Membumikan Kaki

Bergulat dengan buku dan artikel serius, yang membuat kening berkerut, entah berapa bulan berturut-turut, membuat otak saya buntu juga. Capek je. Ini tesis pingin ndang rampung saja (memangnya setelah itu berhenti baca yang serius ta?).

Adanya mbah Kung-nya Adzra, bapak saya, menemani kami di Melbourne sejak tiga minggu yang lalu, ternyata menjadi katalisator buat pikiran yang sudah ter-kooptasi oleh kumpulan teori literasi, modernitas, kapital budaya, dan segenap konsep apapun yang selama ini saya gak kenal (baru terasa ketinggalan ilmu banget).

Bapak saya, yang pembaca tingkat akut itu, dan juga chatterbox kelas wahid, bisa-bisanya melalap semua buku berbahasa Indonesia yang ada di rak buku saya. Dan hebatnya, setelah semua buku dibaca, beliau ‘memaksa’ saya menjadi pendengar yang baik, meladeni ulasan beliau atas isi buku yang sudah dibaca. Saking tidak pernah lepasnya tangan beliau dari buku, dan bahkan bisa mengembangkan cerita, saat menemani Adzra baca buku, sampai Adzra bilang, “Mommy, mbah Kung is really an interesting person.” Mbah Kung-nya ketiwi-tiwi, dan saya mbatin, ‘baguslah nduk, kamu sudah tahu bahwa membaca itu membuat orang jadi keren.’

Tapi ya itu, hobi membacanya jadi harus saya supply. Lha wong buku yang di rumah, kiriman teman-teman milis alumni Unesa, termasuk buku pak Muchlas, Mohon Maaf Masih Compang Camping, dan A Note from Tehran-nya mbak Ikit, semua sudah ludes dan di-review. Urusan supply buku, untung saja Baillieu Library di kampus the University of Melbourne punya segudang buku di Indonesian collection. Mulai karya sastra seklasik Babad Tanah Jawi seri 1,2,3,4, sampai novel Ayu Utami. Mulai biografi pak Karno dari berbagai versi sampai The Ahok Way.

Buku-buku biografi tentang pak Habibie, Ahok, dan siapa lagi saya lupa, pokoknya saya pinjamkan 5 buku, ternyata sudah habis dalam seminggu. Mbah Kung kelihatan sudah mulai bingung mau baca apa lagi (padahal di sela-sela waktu masih tetap baca Qur’an tiap hari). Alhasil kemarin saya memborong lagi buku-buku dari library. Kali ini dengan pesanan, ‘jangan buku tentang Habibie dan sejenisnya, yang bapak sudah tahu.’ (Hehe, karepku carikan buku yang enteng dan sudah familiar je). Jadilah kemarin saya berpindah ke rak buku sastra dan budaya. Ganti pakai selera saya saja. Toh dulu saya mengenal Ahmad Tohari juga dari mbah Kung. Kami sekeluarga dulu mengikuti cerita bersambung Ronggeng Dukuh Paruk di Kompas, langganan keluarga kami jaman muda dulu. Cerbung ini bahan bacaan dan obrolan saya dengan bapak saat itu.

Saya sengaja memilih Nyanyian Malam-nya Ahmad Tohari, Markesot Bertutur punya Emha Ainun Najib, Mangan Ora Mangan Kumpul dan Para Priyayi  karya Umar Kayam. Sementara itu, buat cucunya, yang juga sudah habis 5 buku minggu kemarin, saya pinjamkan buku-buku pengetahuan untuk anak tentang Indonesia, tentang bulan, dan perubahan musim. Cukup buat teman liburan yang sudah masuk minggu kedua ini.

Tapi ya begitulah, ternyata pemilihan judul buku yang sedianya buat bapak saya, ternyata adalah bisikan alam bawah sadar saya (kata Freud, ini adalah cerminan keinginan yang ditekan dalam-dalam). Sambil menyiapkan makan malam buat Adzra (kebab ayam yang tinggal masuk oven, thanks to Ganta yang sudah beli mentahannya tanpa bilang ke ibunya), saya membuka-buku buku Mangan Ora Mangan Kumpul. Sejak masuk backpack, saya sudah melirik-lirik buku ini, pingin dapat sensasinya lagi. Buku Umar Kayam selalu renyah kemriuk, tur jero maknanya. Nasi kebul-kebul hasil pemanasan 1 menit di microwave bercampur dengan harumnya kebab ayam sudah siap di piring. Saya teruskan membaca buku. Sambil cekikikan sendiri. Saya lirik ke sebelah kiri, Adzra lari ke ruang tamu, dan sedetik kemudian memegang buku Charlie and the Chocolate Factory karya Roald Dahl.

Di dapur yang hangat (kena hembusan panasnya oven yang baru saya matikan), yang terdengar adalah gabungan suara sendok beradu dengan piring, tawa lepas cenderung cekakakan saya, dan giggle Adzra yang sesekali berkomentar, ‘it’s so funny,’ ‘that’s impossible,’ ‘how could it be?’ (Sst, jangan ditiru ya, ini bukan model parenting yang baik, makan sambil baca).

Yang jelas sensasi Umar Kayam membuat saya mematikan komputer. Melupakan sejenak draft tesis yang belum kelar. Mengabaikan sebentar pesan ‘gendeng’ dosen yang papasan dengan saya tadi siang di kampus, ‘you’re finishing, Tiwi?. You’ll get there. But don’t sleep.’ Saya iyakan saja, sambil tetap membayangkan tidur saya nanti malam akan tetap pulas tanpa pakai model wayangan. Dan Mangan Ora Mangan Kumpul melelapkan malam yang dingin, memaksa saya mengiyakan bahwa saya adalah bagian dari budaya tempe dan es tung-tung, betapapun lidah ini suka menikmati es krim Sara Lee atau hot chocolate di café dekat rumah. Matur nuwun prof. Umar Kayam (semoga Allah menerima beliau di sisiNya). Kaki ini memang harus terus membumi di kampung nun jauh di sana.

Advertisements

2 thoughts on “Membumikan Kaki

Add yours

  1. Ga nyangka Bu Tiwi berselera juga sama bacaan macam karya Umar Kayam atau Emha…disini, bertahun tahun sudah saya nyebut nama “Emha”…dan setiap orang reaksinya sama: geleng kepala atau “Huh..sopo kuwi?”…hufftt. Mengenaskan..!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: