Menambah Pasukan Literasi

     Minat utama seorang guru pada dasarnya bisa ditelusuri dari topik-topik yang dibahas dalam kelas mereka. Para dosen biasanya memiliki kebebasan yang cukup lapang dalam menentukan pokok bahasan. Dan saya termasuk orang yang tidak dapat menyembunyikan minat-minat yang suka saya geluti. Sekarang ini, praktis di setiap kesempatan, tema atau kegiatan bernafaskan literasi mewarnai semua kelas yang saya ajar. Entah itu kelas Film Interpretation, Prose Criticism, maupun Poetry. Bahkan mahasiswa bimbingan skripsi juga kena sasaran tembak.
       Satu semester setelah saya kembali mengajar, saya diberi tugas untuk membimbing skripsi lagi seperti dulu. Ada 5 mahasiswi yang tercatat memilih saya menjadi dosen pembimbingnya. Mereka adalah mahasiswi Sastra Inggris 2012. Pastinya mereka belum terlalu mengenal saya, belum tahu bagaimana kebiasaan saya membimbing. Saat mereka mulai kuliah, saya sedang dalam status studi lanjut. Baru semester yang lalu mereka mengenal saya di kelas Film Interpretation yang saya ajar. Bisa jadi mereka memilih saya karena dosen-dosen favorit mereka sudah dikeroyok teman-teman mereka yang lain, hehe.
       Literasi belum menjadi bidang garapan penelitian yang diangkat dalam penelitian berbasis sastra. Wajar juga. Sastra sendiri sebenarnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari literasi. Dengan demikian, menulis analisis atau kritik sastra itu sendiri adalah praktik literasi yang jelas membutuhkan kompetensi tertentu. Namun yang saya bicarakan kali ini adalah mengangkat topik praktik literasi dalam karya sastra.
       Pada pertemuan pertama, saya lihat judul-judul yang diajukan mahasiswa angkatan 2012. Hmm, belum ada hal yang betul-betul baru. Cukup banyak judul yang sebenarnya sudah banyak diangkat oleh mahasiswa angkatan sebelumnya, tapi kali ini karya sastranya beda. Sebenarnya belum jenuh juga, namun sayangnya sudut pandang yang dipilih tidak banyak berubah. Acapkali kerangka teorinya sama persis dengan kakak-kakak kelasnya.
       Ketika saya tawarkan kepada mahasiswa bimbingan untuk mengangkat tema literasi, pertanyaan mereka seragam. “Apa itu ma’am?,” “Bagaimana cara menganalisinya?”, “Wah, nanti lama nulisnya ma’am.” Saya menjawab kegelisahan mereka dengan memberikan beberapa artikel tentang konsep New Literacy Studies dan representasi literasi dalam budaya populer. “Baca dulu artikel-artikel ini, 2 minggu lagi kita ketemu ya.”
      Hasil mengompori 5 mahasiswa untuk menulis tentang literasi berhasil. Mereka beralih topik, tanpa mengubah novel yang sedianya mereka gunakan untuk sumber data. Semoga bukan karena mereka takut atau sungkan pada saya sebagai pembimbingnya, hehe. Tapi sebelum saya menyarankan mereka untuk mempertimbangkan ganti topik, saya memastikan bahwa di dalam novel-novel yang sudah mereka baca dan pilih untuk skripsi, ada cukup ‘bukti’ praktik literasi di dalamnya. Saya cukup yakin tentang ini. Dengan berpijak pada argumen bahwa praktik literasi selalu dapat ditemukan dalam berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari (Barton dan Hamilton 2000), tidak akan terlalu susah melacak apakah para tokoh dalam cerita juga melakoni praktik literasi untuk berbagai tujuan. Dengan kata lain, di setiap karya pasti ada praktik literasi.
       Singkat cerita, setelah berproses selama 2 semester, 3 mahasiswi berhasil menyelesaikan skripsi dan siap diuji pada awal Mei yang lalu. Ketiganya mengangkat representasi literasi. Nur Adyanti (Didin) memilih novel The Book Thief karya Marcus Zusak  untuk membahas literasi dan kekuasaan, Afiyah Maghfiroh menyoroti makna literasi sebagai kekuasaan dan ancaman dalam Harry Potter and the Half-blood Prince karya J.K. Rowling, sementara Dina Octavia mengangkat novel A Tree Grows in Brooklyn karya Betty Smith untuk membahas literasi dan pemberdayaan diri seorang perempuan.
       Saya tahu tidak mudah bagi mereka meyakinkan para penguji bahwa tema literasi yang mereka angkat itu merupakan hal yang penting dan menarik. Terlebih lagi memastikan bahwa interpretasi mereka meyakinkan dan dapat diterima. Namanya juga tema baru yang didekati dengan perspektif baru. Saya salut dengan kegigihan mereka dalam menjawab pertanyaan para penguji. Bahkan pak Khoiri, sahabat saya yang juga menjadi salah satu penguji menyarankan agar mereka bertiga berkolaborasi dan mengubah skripsi mereka menjadi buku. Beliau menawarkan diri untuk memberikan kata pengantar. Tentu saja sebagai pembimbing, saya juga akan menyumbangkan pemikiran saya dalam calon buku yang direncanakan ini. Di luar keberhasilan ini, saya lebih berharap agar mereka mau menjadi bagian dalam gerakan literasi sesuai dengan kapasitas mereka. Dari skripsi, mereka pasti semakin memahami bagaimana literasi memiliki berbagai makna dan mampu mengubah identitas seseorang.
       Masih ada beberapa mahasiswa S1 di prodi Sastra Inggris Unesa yang sedang menyelesaikan skripsinya dengan tema literasi dalam karya sastra. Ada juga mahasiswa S2, Dyah Nugraheni, yang sukses kena ‘kompor’ literasi yang saya nyalakan. Dia sempat praktik mengajar di kelas Prose Criticism saya semester lalu. Saat kelas saya membahas The Great Gatsby karya F.Scotts Fitzgerald, dia tertarik dengan cukup kentalnya praktik literasi dalam keseharian tokoh utama, Jay Gatsby. Saya sempat menyebutkan bahwa belum ada yang mengangkat tema literasi dalam novel ini.  Beberapa waktu kemudian Dyah mengutarakan minatnya untuk mengangkat tema praktik literasi dalam dua novel karya Fitzgerald.
       Membuka trend baru dalam penelitian literasi berarti bahwa perlu ada gambaran topik apa saja yang dapat digarap. Nah buat mereka yang tertarik mengangkat literasi sebagai praktik sosial dengan menggunakan pendekatan New Literacy Studies, masih ada banyak topik yang menunggu untuk dieksplorasi. Karena pendekatan ini sifatnya interdisipliner, berbagai disiplin dapat berkontribusi dalam pengembangan keilmuannya. Pada dasarnya, literasi menjadi salah satu kaki dari ilmu Pembelajaran Bahasa, di mana kedua kaki yang lain adalah Linguistik dan Sastra. Hal ini sudah saya tulis sebelumnya di sini.
       Berikut adalah beberapa payung yang menarik dikembangkan:
  • Representations of literacy in literary works, films and popular culture
  • Literacy practices and social identities
  • Digital literacy in education
  • Literacy and multiculturalism
  • Commercial reading materials and the deskilling of teachers

Ada yang tertarik dengan topik-topik di atas?

Sumber:

Barton & Hamilton. 2000. Situated Literacies: Reading and Writing in Context. London:                            Routledge.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: