kemampuannya dalam memasarkan jualannya di komunitas BMI-HK. Sani tahu buku atau novel mana yang sedang naik daun dan laris penjualannya.

Popularitas novel-novel Islami di kalangan BMI-HK mendorong rasa ingin tahu Sani. Apa sebenarnya kunci untuk menjadi penulis yang sukses. Salah satu novelis yang karyanya disukai BMI-HK adalah Taufiqurrahman, penulis …Sani kemudian melakukan korespondensi dengan Taufiqurrahman. Dari komunikasi inilah, ketika sang penulis kemudian diundang ke Hong Kong, Sani memperolah tips menulis. Titik perubahan semakin nyata, ketika Sani memberanikan diri untuk menulis, mengirimkannya ke Taufiqurrahman untuk dikomentari, dan juga ke media local berbahasa Indonesia di Hong Kong.  Ketertarikan Sani terhadap dunia kepenulisan mendapatkan wadahnya ketika dia kemudian bergabung dengan FLP-HK.

Bila ketertarikan Sani terhadap dunia kepenulisan dipicu pertemuan dan interaksinya dengan penulis ternama dari tanah ai, Ida meniti jalan yang sedikit berbeda. Kesadaran Ida untuk berubah tergugah ketika ia membaca koran lokal, yang memberitakan tentang sekelompok penulis BMI yang baru saja menerbitkan buku berjudul Hong Kong, Namaku Peri Cinta (2005). Antologi ini adalah karya pertama FLP-HK, sejak komunitas ini berdiri pada tahun 2004. Buku ini mengingatkan Ida kepada hobi menulisnya yang sudah lama terkubur. Dalam pikiran Ida, para BMI yang tercantum dalam antologi itu menghuni sebuah komunitas imajiner yang lama dia impikan. Benedict Anderson (2006) menggunakan istilah imagined community untuk menjelaskan adanya sebuah komunitas, di mana para anggotanya tidak saling kenal, tidak pernah ketemu, dan bahkan tidak pernah mendengar namanya, namun ada rasa bahwa mereka memiliki visi, misi, dan impian yang sama. Merasa menjadi bagian dari komunitas ini—BMI yang bisa menulis—Ida dibangunkan oleh keberhasilan BMI yang sudah berhasil menulis. Maka Idapun termotivasi untuk mengikuti jejak mereka. Dalam pikiran Ida timbul banyak pertanyaan: “Siapa Wina Karnie dan teman-temannya? Apa yang dia lakukan di Hong Kong? Bagaimana dia bisa menulis dan menerbitkan buku? Di mana aku bisa menemuinya?”

‘Pertemuan’ Ida dengan antologi Hong Kong, Namaku Peri Cinta (yang mewakili FLP-HK) menunjukkan bahwa kapital literasi yang dimiliki orang lain bisa memberikan dampak kepada orang lain yang menghargai pentingnya literasi. Sebagaimana yang dikemukakan Allan Luke (2008), nilai yang diberikan terhadap sebuah kapital oleh sekelompok masyarakat menentukan apakah kapital itu memang dianggap sebagai kapital. Persepsi Sani dan Ida tentang pentingnya literasi mempengaruhi cara mereka merespon kapital literasi yang dimiliki oleh orang lain. Popularitas penulis Islami seperti Habiburrahman El Shirazy dan Taufiqqurahman, dan juga antologi yang diterbitkan oleh FLP-HK dinilai Sani dan Ida sebagai kapital literasi. Kapital ini memotivasi meraka untuk kemudian terjun langsung ke praktik literasi.

Keinginan untuk mengembangkan kemampuan menulis ini tentunya juga didorong oleh adanya motif lain, yakni menulis sebagai profesi yang menjanjikan keuntungan finansial. Di sini literasi bergeser maknanya menjadi kapital ekonomi. Saya akan ulas hal ini di tulisan berikutnya.

SSR Going to Campus

Saya suka gemes mengetahui bahwa mahasiswa di kelas-kelas yang saya ajar tidak/belum banyak baca buku. Baik itu  buku sastra maupun populer. Fakta ini muncul saat kelas kami sedang membahas sebuah topik. Saya sering bertanya kepada mahasiswa saya: “Have you read any writing by such and such? Jawaban yang saya dapat seringkali berupa gelengan kepala, atau pertanyaan balik, “siapa itu ma’am?

Berkutat dengan literasi selama beberapa tahun terakhir membuat saya ingin menularkan virus pentingnya membaca dan menulis dalam kehidupan sehari-hari kepada setiap orang yang saya temui. Karena yang paling sering berinteraksi dengan saya adalah mahasiswa, maka mereka menjadi ‘sasaran empuk’ saya.

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya di blog ini, saya sudah mengulas cukup detil tentang pentingnya Sustained Silent Reading (SSR) di sekolah. Di tiap kesempatan di mana saya berbicara di depan forum, SSR tidak pernah luput dari presentasi saya. Tentu saja saya juga harus punya komitmen ketika menegaskan bahwa modeling adalah kunci keberhasilan SSR.

Sebenarnya SSR bukan barang baru di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Unesa. Kami memiliki program yang kami sebut sebagai Independent Reading (IR), yang menjadi bagian integral dari Integrated Intensive Course untuk mahasiswa baru. Dalam IR ini, mahasiswa ditugasi membaca simplified novels minimal 6 judul selama 1 semester. Hanya saja, program ini dilakukan seminggu sekali, dan hanya berlangsung selama 1 semester. Dengan demikian dampaknya terhadap minat membaca mahasiswa belum terlihat, dan belum pernah kami kaji secara ilmiah juga.

Di keluarga saya sendiri, saya sudah lama melakukan SSR di rumah dengan kedua anak saya. Setelah melakukannya selama beberapa tahun sejak kami masih di Melbourne, sekarang kami tidak lagi terlalu sering menyisihkan waktu khusus untuk SSR di rumah. Anak-anak sudah terbiasa menghadirkan buku dalam kegiatan sehari-harinya. Ganta, misalnya, lebih banyak membaca buku (dan nonton film via streaming) bila berada di rumah. Adzra juga sibuk menghabiskan koleksi komik KKPK di perpustakaan sekolah untuk dipinjam. Kemampuan bahasa Indonesianya meningkat tajam sejak beralih membaca buku-buku cerita dalam Bahasa Indonesia. Sekarang ini, setiap kami mau pergi, saya perhatikan anak-anak sudah terbiasa nyangking buku. Entah sempat dibaca atau tidak, yang penting rutinitas sudah terbentuk, sebagaimana kebiasaan saya untuk selalu menyelipkan buku di dalam tas kemanapun saya pergi. Bertolak dari pengalaman pribadi ini, saya ingin membawanya ke kelas saya. Sekaligus untuk mempraktikkan gagasan-gagasan literasi yang selama ini saya tuangkan di banyak kesempatan.

Nah, sekarang giliran mahasiswa saya yang jadi sasaran SSR. Di salah satu kelas yang saya ajar semester ini, Poetry Appreciation, Sastra Inggris angkatan 2014, saya bertemu dengan mereka 2 kali seminggu. Kesempatan yang pas untuk memulai SSR. Maka saya  menyampaikan program 15 menit membaca di awal pertemuan. Saya minta mahasiswa membawa buku apapun yang mereka suka dan ingin baca. Novel, komik, majalah, buku populer. Tebal atau tipis. Pokoknya sembarang. Yang penting dalam bahasa Inggris. Namanya juga di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, jadi harus ada kekhasannya. Saya juga sampaikan bahwa saya juga akan duduk manis dan melakukan hal yang sama. Tidak ada tugas apa-apa untuk kegiatan ini, selain membaca itu sendiri.

Di pertemuan kedua, ketika saya sudah siap dengan materi kuliah dan buku bacaan di tangan, saya harap-harap cemas. Apakah mahasiswa ingat dengan tugas membawa buku. Ternyata semuanya sudah siap dengan buku di tangan masing-masing. A very good start!

Tanpa banyak penjelasan, saya langsung set waktu. Okay, time for SSR!

 

Tak perlu waktu lama, sekitar 40 mahasiswa  di kelas sudah tenggelam dengan buku masing-masing. Saya lirik sekilas. Kebanyakan pegang novel populer. Di baris belakang ada yang sedang tenggelam dalam komiknya. Ada juga yang bawa majalah National Geographic. Dan ada pula yang bawa buku bacaan anak-anak. Tidak apa. Yang penting mereka sudah mulai bersentuhan dengan buku di luar perkuliahan. Saya sendiri memanfaatkan kesempatan ini untuk membaca kembali A Thousand Splendid Suns oleh Khaled Hosseini. Novel ini sudah lama bertengger di rak buku saya, hasil berburu buku bekas di Melbourne dulu. Namun saya belum sempat menyelesaikannya. Saya putuskan membaca dari awal lagi. Siapa tahu dapat perspektif baru.

Sampai hari Jumat kemarin, kami sudah melaksanakan SSR sebanyak 3 kali. Novel di tangan saya juga sudah berganti, yakni The Namesake oleh Jhumpa Lahiri. Sesaat sebelum mengawali kuliah, saya sempat bertanya ke mahasiswa tentang respon mereka terhadap SSR. Apakah ada pertanyaan atau kesulitan, atau bahkan keberatan. Mayoritas menikmati kegiatan ini. Tidak ada tuntutan apa-apa membuat mereka merasa bebas membaca apa saja.

Tentu saja SSR akan menjadi lebih bermakna bila ada keterkaitan antara buku yang dibaca dengan kehidupan kita. Nah, saya menggunakan kesempatan beberapa menit untuk mengulas sedikit novel The Namesake. Saya memang sengaja membaca novel ini, karena muatan praktik literasinya amat kental. Tokoh utamanya, Ashoke, adalah mahasiswa PhD di bidang Engineering di MIT di Boston, namun dia sudah membaca novel-novel klasik sejak masih di bangku sekolah. Ashoke adalah seorang pembaca yang akut. Baginya, membaca buku bisa membawanya keliling dunia hanya dengan membuka halaman demi halaman. Sampai akhirnya Ashoke bertemu dengan seseorang yang mendorongnya untuk pergi ke tempat lain, keluar dari India, semampang masih muda dan belum terikat apa-apa. “You will not regret it. Someday it will be too late,” begitu kata temannya. Dorongan untuk melihat dunia luar inilah yang kemudian memperkaya The Namesake dengan isu-isu diaspora, kesenjangan antargenerasi, dan konflik budaya India dan Amerika.

Menariknya isu di atas mendorong saya untuk melakukan Reading Aloud sebagai tindak lanjut dari SSR. Saya bacakan beberapa paragraf dari novel itu di depan mahasiswa untuk membawa mereka pada nuansa cerita. Sekalian memberikan contoh kepada mereka bila suatu saat nanti saya meminta mereka untuk berbagi isi buku yang mereka baca.

Berapa menit waktu yang kami habiskan untuk semua itu? Tidak lebih dari 20 menit. 15 menit untuk membaca, dan 5 menit untuk respon kilat. Untuk respon inipun tidak perlu dilakukan setiap kali SSR berlangsung. Cukup 2 minggu sekali. Begitu usai, kuliah langsung bisa dimulai.

Apa sebenarnya manfaat dari SSR yang saya rasakan? Saya mengulas novel sekilas, padahal kuliah yang saya ajarkan adalah Poetry Appreciation. Namun buat seorang dalang, selalu ada ruang untuk mengaitkan dua hal yang kelihatannya berbeda. Kata-kata indah atau simbolis di dalam novel bisa menjadi pengantar untuk masuk ke topik bahasan puisi yang memang banyak diwarnai penggunaan diksi yang simbolis.

Yang tak kalah pentingnya, dengan membaca dalam suasana tenang dan rileks sebelum kuliah dimulai, sebenarnya saya sedang mengajak mahasiswa untuk melakukan warming up, mempersiapkan diri secara mental untuk memulai perkuliahan. Mungkin saya kehilangan waktu 15 menit untuk SSR, namun dampak psikologis yang positif justru memberikan kontribusi terhadap kelancaran perkuliahan. Masih perlu waktu yang cukup lama untuk melihat dampak yang signifikan dari SSR ini. Namun kami sudah mengawalinya dengan cukup baik.

Lain kali saya juga ingin menuliskan pengalaman teman-teman dosen di jurusan kami. Saya bukanlah orang pertama yang melakukan ini. Ada pak Slamet Setiawan yang sudah pernah mempraktikkannya tahun lalu. Dan di semester ini juga, ada 10 dosen di jurusan kami yang sedang terlibat dalam program English Course untuk mahasiswa FMIPA-Unesa angkatan 2015. Kami sengaja memasukkan unsur SSR di lima kelas yang diampu. Saya kira akan menarik sekali mencatat dan mengkaji respon mahasiswa non-bahasa terhadap SSR. Menghadirkan rasa humaniora di kelas sains akan menjadi gebrakan yang luar biasa.

Tunggu laporan berikutnya ya!

EMAIL BODONG

Apakah Anda pernah menerima kiriman file lewat email tanpa pesan dari seorang teman/siswa/mahasiswa? Email tanpa tulisan apa-apa, kecuali file yang disertakan. Bahkan kadangkala email tersebut tanpa ‘subject.’ Email bodong, kalua saya boleh menyebutnya demikian.

Semester ini saya sudah mulai aktif mengajar di jurusan. Saya mengampu beberapa mata kuliah di prodi S-1 Sastra Inggris. Dalam beberapa kali tugas, saya meminta mahasiswa untuk mengirimkan tugasnya melalui email. Maksud saya supaya hemat kertas, dan saya bisa memeriksa tugas mahasiswa di mana saja saat ada waktu senggang.

Namun kemudian saya cukup terkejut ketika mayoritas mahasiswa mengirimkan email bodong untuk menyetorkan tugasnya. Praktis hanya satu mahasiswa yang menuliskan satu kalimat: “This is my interpretation of key elements inside American Sniper the movie. I hope my writing is acceptable, ma’am. Hehe.”

Saya apresiasi upayanya menuliskan kalimat ini, meskipun tanpa ada pembukaan “dear ….”

Di satu sisi, saya tidak habis pikir. Bagaimana mungkin mahasiswa tahun terakhir belum memahami etika menulis email dengan baik? Di sisi lain, banyaknya mahasiswa yang melakukan hal yang sama bisa jadi menunjukkan adanya persepsi tertentu tentang penulisan email. Rasanya tidak mungkin mereka tidak tahu cara menulis email, apalagi saya yakin mereka sudah pernah mengambil mata kuliah Business Letters atau Business Correspondence di semester sebelumnya.

Saya putuskan bahwa saya mengambil satu tindakan untuk mengatasi hal ini. Saya membalas semua email mahasiswa dengan ucapan terima kasih yang singkat dan standard. “Dear …, thanks for this,” atau “Dear …, thank you. I look forward to reading it.”

Beberapa hari kemudian di kelas, saya membuka obrolan dengan sekali lagi mengucapkan terima kasih atas penyerahan tugas yang tepat waktu. Dan mulailah saya bercerita. Kira-kira begini padanannya dalam bahasa Indonesia:

Tahu nggak, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menulis email ke seorang dosen pembimbing/pengajar mata kuliah? Mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri suka ‘stress’ saat harus mengirim email ke dosen atau supervisornya. Padahal ‘kewajiban’ kirim email ini harus sering dan rutin dilakukan. Entah berapa menit (dan bahkan jam) harus disisihkan untuk sekedar menuliskan “Dear …, I’m writing this email to let you know that bla bla bla. Kalimat yang sudah ditulis acapkali dihapus lagi. Diganti dengan kalimat lain. Kalau dirasa masih kurang detil, ya ditambahi lagi. Dihapus lagi. Kadang setengah hari habis hanya untuk memastikan apakah emailnya sudah cukup ‘bunyi.’ Dan yang jelas, cukup sopan dan menggunakan bahasa Inggris yang baik dan benar. Memencet icon ‘send’ bisa bolak-balik ditunda gara-gara khawatir emailnya belum ‘pantas.’ Nah begitu email terkirim, jawaban dari supervisor mungkin hanya 1-2 kalimat amat pendek. Menariknya, ternyata mahasiswa lokalpun bisa mengalami hal yang sama.

PhD comic ini barangkali bisa mewakilinya:

PHD COMIC

Mahasiswa di kelas saya ketawa mendengar cerita ini. Tapi dari raut muka mereka, saya rasa mereka belum ‘ngeh’ apa maksud saya menceritakan pengalaman ini. Lalu saya teruskan:

Nah, tadi malam saya ngecek email saya,. Terima kasih ya, sudah saya jawab semua juga. Cuma kok email Anda tidak ada tulisan apa-apa ya. Saya rada bingung apa gerangan isi file Anda. Jadi saya harus mengunduh file-file kiriman tugas Anda semua dulu.

Saya diam. Berhenti bicara. Sambil tersenyum, saya pandang mahasiswa satu-persatu. Mereka mulai tersipu-sipu. Ada yang nyengir mengiyakan. Satu-satunya mahasiswa yang mengirim email dengan pesan menampakkan wajah yang lega yang menyiratkan kebanggaan diri.

“Saya tidak marah lho ya. Cuma heran saja. Tidak biasanya saya terima email tanpa isi. Kalau boleh tahu, kira-kira kenapa sih, Anda kirim email tanpa pesan. Ingat lho ya, saya ndak marah. Cuma pingin dengar saja alasannya.”

Satu mahasiswapun menjawab: “We wrote emails like that to all lecturers, Ma’am.”

Saya: Oh, I see. But why? I need to know.

Mahasiswa lain menimpali: Takut dikira caper Ma’am. Kalau nulis email terus ada isinya, apalagi kalimatnya sopan dan panjang, nanti dianggap gimana gitu. Kayak minta nilai bagus.

This is really interesting. Saya tidak menduga mahasiswa bisa memiliki persepsi begitu tentang etika menulis email.

Mahasiswa lain memberikan jawaban berbeda: “We just don’t know what to write in the email, Ma’am. Ya sudah, kirim file saja.”

Sontak sebagian mahasiswa mengiyakan. Nampaknya ini yang lebih umum. Dan sayangnya, memprihatinkan.

Di jaman serba digital dan instan sekarang ini, entah berapa banyak media yang kita pakai untuk berkomunikasi dengan orang lain. Saking cepat dan banyaknya email dan pesan yang lalu lalang di berbagai gadget kita, orang semakin tidak menyadari aturan main dalam berinteraksi di dunia maya (Padahal dunia ini sudah membuat kita gampang lupa dengan cara berkomunikasi di dunia nyata).

Menulis email atau pesan singkat dengan baik itu penting. Apalagi bila ada attachment, gambar atau tautan ke situs tertentu yang disertakan. Saya mau katakan bahwa ini adalah contoh literasi (bukan karena saya lagi gencar promosi pentingnya literasi). Email atau pesan itu sendiri adalah contoh dari teks fungsional, yang juga punya pakem tertentu. Bisa jadi bervariasinya jawaban mahasiswa saya di atas adalah karena mereka belum paham fungsi teks untuk berbagai tujuan komunikasi sosial, meski mereka sudah pernah diajarkan di kelas.

Mereka bukannya tidak tahu bahwa email itu perlu ada elemen ‘sapaan, badan email, penutup, dan salam. Mereka pasti sudah belajar menulis email dengan baik di mata kuliah Business Letters. Lalu mengapa mereka tidak menggunakan pakem itu saat menulis email kepada para dosennya?

Jadi sebenarnya literasi itu bukan hanya masalah kompetensi kognitif saja, namun juga sosiokultural. Mau diajari berbagai jenis teks/genre, kalau tidak terbiasa membaca (apalagi menghasilkan) teks seperti itu di kehidupan sehari-hari, maka literasi belum bisa terinternalisasi.

Okay, jadi sekarang butuh pembiasaan. Dan untuk itu, harus ada ‘pihak’ yang menyadarkan pentingnya pembiasaan. Maka saya minta mahasiswa untuk membiasakan menulis email sesuai pakemnya, sesingkat apapun isinya. “Lain kali kalau Anda kirim tugas lagi, saya akan dengan senang hati membaca pesan Anda.”

Yes, Ma’am,” serentak mahasiswa saya menjawab, sambil senyam-senyum menahan rasa malu mereka.

Dan nampaknya sentilan saya menunjukkan hasilnya. Di tugas berikutnya, tak satupun mahasiswa mengirimkan email bodong. Rata-rata emailnya jadi manis. Seperti yang satu ini:

Dear Mrs. Pratiwi

I have resent my third assignment for Film Interpretation class because I forgot to write the title of the movie. The movie is 2010 American movie titled For Colored Girls. I deeply apologize for being late and for the inconveniences.

Thank you,

……

Saya tersenyum puas. Ini perkembangan yang sangat baik. Sebuah perilaku yang kurang berterima bisa diluruskan tanpa harus lewat ‘ngomel’ atau marah-marah di kelas. Saya percaya mereka menulis email dengan lebih baik karena kesadaran diri. Bukan karena disuruh bu Pratiwi. Ke dosen lain, saya yakin mereka juga akan melakukan hal yang sama.

Saat saya menikmati rasa lega ini, ada email baru masuk. Kiriman dari mahasiswa nampaknya. Dari kelas lain, karena di situ ada file tugas mata kuliah berbeda yang disertakan. Email bodong.

Hmm, kelas lain menanti untuk disentil kesadarannya.

 

Kebraon, 27 November 2015, 05.00 wib

 

 

 

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑