Paket dari Hong Kong

Pagi tadi saya menerima sebuah paket dari Hong Kong. Kiriman Dhieny Megawati, sahabat saya, ketua FLP Hong Kong. Isinya sudah saya tunggu-tunggu, antologi cerpen Miracle of Life dan antologi puisi Senandung Mimpi Hawa. Keduanya adalah hasil karya teman-teman anggota FLP-HK. Dua buku ini baru saja diluncurkan sebulan yang lalu, tanggal  26/5 2013 di Yuen Long, Hong Kong. Pada tanggal itu,  FLP-HK menggelar Festival Sastra Migran 2013, sebagai puncak agenda literasi yang digeber sejak awal tahun. Pengumuman lomba cerpen, pameran buku, gelar seni, dan launching buku mewarnai acara yang murni dari, oleh, dan untuk BMI.

Saya merasa mendapat kehormatan bisa numpang beken pada kedua karya di atas. Dua puisi saya ikut menyelinap di antologi puisinya. Dan untuk antologi cerpen Miracle of Life, saya ikut meramaikan dengan memberikan kata pengantar. Bila ada yang ingin tahu bagaimana gairah literasi di kalangan buruh migran di Hong Kong, kata pengantar yang saya tulis sedikit bisa memberikan gambarannya. Selamat menikmati.

=========

miracleoflife

Buruh migran domestik merupakan sosok yang sudah lama diperdebatkan sebagai kelompok perempuan yang paling dieksloitasi dan disubordinasi dalam konteks pembagian kerja di dunia kapitalisme global. Meskipun demikian, mereka sebenarnya aktif terlibat dalam berbagai kegiatan untuk bernegosiasi dengan struktur kekuasaan di pasar kerja transnasional. Salah satu praktik sosial yang mengedepankan sosok Buruh Migran Indonesia (BMI) sebagai agen perubahan adalah praktik literasi.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, semakin banyak jumlah BMI yang terjun ke dunia penulisan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa mereka adalah subjek yang aktif dalam upaya negosiasi dengan struktur kekuasaan di dunia migrasi tenaga kerja transnasional. Kegiatan dilakukan secara individu dan kolektif dalam berbagai bentuk, termasuk di antaranya dalam bentuk praktik literasi. Antusiasme BMI dalam bidang penulisan kreatif bisa ditelusuri tidak hanya dalam bentuk publikasi novel, antologi, artikel di media, namun juga di dunia maya dalam bentuk blogging dan media sosial.

Saya mengamati perkembangan dunia literasi di kalangan buruh migran Indonesia secara intensif sejak 4 tahun terakhir. Proses pergulatan secara akademik mulai saya lakukan sejak saya memulai studi S3 saya di bidang Cultural Studies di The University of Melbourne pada pertengahan tahun 2011. Pergulatan saya dengan teks-teks dalam bentuk cetak dan digital, dan kemudian diikuti dengan pertemuan saya dengan penggerak literasi di kalangan BMI, membuat pembacaan saya terhadap antologi ini terasa istimewa. Betapa tidak, antologi yang berisi 22 cerita ini praktis menjawab sebagian besar pertanyaan yang saya ajukan dalam penelitian saya. Pendek kata, inilah karya literasi BMI dalam bentuk paket lengkap.

Secara umum, pemilihan judul antologi The Miracle of Life cukup mewakili tema besar dari semua cerita. Yang menarik dan patut direnungkan, mukjizat yang diketengahkan bukanlah seperti hadiah yang tiba-tiba dijatuhkan Allah dari langit. Ke-22 cerita kompak meyakinkan pembaca bahwa mukjizatpun harus didapatkan melalui perjuangan tanpa henti, kesabaran yang hampir tanpa batas, dan tentu saja doa tak putus kepada Sang Pemberi Hidup. Harapan atas mukjizat di tengah-tengah penderitaan ini tentunya penting, terutama mengingat semua tokoh utama dalam antologi ini adalah sosok buruh migran domestik,  yang sering digambarkan sebagai korban diskriminasi secara gender, kelas, ras, etnisitas, dan kebangsaan. Meskipun demikian, cerita dalam antologi ini bukanlah kisah yang berkeluh-kesah, dan bukan pula cerita tentang protes perempuan atas dunia yang cenderung menempatkannya pada posisi subordinat. Tidak, mereka bukanlah sosok yang pasif dan submisif. Semua tokoh utama di dalam antologi ini adalah agen perubahan, minimal terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekat. Semua penulis mengedepankan rekonstruksi identitas dari sosok pasif menjadi diri yang punya daya dan kekuatan.

Layaknya kumpulan cerita yang diilhami oleh pengalaman hidup penulisnya atau orang lain di sekitar mereka, hampir semua penulis menggunakan sudut pandang ‘aku.’ Dari ke-21 penulis perempuan di sini, hanya Nurul Al ‘amri yang menggunakan sudut pandang orang ketiga. Perbedaan penggunaan sudut pandang ini bisa diartikan sebagai strategi para penulis untuk meyakinkan pembaca. Sudut pandang orang pertama, misalnya, boleh jadi sengaja dipilih karena para penulisnya hanya ingin mengeksplorasi ‘aku’ sebagai tokoh utama. “Inilah kisahku,” begitu kira-kira suara para penulisnya, yang sengaja tidak membuat jarak antara sosok penulis dengan tokoh utama. Sementara itu, Pandan Arum, Mehrunisa Slamet, dan Diana Ramadhaniesta memilih mengisahkan tokoh dengan nama tertentu, meski tetap dalam sudut pandang orang pertama. Strategi ini dapat dinilai sebagai upaya untuk menjaga jarak antara penulis dengan tokoh utama. Penulis bukanlah ‘aku’ dalam cerita, namun berkisah dengan suara ‘aku’ untuk menawarkan kedekatan psikologis dengan tokohnya. Strategi ini boleh dikatakan sebagai upaya untuk meyakinkan pembaca, bahwa cerita yang dituliskan bersifat plausible atau life-like, seperti layaknya di kehidupan nyata.  Sudut pandang orang ketiga biasanya diambil ketika penulis ingin masuk ke pikiran semua karakter, dan tidak hanya bertumpu pada tokoh utama saja. Kemungkinan lain adalah bahwa narrator dalam cerita adalah orang dekat yang tahu seluk-beluk tokoh utama. Dia tidak hanya melihat gerak-gerik tokoh utama, namun juga bisa masuk ke pikirannya. Nurul Al ‘amri  patut dihargai sebagai upaya yang kedua, dan saya kira dengan bertambahnya pengalaman dan jam menulis, strategi ini akan semakin sempurna.

Dalam konteks krisis literasi yang melanda tanah air, di mana minat baca tulis di kalangan masyarakat masih sangat memprihatinkan, justru para penulis antologi ini menyuarakan pentingnya literasi melalui tulisan mereka. Setidaknya, ada 9 cerita yang berbicara tentang peran menulis sebagai terapi jiwa dan pemberdayaan diri dan keakraban para BMI (termasuk para penulis sendiri) dengan dunia literasi digital. Berbagai strategi dilakukan oleh para tokoh untuk menjaga agar gairah menulis mereka tetap menyala. Cerita penolakan majikan terhadap hobi menulis sering saya dengar dan baca dari tulisan BMI yang lain, namun beberapa cerita di antologi ini menunjukkan pada pembaca bahwa kejujuran dan keterbukaan, serta hubungan egaliter dengan majikan dan anggota keluarganya justru menawarkan kebebasan berekspresi. Cerita “Sandiwara Upik Abu” oleh Dhieny Megawati, misalnya, mengungkap susahnya berpura-pura menjadi bodoh dan gaptek, sementara tokohnya, termasuk sosok yang ‘tech-savvy.’ Lebih dari itu, cerita ini menyiratkan diskriminasi ras dan kebangsaan, yang sedihnya, menempatkan BMI pada sosok subordinat. Sambil menggaris-bawahi isu besar yang banyak dibahas di penelitian tentang buruh migran, Dhieny sekaligus mendekonstruksi stereotip negatif yang menempel pada sosok BMI. Hubungan egaliter dengan majikan terbukti berperan penting mendukung keterlibatan BMI di dunia literasi. Hal ini diamini oleh Indira Margaretha, Ajeng Yusaku, dan Yuli Duryat melalui tokoh ‘aku’ dalam tulisan mereka. Saya yakin bahwa kemampuan menulis yang digambarkan para tokoh dalam cerita mereka mendongkrak posisi tawar mereka di mata majikan.

Kisah-kisah lain tak kalah menariknya, seperti yang diungkap oleh Mega Bintang, Sofia Alfajar, dan Anna Ilham. Isu peran perempuan sebagai ibu di dunia global membuat tokoh-tokoh mereka berganti peran sebagai pencari nafkah utama buat keluarga nun jauh di tanah air. Meski demikian, bentangan jarak tidak cukup kuat menjadi tabir penghalang panggilan naluri keibuan. Akan halnya cerita oleh Anna Ilham, tema konflik antara majikan perempuan, menantu perempuan, dan domestic helper yang juga perempuan, menggaris-bawahi kesenjangan antar generasi dan batas-batas etnisitas. Cerita yang nampaknya sederhana ini sebenarnya layak direnungkan, mengingat cukup besarnya potensi isu konflik tersebut dalam kompleksitas masalah tenaga kerja domestic transnasional.

Satu catatan yang patut direkam adalah bahwa religiusitas berperan amat penting dalam keseharian para BMI. Meski dengan setting Hong Kong, sebenarnya para penulis di antologi ini mewakili suara saudara-saudara mereka yang tengah berjuang sebagai buruh migran di negara lain. Apapun masalah yang dihadapi para tokoh di sini, mulai gaji di bawah standar, pelecehan seksual, penelantaraan, kekerasan psikis dan fisik, terbelit hutang, terjebak pergaulan yang salah, semua penulis sepakat menggambarkan penyerahan diri pada Allah sebagai jawabannya.  Sebagai kumpulan cerita Islami, saya bersyukur tidak melihat adanya pemaksaaan penggunaan istilah atau perilaku tokoh agar label Islami terasa, yang acapkali malah merusak alur cerita. Antologi ini mengedepankan pentingnya bersyukur, berdoa, dan terus berupaya, sebagai bagian dari penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa.  Itulah yang kemudian membuat semua cerita di sini berakhir dengan happy ending. Mukjizat Allah pada hakekatnya adalah manifestasi kebahagiaan sebagai hasil dari perjuangan dan rasa syukur.

Melalui tulisan mereka, para penulis perempuan yang tergabung di Forum Lingkar Pena Hong Kong ini mampu membuktikan bahwa dunia buruh migran bukanlah dihuni oleh sosok yang dungu dan pasif. Dunia BMI adalah dunia yang memiliki pola, yang diwarnai oleh tulisan kreatif sebagai artefak budaya. Saya berani mengatakan bahwa para penulis BMI ini telah berhasil merekonstruksi identitas individual dan kolektif, dengan menciptakan citra ‘smart, educated, and creative, pada BMI yang juga perempuan, perempuan yang kebetulan menjadi BMI. Pada akhirnya, citra baru ini akan memberikan kekuatan pada BMI yang lain pada khususnya, dan perempuan pada umumnya.

Bahwa artefak budaya yang sengaja dipilih sebagai pembuktian diri adalah tulisan, ini justru membuktikan bahwa perempuanlah penanda penting dalam sebuah peradaban, sedangkan peradaban itu tetap ada karena keabadian tulisan sebagai salah satu artefaknya. Saya menganjurkan kepada siapa saja yang peduli dengan pentingnya dunia literasi untuk memakmurkan peradaban bangsa kita, dan yang percaya dengan peran penting perempuan sebagai penanda peradaban, untuk membaca kumpulan cerita The Miracle of Life ini. Bila Anda merasakan nurani kemanusiaan Anda tersentuh, insya Allah itulah mukjizat yang ditanamkan Yang Kuasa di batin Anda.

Pratiwi Retnaningdyah, pengamat budaya, pengajar Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: