Menjadi Guru Literasi yang Sukses

Pernahkah terfikirkan bahwa sains dan sastra adalah dua sisi dari sebuah koin? Sedangkan Chaucer saja, penyair Inggris abad medieval, memenuhi baris-baris karyanya dengan ilmu kimia dan astronomi. Namun novel The Hard Times karya Charles Dickens justru mempertentangkan antara nilai utiliarianisme yang diusung sains dan estetika dalam sastra.

Saya termasuk guru yang ingin memasukkan nilai estetika dalam sastra ke dalam sains. Setidaknya, ketika masih sering terlibat sebagai instruktur dalam pelatihan guru-guru RSBI dulu, seringkali saya mengusung karya sastra sederhana yang punya muatan sains.

Dengan banyaknya hasil penelitian yang mendukung content area literacy, saya semakin yakin bahwa literasi memang memerlukan pendekatan interdisipliner dan kolaborasi guru antar bidang ilmu. Mari kita intip satu strategi di bawah ini untuk menjadi guru literasi yang sukses.

Strategi 1: Kembangkan kemampuan berpikir kritis dan rasional melalui fiksi dan nonfiksi di kelas non-bahasa

Regina Foster menulis tentang praktik pembelajaran yang dia lakukan di kelas sainsnya, dengan memanfaatkan karya sastra mainstream untuk mengembangkan critical thinking dan kemampuan nalar siswanya. Teks dipilih berdasarkan muatannya yang dinilai mampu merangsang dan meningkatkan eksplorasi intelektual.

Strategi ini dia bagi pada acara the National Science Teachers Association Conference di California pada tahun 2006. Tujuan literasi yang ingin dicapai adalah agar guru tidak sepenuhnya bergantung pada buku teks, dan memberi peluang pemanfaatan buku-buku populer di kalangan siswa. Berikut adalah daftar judul buku yang sudah terbukti berhasil di praktik pembelajaran di kelas sains.

My Sister’s Keeper karya Jodi Picoult
Novel ini membawa pemikiran kritis atas etika kedokteran, dalam kasus perawatan leukemia seorang gadis remaja, efek kemoterapi, transfusi, dan transplantasi organ. Novel ini digunakan di kelas Biologi, untuk membahas hubungan keluarga dalam menghadapi penyakit seorang remaja, salah satu anggota keluarga. Beberapa bagian dalam novel ini dibahas lebih khusus, sesuai dengan topik bahasan di kelas Biologi.

Bezoar Stones oleh Corey Malcolm dan Harry Potter and the Sorcerer’s Stone karya J.K. Rowlings
Kedua buku ini digunakan di kelas Kimia. Buku yang pertama membahas tentang bezoar stones, sejarah, dan pemanfaatannya. Sihir memang menjadi perhatian utama serial Harry Potter, namun muatan kimianya juga cukup banyak. Bahkan serial Harry Potter dianggap sebagai buku-buku yang memberi peluang sebagai materi untuk memperkaya praktik pembelajaran.

Gorillas in the Mist oleh Dian Fossey dan Woman in the Mist karya Farley Mowat
Beberapa bagian dari judul di atas bisa dipilih untuk pembahasan tentang lingkungan dan ekologi di kelas Sains. Selain itu, isu-isu politis dan budaya juga bisa ditemukan.

Judul-judul di atas saya sebutkan untuk memancing daftar buku yang lebih panjang lagi. Mungkin kita bisa menoleh ke karya-karya di tanah air.

Saya cuma ingin mengatakan bahwa literasi bukan hanya urusan disiplin bahasa/sastra. Pengenalan sains bukan hanya tanggung-jawab guru sains. Kalau ingin memulai pembelajaran tematik, ya harus siap berkolaborasi dan bersinergi.

Ingin menjadi guru literasi yang handal? Nantikan strategi berikutnya ya.

Rujukan: Glasgow, N & Farrell, T. 2007. What Successful Literacy Teachers Do. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: