Literasi dan Kapital Budaya

Literasi sudah lama dinilai sebagai salah satu tolok ukur bangsa yang modern. Literasi, baik sebagai sebuah ketrampilan maupun praktik sosial mampu membawa hidup seseorang ke tingkat sosial yang lebih baik. Meminjam teori Bourdieu, pakar sosiologi dari Perancis, kemampuan literasi adalah salah satu contoh kapital budaya yang bisa menjadi alat untuk mengimprovisasi habitus. Kapital budaya bisa dipahami sebagai sarana untuk meraih status sosial budaya tertentu, misalnya gelar akademik, pengetahuan akan sesuatu, ketrampilan, hobi membaca buku, dan selera musik tertentu. Sementara itu, konsep habitus ini bisa dipahami sebagai segala jenis aturan, norma, nilai yang sudah mengakar pada hidup seseorang, sehingga dia otomatis tahu apa yang harus dilakukan. Misalnya saja, seseorang yang merasa habitus kelas sosialnya adalah warga kelas dua, maka tanpa sadar dia akan berlaku selayaknya warga kelas dua. Nurut, pasif, minder, tidak banyak inovasi, waton mlaku. Tentu saja habitus ini bisa diubah (diimprovisasi), asal ada perubahan besar yang ingin dilakukan oleh yang bersangkutan.

Saya akan menghubungkan kedua konsep ini—improvisasi habitus dan kapital budaya—dengan praktik literasi buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong. Kapital budaya dalam praktik literasi BMI bisa diwakili oleh karya-karya mereka yang telah dipublikasi, ketrampilan dan kemampuan yang memungkinkan mereka menghasilkan tulisan, dan juga, untuk sebagai BMI, latar belakang pendidikan mereka. Kapital budaya ini juga bisa dianggap sebagai artefak budaya yang memfasilitasi improvisasi habitus mereka sebagai pembantu rumah tangga menjadi ‘pembantu yang menulis.’

Sebagai contoh, saya ingin menggunakan buku TKW Menulis (2010) yang ditulis oleh Bayu Insani dan Ida Raihan.

TKW Menulis

Mereka berdua adalah BMI-HK yang juga anggota FLP cabang Hong Kong. Bagi Sani, improvisasi habitus yang dilakukannya dimediasi oleh kapital budaya yang dia miliki, dalam bentuk kebiasaan membaca dan keterlibatannya di perpustakaan koper. Dalam pengamatan saya selama ini, ada hubungan erat antara kebiasaan membaca dan kemampuan menulis dalam komunitas BMI penulits. Keterkaitan ini ditunjukkan oleh keberadaan perpustaak koper dan perkembangan menulis para BMI yang berjalan seiring. Bagi Sani dan Ida, buku mereka, TKW Menulis, adalah manifestasi proses perkembangan kapital literasi mereka. Dalam tesis saya, saya mengajukan sebuah definisi untuk istilah kapital literasi, yang saya maknai sebagai gabungan antara beberapa jenis kapital (budaya, sosial, ekonomi, simbolis) yang saling berpengaruh melalui literasi sebagai katalisator.

Kapital literasi inilah yang mendorong Sani untuk semakin mengembangkan kemampuan menulis. Sebelum tertarik pada dunia kepenulisan, Sani menggambarkan dirinya sebagai seorang BMI yang minder dan pemalu. Meskipun begitu, hobi membacanya tersalurkan melalui kunjungannya secara rutin ke berbagai perpustakaan koper.  Seringkali ia juga menghabiskan waktu liburnya di Perpustakaan Pusat Hong Kong, yang berada di seberang Victoria Park, tempat berkumpulnya para BMI di hari Minggu. Keberadaan perpustakaan-perpustakaan inilah yang menjadikan hobi membaca Sani tetap terjaga.

Kunjungan rutin Sani ke perpustakaan koper membuka jalan berkembangnya kapital budaya yang baru. Sani kemudian berubah peran menjadi penjual buku, dengan teman sesame BMI sebagai pelanggan setianya. Pengetahuannya yang luas tentang buku-buku yang ia jual (karena ia juga membacanya) mendongkrak kemampuannya dalam memasarkan jualannya di komunitas BMI-HK. Sani tahu buku atau novel mana yang sedang naik daun dan laris penjualannya.

Popularitas novel-novel Islami di kalangan BMI-HK mendorong rasa ingin tahu Sani. Apa sebenarnya kunci untuk menjadi penulis yang sukses. Salah satu novelis yang karyanya disukai BMI-HK adalah Taufiqurrahman, penulis …Sani kemudian melakukan korespondensi dengan Taufiqurrahman. Dari komunikasi inilah, ketika sang penulis kemudian diundang ke Hong Kong, Sani memperolah tips menulis. Titik perubahan semakin nyata, ketika Sani memberanikan diri untuk menulis, mengirimkannya ke Taufiqurrahman untuk dikomentari, dan juga ke media local berbahasa Indonesia di Hong Kong.  Ketertarikan Sani terhadap dunia kepenulisan mendapatkan wadahnya ketika dia kemudian bergabung dengan FLP-HK.

Bila ketertarikan Sani terhadap dunia kepenulisan dipicu pertemuan dan interaksinya dengan penulis ternama dari tanah ai, Ida meniti jalan yang sedikit berbeda. Kesadaran Ida untuk berubah tergugah ketika ia membaca koran lokal, yang memberitakan tentang sekelompok penulis BMI yang baru saja menerbitkan buku berjudul Hong Kong, Namaku Peri Cinta (2005). Antologi ini adalah karya pertama FLP-HK, sejak komunitas ini berdiri pada tahun 2004. Buku ini mengingatkan Ida kepada hobi menulisnya yang sudah lama terkubur. Dalam pikiran Ida, para BMI yang tercantum dalam antologi itu menghuni sebuah komunitas imajiner yang lama dia impikan. Benedict Anderson (2006) menggunakan istilah imagined community untuk menjelaskan adanya sebuah komunitas, di mana para anggotanya tidak saling kenal, tidak pernah ketemu, dan bahkan tidak pernah mendengar namanya, namun ada rasa bahwa mereka memiliki visi, misi, dan impian yang sama. Merasa menjadi bagian dari komunitas ini—BMI yang bisa menulis—Ida dibangunkan oleh keberhasilan BMI yang sudah berhasil menulis. Maka Idapun termotivasi untuk mengikuti jejak mereka. Dalam pikiran Ida timbul banyak pertanyaan: “Siapa Wina Karnie dan teman-temannya? Apa yang dia lakukan di Hong Kong? Bagaimana dia bisa menulis dan menerbitkan buku? Di mana aku bisa menemuinya?”

‘Pertemuan’ Ida dengan antologi Hong Kong, Namaku Peri Cinta (yang mewakili FLP-HK) menunjukkan bahwa kapital literasi yang dimiliki orang lain bisa memberikan dampak kepada orang lain yang menghargai pentingnya literasi. Sebagaimana yang dikemukakan Allan Luke (2008), nilai yang diberikan terhadap sebuah kapital oleh sekelompok masyarakat menentukan apakah kapital itu memang dianggap sebagai kapital. Persepsi Sani dan Ida tentang pentingnya literasi mempengaruhi cara mereka merespon kapital literasi yang dimiliki oleh orang lain. Popularitas penulis Islami seperti Habiburrahman El Shirazy dan Taufiqqurahman, dan juga antologi yang diterbitkan oleh FLP-HK dinilai Sani dan Ida sebagai kapital literasi. Kapital ini memotivasi meraka untuk kemudian terjun langsung ke praktik literasi.

Keinginan untuk mengembangkan kemampuan menulis ini tentunya juga didorong oleh adanya motif lain, yakni menulis sebagai profesi yang menjanjikan keuntungan finansial. Di sini literasi bergeser maknanya menjadi kapital ekonomi. Saya akan ulas hal ini di tulisan berikutnya.

Advertisements

One thought on “Literasi dan Kapital Budaya

Add yours

  1. ibu..mohon maaf ijin bertanya stlh membaca Literasi n Kapital Budaya. yg ada dibenak n menimbulkan sedikit kebingungan n tanda tanya adl kenapa kata Kapital dilekatkan dgn Budaya? bukankah pengertian budaya lbh dekat dgn pengertian habitus sbg suatu produk hasil dr berbagai macam aktifitas manusia yg kemudian endingnya menjadi seperangkat nilai, norma, aturan, dll. shg menurut sy Habitus Budaya lbh tepat. sedangkan kapital sebagaimana literasi ada didalamnya dan sebgai katalisator dr apapun aktifitas manusia merupakan sebuah proses aktifitas manusia utk melahirkan habitus budaya. emmm…skl lg mohon maaf Ibu berkenaan dgn comment sy yg tentu sangat butuh pemahaman n penjelasan lbh lanjut dr Ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: