Ketika Diprotes Ponakan

Radit, ponakan saya, baru berusia 3 tahun. Dia adalah anak sulung Iin, adik perempuan saya yang keempat. Saya amati, beberapa kali Radit melihat saya datang ke rumah Ngagel, senyumnya langsung mengembang.

Biasanya Radit langsung lari ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian dia akan menyodorkan buku. “Ayo budhe, baca buku cerita.”

Saya masih ingat ketika saya baru pulang ke tanah air di awal Agustus yang lalu. Saya mendekati Radit dan adiknya, Kiki. Kedua ponakan saya ini tentunya belum punya memori sedikitpun tentang budhe-nya. Maklum, saya melihat Radit pertama kali di awal 2013, dia masih belum genap 1 tahun. Itu saat saya pulang ke tanah air untuk melakukan penelitian lapangan. Sedangkan Kiki, adiknya, malah belum pernah ketemu budhe-nya sama sekali. Bahkan dia lahir saat mbah Kung dan mbah Uti-nya berada di Melbourne di akhir 2013, menengok saya dan keluarga selama 3 bulan.

Radit dan Kiki
Radit dan Kiki

Karena dua ponakan saya ini masih belum kenal budhe-nya, maka saya berupaya mendekati. Mengajak ngobrol. Bernyanyi lagu-lagu yang Radit kenal di sekolahnya di PAUD Ngagel Rejo. Saya coba kenalkan lagu-lagu anak dalam bahasa Inggris kesukaan Adzra. Eh, tak dinyana, Radit malah jadi bete: “Nggak mau lagu itu.” Saya coba ganti lagu. Dia tetap gak mau didekati. Jual mahal sama budhe-nya.

‘Ya sudah, budhe mau baca buku cerita saja,” ujar saya, seraya mengambil salah satu buku Radit. Koleksi buku cerita Adzra yang sudah tidak terpakai lagi memang sudah berpindah  lokasi. Dari Kebraon dan Melbourne ke Ngagel.  Jadi saya masih hafal buku-buku Adzra yang sekarang menjadi koleksi Radit.

“Nggak boleh, ini punyaku,” protes Radit, mempertahankan bukunya.

Budhe pinjam ya, nanti budhe bacakan cerita buat Radit,” rayu saya.

Radit masih manyun, tapi membiarkan saya membuka-buka bukunya. Beberapa bukunya saja jejer. ‘Radit suka yang mana?’

“Aku suka Thomas,” jawabnya. Nada suaranya masih setengah ketus.

“Okay, budhe bacakan cerita tentang pak Fat Controller ya. Saya buka buku cerita seri Thomas yang berjudul The Fat Controller. Maka mulai saya bergaya seperti tukang dongeng. Sambil menterjermahkan isi buku itu dengan bahasa sederhana, menunjukkan gambar, dan mengolah cerita dengan gaya saya sendiri.

Saya amati Radit mulai mendekat ke sisi kanan saya. Dia menempelkan tubuhnya ke lengan saya, dan seksama mendengarkan saya berceloteh. Dalam hati saya tersenyum. Setengah takjub dengan cepatnya pengaruh buku cerita ke emosi Radit.

Sampai di tengah-tengah cerita, Radit nyeletuk: “bacakan ini lagi budhe,”  seraya membalik buku ke halaman yang dia ingin saya bacakan kembali. Itu halaman di mana saya berpura-pura menjadi pak Fat Controller yang sedang ngomel pada Thomas dan kawan-kawannya, karena mereka kurang rajin dalam bekerja. Entah berapa kali Radit meminta saya mengulang halaman itu. Tapi saya lihat dia selalu cekikikan mendengarnya.

‘Sudah ya, ganti buku yang lain,” kata saya. Raditpun bergegas ke kotak bukunya. Membongkar isinya, dan mencari-cari buku lain yang dia ingin saya bacakan.

Radit seperti tak bosan mendengarkan saya bercerita. Sampai kemudian saya merasa mengantuk. Saya rebahan di kasur. Mencoba terlelap sebentar.

Budhe, ojok tidur ta. Ayo baca lagi.” Semua yang di rumah ngakak mendengarnya.

Budhe capek, Dit. Nanti saja baca lagi,” kata mbah Utinya.

Tapi namanya anak, kalau sudah punya keinginan, ya terus minta dituruti. Dan saya mengalah, meneruskan mendongeng.

Begitulah seterusnya. Sejak itu, setiap kali ada saya, Radit cenderung meminta perhatian. Minta dibacakan cerita. Dia juga suka bercerita tentang hal-hal yang menurutnya menarik. Misalnya bagaimana bunyi kereta yang dia lihat pada sore hari di persimpangan kereta Ngagel.  Radit memang suka meminta mbah Kung-nya mengajak dia naik sepeda motor, melihat kereta lewat di sore hari. Jadi dia hafal jam berapa kereta Sancaka atau Argo Wilis lewat. Tak heran tumbuh kecintaannya pada cerita Thomas.

Bila saya kelihatan tidak terlalu memberikan perhatian pada ocehannya, dan beralih ke obrolan dengan orang-orang yang lebih dewasa, maka Radit akan langsung ngambek. ‘Gak suka budhe.” Atau saya langsung dipukuli.  Wajahnya tertekuk, cemberut berat.

Saya heran juga. Bagaimana Radit seperti tiba-tiba ingin saya  memberikan perhatian penuh. Padahal Mamanya juga suka membacakan dongeng untuknya. Saya tahu itu, karena Radit bisa dengan lancar menimpali pertanyaan-pertanyaan saya tentang buku yang sedang saya bacakan.

Seperti tadi pagi, ketika saya datang lagi ke Ngagel. Eric, papa Radit, baru saja kecelakaan. Terjatuh dari sepeda motor karena disalip pengendara sepeda motor lain. Begitu saya muncul dari balik pagar, Radit langsung menyambut saya dengan buku Thomas yang lain. Saya ingat menitipkan buku itu ke mbah Kung. Sekarang saya ingin mendengar apakah Radit sudah tahu isinya.

Dengan sigap Radit langsung nempel di sisi saya. Meminta saya membacakan buku tentang Harold si helikopter yang merasa lebih cepat daripada Percy si kereta uap. Dari ocehannya saat menimpali cerita yang saya bacakan, saya tahu bahwa mamanya sudah lebih dulu membacakannya.

Usai satu buku, Radit mengambil buku yang lain. Masih buku tentang kereta api. Kali ini buku yang saya belikan saat saya mengajak para ponakan ke toko buku Uranus beberapa waktu yang lalu. Maunya Radit, saya terus diminta membaca. Tapi saya pamit Radit: “Budhe ke pasar dulu ya. Mau belanja sebentar saja.”

Setengah jam kemudian, saat saya balik ke rumah Ngagel dengan menenteng belanjaan, mamanya bilang: “Radit protes, budhe kenapa ke pasar? Aku mau baca buku.” Kebetulan saat itu nenek Radit dari Papanya sedang menjenguk juga. Emak, begitu Radit memanggilnya, sampai heran: “lha budhe ke pasar kok gak boleh.” Tapi saya ketawa saja.

Saya bergegas menaruh belanjaan di dapur, dan mengajaknya meneruskan membaca buku berikutnya. Adzra dan Radit berada di sisi kiri dan kanan saya. Dan di sela-sela kami menikmati buku, saya lihat wajah Radit yang ceria dengan berbagai celotehannya tentang kereta. Di sela-sela ocehannya, tiba-tiba Radit mendekati  saya, mencium pipi kanan saya. Lha kok saya jadi terharu.

Punya ponakan yang menjadi lekat karena hadirnya buku sebagai perekat menjadi tantangan juga. “Budhe di sini saja, nginep. Budhe jangan pulang,” pintanya dengan suara memelas. Semua mencoba merayu. “Minggu depan ketemu lagi ya, kan mbak Adzra mau ulang tahun. Nanti kita buat acara baca buku cerita.”

Sejenak wajahnya bersinar, tapi kemudian meminta lagi: “Budhe di sini saja.”

Di depan pagar rumah, saat kami siap-siap mau pulang, Adzra membujuk Radit: “nanti kita buat kue dari kereta.”

“Aku nggak mau kue kereta. Aku mau baca cerita saja.” protes Radit, sambil sembunyi di gendongan mamanya.

Radit masih mau mencium tangan saya saat saya pamit. Tapi ketika Ganta mengulurkan tangannya, Radit malah memukulinya. Dia kira, mas Ganta-lah penyebab budhe-nya harus pulang.

Sambil saya berjalan menuju mobil dengan Adzra dan Ganta, lamat-lamat saya mendengar rengekan Radit. “Budhe gak boleh pulang.”

Advertisements

Seeing is Believing

Sometimes you just need to do it yourself to know that something that is seemingly impossible actually works. This was my impression when I received some images that Ustadzah Risa and Ustadzah Lu’il posted in a whatsapp group of parents. Risa and Lu’il (to use their nicknames only), are Adzra’s teachers at 2 C at SDIT At-Taqwa, Babadan Mukti, Surabaya.

When I talked to Ustadzah Khoyr, the school principal, whether the school would be interested in listening to me talk about best practices in literacy program at Australian schools, she welcomed me warmly. Ust. Khoyr is not a new person to me. She was Ganta’s teacher 15 years ago, when Ganta was still in Kindergarten at TK Al-Hikmah Kebraon, Surabaya.

I positioned myself as a parent, who happens to know a bit about theories and practices related to literacy. Having done a research on community literacy and been a volunteer at Moreland Primary School, I tried to find any way possible to contribute to my kid’s new school. To give hope to the Indonesian education, if you want to call it that way. This may sound cliche, but I have confidence that I know what works and what may not work.

Sustained Silent Reading (SSR) has so far been by favourite. I know it works because it’s been done successfully for many many years in developed countries. Just go google to make yourself convinced. More importantly, I believe it’s doable because I’ve done it with Ganta and Adzra. I can see throughout the years (believe me, it takes a whole lot of patience and perseverance!) what changes and progress have happened to them (and me, too!). Not to mention that my husband is now (and has always been) a big supporter of literacy time.

When I shared about SSR with the school teachers last Saturday, I was surprised by the enthusiasm and success stories that some teachers shared. It turned out that At-Taqwa had had a similar program before. The so-called Moco Sareng Sareng (MSS; I like the term!) sounds parallel to SSR, although a close observation of how it was conducted was not really made. Even so, the teacher said that it left a long-lasting effect to the students at the time MSS was carried out.

There were also some other shared classroom experiences, such as Drop Everything and Read (DEAR) and Read-Write. Some teachers also raised concerns like whether students will benefit from the textbooks based on Kurikulum 2013 and how to connect home and school environment. I have written some posts on these issues in this blog. For example, Literacraft can be an answer to challenges in the implementation of Kurikulum 2013.

I can sense that the academic environment at At-Taqwa has great potential for literacy programs to develop. Its library, young and energetic teachers and staff, sufficient infrastructure, and for sure a good leadership. All are characteristics of a literacy-oriented school. And class 2C did not want to wait too long to start its reading program. The two teachers decided to use some amount of time remaining after the Qur’anic reading time to do free voluntary reading. From Adzra, I knew that the kids were taken to library at recess time to pick any books they liked. They were then given time to read the book of their choice after the Qur’anic reading time. What a smart move!

It was even a great thing to hear when the teacher said that some students could finish 2 books at one sitting. Subhanallah! I can already sense amazing things happening in this class (and the whole school, not for long!)

Reading record
Reading record
Readers
Good readers are as busy as bees

IMG-20150901-WA0027      IMG-20150901-WA0024

IMG-20150901-WA0012      IMG-20150901-WA0030

IMG-20150901-WA0018          IMG-20150901-WA0023

Looking at the above pictures and seeing our children lost in their books, there’s no reason for us parents not to believe that kids are avid readers in the making. The key is with us. We can’t stop at just providing books and giving them space. We need to do what we are supposed to do, to become role models, to make ourselves good readers too.

Thank you Ustadzah Risa and Ustadzah Lu’il, for making it happen!

Photos courtesy of 2 C teachers.

2015 Reading Challenge

Talking about my 2015 Reading Challenge, I just checked my Goodreads account and was reminded that I actually set 50 books to read this year. By reading challenge, I mean reading ‘from cover to cover.’ For me, the challenge is that I tend to read partially, taking chapters I need, especially when it comes to academic reading. Looking at the number, I was tempted to say that I had nailed it, only to realise that those are academic books that I may have read only by chapters.

That’s not the idea of Reading Challenge (at least for me). With popular books or even novels, the drive to not put down the book until I reach the last page is always there. While I read on everyday basis, the thing is I have been so much preoccupied with my thesis that I haven’t had time to read for a recreational purpose.

So, to combine my still ongoing thesis on literacy and the need to relax, I took out this book from my bookshelf: Creating Room to Read: A Story of Hope in the Battle for Global Literacy by John Wood. I bought this book about 2 months ago at a bookstore on Sydney Rd, Brunswick, with an idea that this book will give me insights to do social activism in literacy. Yet, I haven’t been able to continue further than Chapter 1 due to time constraints.

To mark the meaning of Indonesia’s 70th Independence Day as freedom from literacy crisis, this is the reading challenge I set. Reading Creating Room to Read from cover to cover until tomorrow.

Creating room to read

What’s your Independence Day Reading Challenge?

Membumikan Kaki

Bergulat dengan buku dan artikel serius, yang membuat kening berkerut, entah berapa bulan berturut-turut, membuat otak saya buntu juga. Capek je. Ini tesis pingin ndang rampung saja (memangnya setelah itu berhenti baca yang serius ta?).

Adanya mbah Kung-nya Adzra, bapak saya, menemani kami di Melbourne sejak tiga minggu yang lalu, ternyata menjadi katalisator buat pikiran yang sudah ter-kooptasi oleh kumpulan teori literasi, modernitas, kapital budaya, dan segenap konsep apapun yang selama ini saya gak kenal (baru terasa ketinggalan ilmu banget).

Bapak saya, yang pembaca tingkat akut itu, dan juga chatterbox kelas wahid, bisa-bisanya melalap semua buku berbahasa Indonesia yang ada di rak buku saya. Dan hebatnya, setelah semua buku dibaca, beliau ‘memaksa’ saya menjadi pendengar yang baik, meladeni ulasan beliau atas isi buku yang sudah dibaca. Saking tidak pernah lepasnya tangan beliau dari buku, dan bahkan bisa mengembangkan cerita, saat menemani Adzra baca buku, sampai Adzra bilang, “Mommy, mbah Kung is really an interesting person.” Mbah Kung-nya ketiwi-tiwi, dan saya mbatin, ‘baguslah nduk, kamu sudah tahu bahwa membaca itu membuat orang jadi keren.’

Tapi ya itu, hobi membacanya jadi harus saya supply. Lha wong buku yang di rumah, kiriman teman-teman milis alumni Unesa, termasuk buku pak Muchlas, Mohon Maaf Masih Compang Camping, dan A Note from Tehran-nya mbak Ikit, semua sudah ludes dan di-review. Urusan supply buku, untung saja Baillieu Library di kampus the University of Melbourne punya segudang buku di Indonesian collection. Mulai karya sastra seklasik Babad Tanah Jawi seri 1,2,3,4, sampai novel Ayu Utami. Mulai biografi pak Karno dari berbagai versi sampai The Ahok Way.

Buku-buku biografi tentang pak Habibie, Ahok, dan siapa lagi saya lupa, pokoknya saya pinjamkan 5 buku, ternyata sudah habis dalam seminggu. Mbah Kung kelihatan sudah mulai bingung mau baca apa lagi (padahal di sela-sela waktu masih tetap baca Qur’an tiap hari). Alhasil kemarin saya memborong lagi buku-buku dari library. Kali ini dengan pesanan, ‘jangan buku tentang Habibie dan sejenisnya, yang bapak sudah tahu.’ (Hehe, karepku carikan buku yang enteng dan sudah familiar je). Jadilah kemarin saya berpindah ke rak buku sastra dan budaya. Ganti pakai selera saya saja. Toh dulu saya mengenal Ahmad Tohari juga dari mbah Kung. Kami sekeluarga dulu mengikuti cerita bersambung Ronggeng Dukuh Paruk di Kompas, langganan keluarga kami jaman muda dulu. Cerbung ini bahan bacaan dan obrolan saya dengan bapak saat itu.

Saya sengaja memilih Nyanyian Malam-nya Ahmad Tohari, Markesot Bertutur punya Emha Ainun Najib, Mangan Ora Mangan Kumpul dan Para Priyayi  karya Umar Kayam. Sementara itu, buat cucunya, yang juga sudah habis 5 buku minggu kemarin, saya pinjamkan buku-buku pengetahuan untuk anak tentang Indonesia, tentang bulan, dan perubahan musim. Cukup buat teman liburan yang sudah masuk minggu kedua ini.

Tapi ya begitulah, ternyata pemilihan judul buku yang sedianya buat bapak saya, ternyata adalah bisikan alam bawah sadar saya (kata Freud, ini adalah cerminan keinginan yang ditekan dalam-dalam). Sambil menyiapkan makan malam buat Adzra (kebab ayam yang tinggal masuk oven, thanks to Ganta yang sudah beli mentahannya tanpa bilang ke ibunya), saya membuka-buku buku Mangan Ora Mangan Kumpul. Sejak masuk backpack, saya sudah melirik-lirik buku ini, pingin dapat sensasinya lagi. Buku Umar Kayam selalu renyah kemriuk, tur jero maknanya. Nasi kebul-kebul hasil pemanasan 1 menit di microwave bercampur dengan harumnya kebab ayam sudah siap di piring. Saya teruskan membaca buku. Sambil cekikikan sendiri. Saya lirik ke sebelah kiri, Adzra lari ke ruang tamu, dan sedetik kemudian memegang buku Charlie and the Chocolate Factory karya Roald Dahl.

Di dapur yang hangat (kena hembusan panasnya oven yang baru saya matikan), yang terdengar adalah gabungan suara sendok beradu dengan piring, tawa lepas cenderung cekakakan saya, dan giggle Adzra yang sesekali berkomentar, ‘it’s so funny,’ ‘that’s impossible,’ ‘how could it be?’ (Sst, jangan ditiru ya, ini bukan model parenting yang baik, makan sambil baca).

Yang jelas sensasi Umar Kayam membuat saya mematikan komputer. Melupakan sejenak draft tesis yang belum kelar. Mengabaikan sebentar pesan ‘gendeng’ dosen yang papasan dengan saya tadi siang di kampus, ‘you’re finishing, Tiwi?. You’ll get there. But don’t sleep.’ Saya iyakan saja, sambil tetap membayangkan tidur saya nanti malam akan tetap pulas tanpa pakai model wayangan. Dan Mangan Ora Mangan Kumpul melelapkan malam yang dingin, memaksa saya mengiyakan bahwa saya adalah bagian dari budaya tempe dan es tung-tung, betapapun lidah ini suka menikmati es krim Sara Lee atau hot chocolate di café dekat rumah. Matur nuwun prof. Umar Kayam (semoga Allah menerima beliau di sisiNya). Kaki ini memang harus terus membumi di kampung nun jauh di sana.

The Uses of Literacraft

download

Tulisan ini saya beri judul The Uses of Literacraft, mengadaptasi judul buku-buku ‘babon’ di dunia Cultural Studies, seperti The Uses of Literacy karya Richard Hoggart (1957), dan The Uses of Digital Literacy oleh John Hartley (2009). Who knows it will turn into a book someday. Amiiin. Tapi sebenarnya saya memilih judul itu untuk membenarkan kutipan Ken Robinson di atas.

Saya ingin mengulas bagaimana workshop Literacraft yang diselenggarakan TPA Brunswick Sabtu kemarin (baca di sini), menegaskan berbagai fungsi dan peran literasi bagi penggunanya. Di penelitian saya tentang praktik literasi buruh migran di Hong Kong misalnya, literasi dilakukan untuk mempertahankan identitas muslim yang tinggal di negara non-muslim; untuk mengubah stereotip negatif BMI menjadi sosok perempuan mandiri, cerdas, produktif, dan kreatif; untuk terapi; untuk pemberdayaan diri dan komunitas; dan untuk gerakan sosial politik demi perubahan (dan masih banyak lagi sebenarnya).

Balik ke Literacraft (sebelum nggladrah ke mana-mana), saya mencoba mengamati (bahasa kerennya, participant observation) bagaimana anak-anak peserta workshop bernegosiasi dengan diri sendiri selama proses workshop, dan terutama saat pembuatan craft-nya, baik yang menjahit autumn leaves maupun aircraft. Saya juga lihat hasil tulisan anak-anak di procedure text untuk melihat tahap perkembangan literasi mereka. Untuk meyakinkan pembaca, saya juga mengutip testimoni ibu-ibunya di media sosial. Lengkap ya datanya (bisa buat riset lho).

Menjahit itu bebas gender

Crafting yang dipilih dalam workshop Literacraft adalah menjahit sederhana. Bahasa Jawanya, belajar ndondomi. Bila selama ini masyarakat kebanyakan menilai bahwa urusan dondom adalah domain perempuan, pengalaman selama ini menunjukkan bahwa gambaran stereotip ini bisa direkonstruksi. Lho, bagaimana dengan tukang jahit yang juga laki-laki (seperti pak Bani, pemilik Banista tailor langganan saya di Kebraon). Iya itulah, kebanyakan laki-laki yang masuk ke dunia menjahit ada di dunia publik, alias untuk bisnis. Perlu ditengok apakah mereka juga ndondomi baju anaknya yang sobek, hehe.

Di workshop kemarin ada cukup banyak anak laki-laki. Meski kebanyakan memilih menjahit bentuk aircraft, tapi ada juga yang memilih autumn leaves. Sebaliknya, meski kebanyakan anak perempuan memilih tema autumn leaves, toh ada juga yang memilih aircraft. Yang sama adalah, semua belajar menjahit. Itu artinya belajar cara memasukkan benang ke dalam lubang jarum, memasangkan pola kain flanel menjadi bentuk yang diinginkan, dan menjahitnya.

IMG-20150405-WA0005

Menjahit itu menenangkan

Namanya workshop dengan anak-anak sebagai peserta, berbagai episode emosional pastilah sudah diantisipasi. Tapi tahukah Anda bahwa menjahit itu bisa menenangkan pikiran dan meredakan emosi? Saat saya berkeliling melihat anak-anak berproses, saya lihat Afifah, grade 1, sedang sesenggukan. Teman-teman perempuan di sekitarnya pada bilang ke saya, “I don’t know why she’s crying,” “It wasn’t me,” “She wouldn’t tell me why.” Lalu saya ajak Afifah memisahkan diri, dan mengajaknya memulai sewing project-nya. Sambil masih terisak-isak, Afifah pelan-pelan mulai memainkan benang dan jarum ke sela-sela kain flanel. Setelah mulai tenang, saya beralih ke anak-anak yang lain. Beberapa lama berselang, saat saya ‘sibuk’ mendengarkan celotehan anak-anak yang lumayan chatterbox (termasuk Adzra), Afifah menghampiri saya. Ternyata benangnya habis, dan minta dipasangkan benang baru. Dia masih belum mau bicara, tapi air matanya sudah kering. Yang lebih penting lagi, project-nya berjalan lancar. Sekitar 3-4 kali Afifah menghampiri saya untuk minta benang lagi, sampai project-nya tuntas. Hurray! Jadi kesimpulannya, bila ingin menenangkan pikiran, menjahit bisa dijadikan salah satu alternatif.

Menjahit itu melatih kesabaran dan ketahanan mental

Ada dua ibu yang perlu diacungi jempol dalam melatih kesabaran putra-putranya (ibunya juga ultra sabar berarti kan). Amartya, grade 4, putra mbak Anisah, sebenarnya merasa bosan dengan kegiatan menjahit ini (mungkin dianggap too childish). Dan dia jujur menunjukkan responnya. Ini saya kutip dari komentar mbak Anisah di FB: “it probably takes 10 hours … Finally I do this boring paper. Amartya emang sangat apatis awalnya. It’s impossible katanya. Untung emaknya lg sabar hehe diajarin pelan2..akhirnya stlh selesai ada senyum lebar yg tertahan di bibirnya.” Hehe, maaf ya Amartya, tante Zu dan tante Tiwik buat kamu merasa bosan. Tapi hebat lho, meski bosan, Amarya bisa menyelesaikan projectnya dengan tuntas, baik menjahitnya maupun isian procedure text-nya.

Ada juga episode emosional lain. Kali ini Rafif, grade 4, sedang tantrum, meski sebenarnya dia suka sekali menjahit (hampir tiap Sabtu sore tidak sabar pergi ke rumah te Zubeth untuk ‘les menjahit.’). Saya perhatikan Lita, ibunya, tetap sabar namun tegas. Memberikan time-out, mengajak Rafif meneruskan project-nya. Sama halnya dengan Afifah yang tetap menjahit meski lagi ngambek, Rafif juga tetap persistent menjahit kapal terbangnya.

Perlu dicatat di sini bahwa baik Afifah, Amartya, maupun Rafif, menyelesaikan project-nya tanpa paksaan orang-tua. Para ortunya hanya mendampingi dan menjaga motivasi anak, dan pada akhirnya, anak-anak sendiri yang memutuskan terus dengan project-nya atau tidak. Bahwa mereka berhasil menyelesaikan project-nya adalah bukti bahwa ketahanan diri mereka sudah mulai teruji. Hati bisa marah atau jengkel, tapi pekerjaan tetap terselesaikan dengan baik. Tuntasnya pekerjaan itu sendiri pastinya memberikan kepuasan tersendiri, memunculkan a sense of accomplishment. And it made them feel good about themselves.

Talking about the crafting and Collaborating  

Sebenarnya, tujuan literacraft ini bukanlah untuk menghasilkan sebuah prakarya. Sama halnya dengan kegiatan membaca buku, yang lebih menarik adalah obrolan selama proses crafting itu sendiri. Menemani anak-anak menjahit sambil ngobrol, ortu bisa menggali ide-ide brilian dari anak, dan juga pengetahuan yang mereka punya. Saya berada di tengah-tengah Adzra, Queena, Galuh, dan Aretha. Keempat anak perempuan ini doyan ngobrol.  Adzra bertanya, “do I have to put them in order?”, apakah pola daun hijau, merah, kuning, dan coklat perlu diatur berurutan, sesuai penjelasan bagaimana perubahan warna daun di musim gugur, spontan Queena menjawab, “of course.” Aretha menimpali, “because we’re doing science. So it has to be in order.” Ada satu warna, hujau tua, yang terlewati Adzra, dan Queena memberi saran. “you can just put the dark green between green and red. I did that too.”

IMG-20150405-WA0008

Hasil jahitan yang berwarna-warni juga memberikan ide pada Aretha, grade 3, untuk menunjukkan kepada eyang Utinya nanti. “I wanna show this to Uti, and tell her about the changing colours, when we go to the park to see autumn leaves. Oh, I’m so excited.!

Doing Literacy

Project ini tidak layak disebut literacraft bila tidak ada komponen literasinya. Crafting sendiri erat kaitannya dengan pemahaman proses, dan teks prosedur bisa menjadi sarananya. Dalam teks prosedur, anak dilatih mengenali tujuan proses, bahan/alat yang dibutuhkan, dan urutan proses. Dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman proses melakukan/membuat sesuatu penting dikuasai, dan menjadi bagian dari functional literacy maupun work skills nantinya.

Dengan peserta yang beragam, mulai Kinder-grade 6, tentu saja hasil tulisan teks prosedur anak-anak akan beragam. Di sekolah sendiri, sebenarnya mereka sudah diajari menuangkan proses dengan menggunakan teks prosedur sejak Prep year, jadi bukan hal baru untuk anak-anak. Tapi proses penulisan teks selama workshop tak kalah menariknya.

IMG-20150404-WA0022

Misalnya saja, Omar, grade 1, sudah menyelesaikan autumn leaves project-nya lebih awal. Dia mendekati saya, sambil menunjukkan lembar kerja, “I don’t know what to do with this. My Mom doesn’t know.” Lalu saya tanya dia bahan-bahan apa yang dia pakai, tujuan, dan langkah-langkah pembuatannya. Tentu saja dengan bahasa sederhana. Saya tidak meminta anak-anak mengisi dengan lengkap dan bebas kesalahan. Yang penting tahu “aim, what you need, dan how to do it.” Apalagi untuk anak grade 1, kesalahan spelling masih umum terjadi. Justru di sinilah bisa terjadi kolaborasi antar anak-anak. Omar bertanya, “how do you spell this or that?“, dan Adzra membantu mengejanya, sementara Omar menuliskannya. Saya cuma nguping, dan sesekali membantu spelling.

Proses literasi seperti inilah yang penting dikembangkan. Dengan terlibat dalam kegiatan seperti Literacraft, guru/ortu memberikan anak ‘something to do with literacy.’ Adanya kesalahan ejaan tidak boleh dijadikan dasar penilaian kualitas, apalagi untuk anak-anak di tahap awal (grade Prep-2). Selama masih bisa dibaca, dan anak paham informasi apa yang harus diisikan/disampaikan, itulah yang paling penting dalam proses perkembangan literasi. Tulisan Navya, grade 1, adalah contoh yang bagus. Dia menuliskan Title: OTM LEFS. Dengan tahu konteksnya, tulisan itu dengan mudah dibaca Autumn Leaves.

IMG-20150404-WA0025

Sebagian besar anak grade Prep-1 akan mengalami proses misspelling yang tetap bisa terbaca. Dengan semakin banyak buku yang dibaca, dan tulisan yang dihasilkan melalui kegiatan-kegiatan sederhana seperti Literacraft, lambat laun kemampuan literasinya akan semakin sempurna. Seperti contoh tulisan Aqila, grade 6, dan Amartya, grade 4, di bawah ini:

IMG-20150404-WA0015                       IMG-20150404-WA0018

Saya ingin menutup tulisan ini dengan testimony Kanti, ibu Khadija, grade 1 di akun Instagramnya: “Start Young. Do crafting activities with your child and engage them in conversations. Write a journal afterwards, and already they are developing their literacy skills.”

Brunswick, 6 April 2015

Literacraft: Bringing Literacy to Life through Crafting

Pada hari Sabtu siang kemarin, tanggal 4 April 2015, bertempat di Surau Kita, TPA Brunswick mengadakan workshop bagi anak-anak dengan tajuk Literacraft: Building Literacy through Crafting. Ide workshop ini tercetus melalui obrolan saya dengan Zubeth. Dosen Kima Fisika dari Universitas Brawijaya yang sedang mengambil PhD di Swinburne University ini punya banyak fans, yakni anak-anak area Brunswick/Coburg. Bagi mereka, tante Zu is the creative scientist who can do various kinds of craftworks. Zubeth sudah seringkali mengajari anak-anak membuat berbagai macam prakarya yang berbasis jahitan. Bahkan hasil karya pribadi Zubeth sendiri selalu dituangkan di blog kreatifnya, http://www.ndondomi.wordpress.com. Saya pernah melontarkan betapa pentingnya crafting untuk membantu orang-tua dan guru mengembangkan kemampuan literasi anak. Seperti menemukan aha moment, akhirnya kami bersepakat untuk berkolaborasi. Mengajari anak-anak crafting dengan berorientasikan pada literasi.

Musim liburan sekolah seperti sekarang ini, di pertengahan musim gugur, adalah saat yang pas untuk mengaitkan antara sains, prakarya, dan literasi. Zubeth memilih topik How leaves change colours dan How Airplanes Can Fly. Dia menyiapkan materi sains dan bahan-bahan crafting, sementara saya menyiapkan buku online tentang Autumn Leaves, template teks prosedur untuk belajar menuliskan proses, dan sekilas powerpoint presentation untuk pengantar.

Komunitas TPA Brunswick yang solid dan aktif membuat kami tidak kesulitan mendapatkan peserta. Hanya dalam dua hari poster dibuatkan oleh Kanti, sesama emak PhD, tidak kurang 30 anak, mulai level Kindergarten-grade 6, didaftarkan orang-tuanya.

Workshop dibuka dengan sekilas informasi tentang pentingnya literasi dan kreatifitas, dan bagaimana keduanya harus saling menguatkan. Literasi dan kreatifitas bisa dikembangkan untuk memberikan pengetahuan apa saja, baik sains maupun kehidupan sosial. Ini bisa menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan otak kiri (sains, logika, analisa, organisasi ide) dan otak kanan (bahasa, seni, imajinasi, kreativitas, kebebasan berpikir) secara seimbang. Tujuannya adalah untuk mengurangi/menghilangkan dikotomi keilmuan antara ilmu pasti dengan ilmu sosial dan humaniora. Literacraft adalah sarana untuk menjembatani otak kiri dan otak kanan.

2013-02-06-LeftBrainRightBrain21

Saya juga sedikit mengulas tentang peran scribbles (tulisan oret-oretan) dan pretend reading (membaca pura-pura) dalam perkembangan literasi anak. Kedua aktivitas ini perlu diperhatikan orang tua, karene menandakan anak sudah menumbuhkan ketertarikan kepada kegiatan baca-tulis. Jadi anak tidak perlu dimarahi karena sudah mengotori dinding dengan ‘benang ruwet,’ tapi perlu digali cerita apa yang ada di balik coretan itu. Kebetulan sebelum workshop dimulai, Arrayah, Prep year, sedang sibuk menggambar. Saya sempatkan ngobrol dengan dia, dan meluncurlah cerita tentang gambar itu.

IMG-20150405-WA0015

Saat berinteraksi dengan anak-anak peserta workshop, saya dan Zubeth bertanya kepada anak-anak tentang aktivitas liburan mereka, sudah pergi ke mana saja, dan musim apa sekarang ini. Pada dasarnya mereka adalah anak-anak yang aktif. Sama sekali tidak susah menggali jawaban dari mereka. Pertanyaan tentang what happens in autumn? dengan mudah mereka jawab, berdasarkan apa yang mereka lihat dan alami sehari-hari. “Leaves change colours,” it’s colder, “leaves are falling down.” Dalam strategi pembelajaran, ini yang disebut dengan pre-reading activity, sebelum kita mulai masuk ke teks yang akan dibaca. Tahap ini penting untuk menggali background knowledge, tentang hal-hal yang sudah diketahui oleh anak, sebelum mereka menerima informasi yang baru. Bahasa ilmiah yang lain untuk menjelaskan tahap ini adalah ‘scaffolding talk.’ Intinya, kalau mau mengajar, jangan ujug-ujug bilang, ‘buka buku halaman 10.’

Keterlibatan anak secara aktif juga penting pembelajaran. Saya meminta Aqila, grade 6, untuk membantu saya membacakan buku online tentang Autumn Leaves (maunya pakai buku betulan, tapi pas ke Coburg Library untuk pinjam buku, dalam perjalanan ke Surau Kita, ternyata library tutup liburan Easter). Saya juga meminta Queena, grade 2, untuk ‘membuka’ halaman buku dengan memainkan mouse. Setelah buku (yang cuma 5 halaman itu) selesai dibacakan, Zubeth menyambung dengan memberikan penjelasan ilmiah di papan tulis tentang ‘how leaves change colours.

Andai saja guru Biologi seperti Zubeth! Mungkin itu yang ada di benak para orang-tua. Cara dia menjelaskan perubahan warna daun dengan alat peraga–kain flanel warna hijau, merah, kuning, coklat–sangat menarik dan kocak. Pohon diumpamakan sebagai layaknya manusia yang butuh makanan. Anak-anak yang lebih besar (grade 3 ke atas) bisa terlibat memberikan jawaban tentang bahan makanan dan peralatan yang dibutuhkan pohon untuk memasak–water, sunlight, carbondioxide. Sunlight diumpamakan sebagai kompor untuk memasak. Makanan ini kemudian ‘dimasak’ oleh para chef di dalam pohon. Siapa chefnya? Namanya chlorophyl. Tanda ada chef yang sibuk memasak adalah warna daun yang hijau. Makanan hasil masakan para master chef adalah glucose. Nah, saat sinar matahari mulai berkurang karena perputaran bumi (kata Aqila: the tilt of the earth), maka para chef mulai pergi, meninggalkan makanan sudah dimasak. Tahap perginya chef dan masih adanya makanan ditandai dengan warna daun yang menjadi merah. Tahap berikutnya (ini favorit anak-anak), setelah makanan habis, tinggallah sampahnya. “what usually happens after you eat?” Jawaban anak-anak, “we poo.” Ya, warna kuning daun adalah tandanya. Makin lama makin habis cadangan makanannya, dan semakin banyak poo, sehingga daunnya jadi coklat, dan akhirnya mati. Maka berguguranlah dedauan.

IMG-20150405-WA0013

‘Pelajaran’ berikutnya adalah bagaimana pesawat bisa terbang. Tante Zubeth mengumpamakan pesawat seperti burung, yang menggunakan kedua sayapnya untuk ‘menggerakkan’ udara agar badannya bisa terangkat, dan ekor untuk berbelok. Ada beberapa kejadian yang lucu. Gambar burung yang dibuat Zubeth di whiteboard dikritisi oleh anak-anak. “That doesn’t look like a bird,” “can I help her draw? adalah beberapa celetukan yang saya dengar di sekitar saya. Ada pula celetukan cerdas oleh Hanif, yang bisa memberi penjelasan aerodynamics, dan membuat para ortu ketawa. “wow, that’s a little bit complicated now.

Tahap berikutnya, inti dari workshop, adalah mengajak anak-anak menjahit autumn leaves atau airplane, bergantung pilihan anak. Orang-tua menemani dengan membantu memasangkan benang ke dalam jarum, dan memberi insruksi seperluanya. Urusan menjahit, anak-anak malah tidak mau dibantu ibunya.

IMG-20150405-WA0008 IMG-20150405-WA0003

Selama kurang-lebih 1 jam, anak-anak menikmati proses jahit-menjahit. Mulai dari ribetnya memasukkan benang ke jarum, bagaimana cara merangkaikan lembaran flanel dengan benang (stitching), sampai obrolan, tangisan, kebosanan, episode ngambek, keceriwisan, semua mewarnai proses alami mendampingi anak belajar yang perlu dijaga agar tetap menyenangkan. Tidak mudah membuat anak bertahan dan fokus pada satu hal, namun hands-on activity hampir selalu berhasil. Proses yang beragam ini menjadi bermakna ketika satu-persatu mulai berhasil menyelesaikan proyek menjahitnya. Hasil jahitan yang sudah jadi diberi nama dan ditempelkan di whiteboard. Ini memotivasi anak lain untuk segera menyelesaikan proyeknya, berstrategi dengan melakukan big stitches.

IMG-20150404-WA0024 IMG-20150404-WA0014

Sementara itu, anak-anak yang sudah selesai menjahit diajak untuk menuangkan prosesnya ke dalam tulisan dalam bentuk teks prosedur. Di sini kita kembali mengaitkan sains, crafting, dengan literasi. Teks prosedur adalah bentuk genre yang paling pas untuk belajar memahami dan menuliskan proses. Anak belajar menuliskan tujuan tulisan, bahan-bahan yang dibutuhkan, dan tahap-tahap pembuatan. Dengan berbagai variasi, ternyata anak kelas 1 yang baru belajar menulispun mampu memahami teks prosedur, sebagaimana halnya anak-anak grade 6 yang sudah hampir sempurna (refleksi hasil tulisan akan saya tuangkan di tulisan berikutnya).

IMG-20150404-WA0018 IMG-20150404-WA0025IMG-20150404-WA0023

Acara ditutup dengan foto bersama, dan juga pose anak-anak berjajar membentuk tulisan LITERACY (semoga terbaca seperti itu, hehe).

IMG-20150404-WA0010 IMG-20150405-WA0011

Penyelenggaraan workshop yang cukup spontan ini amat bermakna bagi saya dan Zubeth. Penting sekali membangun home-school connection, mengaitkan hal-hal yang dipelajari di sekolah dengan kehidupan sehari-hari. Membumikan sains, menyederhanakan keilmuan, mengaburkan batas sains/seni. Literacraft memberikan sepercik harapan bagi kami (btw, istilah Literacraft perlu diajukan dalam keilmuan kajian literasi nih)

Terima kasih buat segenap pengurus TPA Brunswick sebagai host acara ini, Kanti atas posternya, Deasy yang sudah membantu mencari bahan-bahan, oom Dian yang menyiapkan projector, dan pastinya para ortu yang setia mendampingi anak-anak. Juga buat Lina, mbak Anisah dan mbak Nunung, terima kasih atas sumbangan foto-fotonya Most importantly, anak-anak sendiri adalah bintang dari workshop ini. You all are truly shining stars!

Tunggu tulisan sambungannya ya!

Modeling: Kunci suksesnya Sustained Silent Reading

Dua hari terakhir ini saya mendapat kiriman tulisan testimonial dari dua guru. Icha, guru SMPN 2 Kedungadem Tuban dan Uut, guru SMP Khadijah 2 Surabaya, telah sama-sama memulai kegiatan Sustained Silent Reading di kelas masing-masing. Cerita tentang kegiatan SSR dan foto-fotonya bisa dibaca di sini dan juga di sini.

Berangkat dari hobi membaca mereka sendiri secara pribadi, dan tanggung-jawab mereka sebagai guru bahasa Inggris, Icha dan Uut ‘nekad’ menjalankan SSR dengan modal buku terbatas. Icha mengaku sepenuhnya menggunakan koleksi pribadinya. Menurutnya, koleksi perpustakaan sekolah entah raib ke mana. Uut sendiri beruntung bisa meminta siswa membawa koleksi buku pribadi mereka. Meski begitu, Uut tetap siap dengan koleksi pribadinya sendiri, jaga-jaga bila ada siswa yang tidak membawa buku. Strategi Icha dan Uut menunjukkan bahwa syarat utama agar SSR berjalan baik adalah dengan menyediakan akses terhadap buku. Ke depan, Icha dan Uut bisa mulai mengajak siswa untuk membangun reading corner di kelas masing-masing.

Meski barangkali kondisi sekolah di mana Icha dan Uut bertugas ada perbedaan (Icha di sekolah negeri di kota kecil, dan Uut di sekolah swasta Islam yang cukup berkualitas), ada kesamaan yang membuat program SSR mereka berjalan dengan lancar. Padahal kalau dihitung-hitung, mereka berdua baru menjalankannya kurang dari 5 bulan. Dari banyak referensi yang saya baca, butuh setidaknya 4-5 bulan untuk membentuk kebiasaan membaca pada anak agar bisa bertahan lama.

Baik Icha maupun Uut menerapkan modelling sebagai kunci keberhasilan SSR. Mereka berdua ikut membaca dalam kurun waktu 15 menit. Sebagaimana pengakuan mereka, bahkan Icha dan Uut sendiri ikut tenggelam dalam buku mereka masing-masing. Tak heran dalam perjalanannya, waktu 15 menit dianggap kurang oleh siswa mereka.

Menurut Cracken & Cracken (1978) dalam artikel berjudul “Modeling is the Key to Sustained Silent Reading,” kunci utama keberhasilan SSR adalah teladan yang baik. Tanpa teladan dari guru atau orang dewasa yang ada di ruangan di mana SSR berlangsung, jangan harap SSR akan bisa dipertahankan dalam jangka waktu lama. Dalam penelitian di atas, kebanyakan SSR yang tidak berhasil disebabkan oleh peran guru yang memonitor siswa (tapi tidak membaca), dan anak-anak yang dianggap bermasalah juga tidak membaca. Dalam kesimpulan Cracken & Cracken, SSR bertahan lama hanya bila siswa tahu bahwa guru mereka sendiri adalah seorang pembaca yang serius, yang tidak mudah ‘goyah’ hanya karena gangguan-gangguan kecil. Di banyak penelitian lain, malah siswa sendiri yang kemudian mengambil peran menyuruh temannya diam bila ada yang mulai bersuara. “ssst, waktunya membaca.”

Percayalah, yang suka mengamati tidak hanya guru. Bahkan siswa sendiri akan mengamati kebiasaan dan perilaku guru saat membaca. Guru yang suka garuk-garuk rambut saat membaca bisa jadi akan ditiru siswa. Guru yang suka berbagi isi buku yang baru dibacanya akan menginspirasi siswa untuk melakukan hal yang sama. Mungkin Icha dan Uut bisa mulai mengamati apakah kebiasaan mereka dalam membaca juga mulai direkam oleh siswa-siswi mereka.

Setidaknya, pengalaman ini saya rasakan sendiri dengan kedua anak saya. Bila dulu saya yang mengingatkan anak-anak untuk membaca bersama pada sore hari, sekarang gantian Ganta yang mengajak Adzra untuk membaca. “ayo, reading time.” Tidak perlu pakai ngobrak-ngobrak, karena kebiasaan ini memang sudah kami lakukan tiap hari. Terus-terang, butuh berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun untuk sampai di titik ini. Di titik di mana saya mulai menemukan ketertarikan Ganta terhadap buku. Bila dia menemukan sesuatu yang menarik di dalam bukunya yang dibaca, dia akan menceritakan pada saya. Biasanya di situlah dimulai diskusi (kadang debat) tentang interpretasi isinya. Seperti tadi malam, saat Ganta membaca buku The Secret of Freemasonry.

Adzra sendiri mulai suka menuangkan apa yang dia baca ke dalam tulisan. Di mana-mana saya gampang menemukan coretan Adzra tentang apapun yang pernah dia baca atau alami. Meski itu hanya sekedar, “I love Matilda because she likes to read. I wanna be like her.” Atau juga daftar kata baru yang dia tuliskan di bukunya. Ini dia lakukan setelah nonton film The Book Thief. Karakter utamanya, Nelisse, anak perempuan Jerman, belajar membaca dari kata-kata baru yang ditulis ayah angkatnya di ruang bawah tanah rumah mereka. Adzra meniru kebiasaan Nellise, dengan merekam kata-kata baru yang dia temukan di buku. Adzra juga suka membuat tulisan di powerpoint (dia selalu menggunakan istilah keynote, karena terbiasa dengan Macbook di kelas). Seperti tadi pagi setelah usai membaca buku tentang Clouds, home reading dari sekolah, dia membuka laptop dan membuat file baru. Dia bilang pada saya, “can I do recount, mommy?” Untung ibunya sudah tahu apa itu genre recount. Dia mau menceritakan kembali isi buku secara kronologis.

Beberapa catatan di atas menunjukkan bahwa SSR bisa dilakukan di sekolah maupun keluarga. Kuncinya: jadilah model yang baik baik anak dalam menumbuhkan kebiasaan membaca. Kunci yang tak kalah penting adalah sabar dalam menunggu perkembangan SSR di kelas dan keluarga. Selama akses terhadap buku dibuat mudah dan beragam, kita bisa optimis kebiasaan membaca akan tumbuh dengan baik dan bertahan lama di sekolah dan keluarga kita masing-masing. Teman-teman yang memiliki keluarga yang cinta baca akan merasakan hal yang sama.

Ayo tularkan virus membaca!

Virus Cinta Buku

Oleh: Uut Swu (guru SMP Khadijah 2 Surabaya)

Uut

Sebenarnya sudah sejak lama saya mencintai membaca buku. Virus cinta itupun sudah sering saya sebarkan kepada murid-murid saya dengan mengingatkan mereka tentang pentingnya membaca buku, dan asyiknya menyelami lautan kata dalam buku. Sayangnya saya baru sadar, waktuitu saya hanya sekedar mengingatkan mereka saja. Setelah membaca artikel-artikel tentang SSR yang ditulis oleh Bu Tiwik dan Pak Satria Dharma, saya mulai berpikir, “Kenapa tidak dicoba diterapkan langsung di kelas?” 

Alhamdulillah sejak awal semester genap tahun pelajaran ini, saya sudah mencoba menerapkan SSR bersama murid-murid. Saya mengajar bahasa Inggris di salah satu SMP Islam swasta di Surabaya Selatan. Saat ini, kegiatan SSR masih diterapkan di kelas saya saja. Saya berharap semoga ke depannya SSR dapat menjadi salah satu program sekolah juga, insyaAllah.

Pengalaman saya sepertinya hampir sama dengan keseruan SSR di kelas yang telah ditulis oleh Bu Icha Hariani Susanti di sini. Untuk kegiatan SSR di kelas, saya meminta para murid membawa buku-buku kesukaan mereka dari rumah. Meskipun demikian, saya juga menyiapkan beberapa buku koleksi saya untuk dipinjamkan kepada mereka yang tidak membawa buku. Buku-buku tersebut kemudian disimpan di loker saya untuk menghindari resiko ‘buku ketinggalan di rumah’ sehingga para murid dapat melanjutkan membaca buku mereka di pertemuan selanjutnya.

Setelah salam dan berdoa, sebelum memulai pelajaran, saya beserta para murid membaca buku kesukaan masing-masing selama 10 menit. Alhamdulillah pembiasaan tersebut sepertinya berbuah manis, insyaAllah. Sudah beberapa pertemuan ketika saya berkata kepada mereka, “Alright, students. Time’s up. Submit your books, please” mereka masih larut dalam bukunya, seperti berat melepas bukunya. Bahkan ada juga beberapa murid yang berkata, “Wait, please. 10 minutes more, please” dan sejenisnya. Saya hanya bisa tersenyum. Bukan hanya mereka, terkadang saya pun lupa waktu kalau sudah asyik melahap buku.

Untuk sementara ini, buku-buku yang mereka baca masih berbahasa indonesia, karena saya ingin meningkatkan minat baca mereka terlebih dahulu. Saya harap di kemudian hari, perlahan-lahan, setelah minat baca mereka sudah lebih tinggi, saya dapat mengajak dan mengarahkan mereka membaca buku-buku berbahasa inggris untuk kegiatan SSR di kelas saya.

SSR-Uut1 SSR-Uut2 SSR-Uut3

Sustained Silent Reading: Sebuah Program Baru

Oleh: Icha Hariani Susanti (guru SMPN 2 Kedungadem Tuban)

Icha

Demam literasi sedang melandaku. Aku tertular demam ini setelah banyak bergaul (via milis Ganesa) dengan para seniorku dari Unesa. ada Satria Darma, Much Khoiri, Eko Prasetyo, dkk serta dedengkot SSR Pratiwi atau yang biasa aku panggil bu Tiwik. Mereka semua begitu getol mengampanyekan pentingnya budaya baca terutama bagi anak-anak usia sekolah. tak hanya itu, mereka juga menularkan ilmu-ilmu yang mereka punya terkait pengembangan kegiatan membaca dan pemberdayaan perpustakaan pribadi ataupun sekolah. Tak butuh waktu lama bagiku untuk “terinfeksi” virus ini, yang kemudian aku tularkan semua ke anak didikku di sekolah.
Kegiatan SSR aku mulai semenjak awal semester ini. Sebagai awalan, yang aku jadikan sasaran uji coba pemberlakuan kegiatan ini adalah siswa siswi SMPN 2 Kedungadem, khususnya kelas 7a-b dan 9a-d, kelas yang aku ampu. Aku memperkenalkan kegiatan ini kepada anak-anak sebagai kegiatan membaca untuk bersenang-senang. Mula-mula aku pancing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kegiatan membaca yang mungkin selama ini sudah mereka lakukan. Hasilnya? So surprising….. ternyata 99% dari mereka tidak punya habit membaca sama sekali. Mereka bahkan hampir tidak pernah masuk perpustakaan sekolah kecuali untuk meminjam dan mengembalikan buku pelajaran. Itu berarti mereka hanya masuk perpustakaan dua kali dalam setahun. Sungguh menyedihkan.

Aku pun memulai kegiatan ini dengan memperkenalkan “apa SSR itu”. Aku katakan kepada mereka bahwa sejak hari ini mereka aku beri kesempatan membaca buku-buku yang aku punya: buku cerita, novel KKPK, komik, buku pengetahuan anak-anak dsb. Seminggu dua kali, dalam jam pelajaran yang aku ampu, mereka bisa membaca buku-buku itu selama 15 menit. Mereka boleh memilih buku yang mereka suka, membacanya dalam hati (silent reading), setiap anak satu buku. Jika waktu 15 menit telah berakhir, mereka harus segera mengembalikan buku-buku itu. Mereka boleh membaca lanjutan buku itu lagi ketika jam tatap muka berikutnya (sustained). Mereka boleh dengan bebas memilih tempat yan mereka suka selama membaca buku itu: di pojok kelas, di bangku, di lantai, dimana pun selama tidak mengganggu teman yang lain. Satu hal penting lagi, aku sampaikan pada mereka bahwa aku tidak akan memberi tugas apapun yan berhubungan dengan kegiatan membaca ini. “Kegiatan ini murni untuk refreshing, menyegarkan otak kalian” begitu aku sampaikan kepada mereka.
Anak-anak antusias sekali mendengar program baru yang aku sampaikan itu. Segera aku menunjuk dua orang di dalam kelas yang bertanggung jawab mengambil, menghitung, dan mengembalikan buku-buku itu. Begitulah, sejak saat itu, anak-anak punya kegiatan baru dalam kelas bahasa Inggrisku: membaca. Begitu bel tanda pelajaran bahasa Inggris dimulai, tanpa aku komando, dua orang anak yang sudah aku tunjuk segera mengambil buku-buku bacaan di mejaku. Mereka membawanya ke dalam kelas, dimana teman-temannya sudah menunggu. Begitu buku datang, mereka segera menyerbu kurir pembawa buku. Segera setelah itu mereka hanyut dalam kegiatan membaca. Sering aku merasa geli melihat mereka berebut buku yang menarik minat mereka. Tak jarang aku ikut turun tangan menyelesaikan masalah rebutan buku itu. Akhirnya, aku pun terpaksa membuat peraturan “Anak yang pertama kali membaca buku itu punya hak untuk membacanya hingga selesai, meski itu memakan waktu berminggu-minggu. Siswa lain tidak boleh merebutnya kecuali temannya itu sudah tidak berminat lagi membaca buku itu.”

Biasanya, usai jam membaca, aku sempatkan menanyai beberapa anak tentang buku yang sudah mereka baca. Beberapa pertanyaan standar yang sering aku tanyakan adalah:
1. Buku apa yang kamu baca?
2. Bagaimana isinya? Baguskah?
3. Apakah kalian senang membaca cerita itu? Dsb.

Hampir semua anak mengatakan bahwa mereka suka sekali dengan kegiatan membaca itu. Beberapa bahkan memberi komentar tentang isi buku yang mereka baca. Menegangkan, kasihan sekalii, lucu, dan komentar-komentar lain mereka berikan secara berebut. Satu hal yang membuat aku bangga dan senang adalah saking asyiknya mereka membaca, mereka tidak mau berhenti meski jam membaca telah berakhir.
“Oke guys, jam baca sudah habis. Segera kembalikan buku-buku ke meja depan. Kita akan segera memulai pelajaran kita” begitu aku mengingatkan mereka setiap jam baca berakhir. Namun apa jawab mereka?
“Sebentar bu. Dikiiittt….lagi. Lagi nanggung nih.”
Dan kalau sudah begitu aku jadi tidak tega memutuskan keasyikkan mereka. Dengan sedikit berat hati aku tambahkan waktu lima menit lagi. Tapi kali ini tidak bisa ditawar. Begitu waktu tambahan lima menit berakhir, segera aku minta mereka mengakhiri kegiatan mereka. Biasanya mereka menurut tapi dengan embel-embel, “Hari Rabu baca lagi ya Buuuu….” Aku mengangguk sambil tersenyum. Senang sekali aku melihat antusiasme mereka. Oya, satu hal lagi, sejak adanya kegiatan SSR itu, jika ada jam kosong dan guru yang tidak hadir tidak meninggalkan tugas, anak-anak pun merengek minta dipinjami buku. Tentu saja dengan senang hati aku pinjamkan buku-buku itu.

Kini anak-anak sudah punya kebiasaan baru, membaca. Aku ingin sekali kebiasaan ini bisa menular ke kelas-kelas lain yang belum tersentuh olehku. Untuk itu, aku sudah mengajukan program kepada Kepala Sekolahku agar kegiatan SSR ini menjadi kegiatan resmi sekolah, masuk dalam jam tatap muka. Rencananya, anak-anak akan mendapat jam membaca sebanyak 1 jampel. Kegiatan ini bisa dilakukan di perpustakaan sekolah (sekaligus mengefektifkan keberadaan perpustakaan), dengan dipandu oleh guru BK yang memang punya banyak waktu luang. Semoga program yang aku ajukan ini disetujui oleh KS-ku sehingga mulai tahun ajaran baru nanti sekolahku resmi punya program SSR.

Hhmm….rasanya tidak sabar menunggu hal itu terjadi…

SSR-icha1 SSR-icha2 SSR-icha3

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑