Ke Mana Arah Gerakan Literasi Kita?

Review buku Suara dari Marjin oleh Hernowo Hasim (penulis)

Ketika draft buku Suara dari Marjin dikirimkan kepada saya, saya langsung bilang ke Mbak Tiwik—panggilan akrab Pratiwi Retnaningdyah—dan Mbak Sofie bahwa Bab 2 dan Bab 3 sangatlah mengesankan diri saya. Dua bab tersebut berisi pengalaman literasi kedua penulis buku yang juga menjadi anggota satuan tugas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud.
Mbak Tiwik adalah doktor literasi dari Universitas Melbourne, Australia, sementara gelar doktor Mbak Sofie diraih di Universitas Illinois, Amerika Serikat. Sebelum saya memperoleh buku karya kolaborasi mereka, saya sudah membaca banyak tentang pengalaman literasi Mbak Tiwik lewat website IGI yang diposting oleh Pak Satria Dharma. Tulisan-tulisan Mbak Tiwik sangat menginpsirasi saya untuk menggerakkan literasi sejak dini.
Saya baru mengenal secara dekat Mbak Sofie ketika diundang oleh satgas GLS—yang diketuai oleh Dr. Pangesti Wiedarti—dalam acara FGD yang membahas topik penjenjangan buku. Sehabis ketemu di acara tersebut, Mbak Sofie kemudian mengirimkan beberapa file artikel yang ditulisnya tentang literasi kepada saya via email. Saya pun banyak mendapat sudut pandang baru dalam memandang literasi.
“Menjadi literat lebih kompleks dari sekadar memahami simbol tertulis,” tulis Mbak Sofie di halaman 26 ketika menjelaskan pengalaman literasinya di negara Paman Sam. “Perlakuan yang diberikan kepada kelompok minoritas yang tidak berbicara dengan bahasa kaum mayoritas, tidak berperilaku, atau berpikir, atau memahami konsep tentang kebersihan, keamanan, gaya hidup sehat, memuat diskursus tentang literasi yang bukan sekadar aksara, namun juga cara hidup dan berbudaya.”
Dan salah satu pengalaman literasi Mbak Tiwik yang saya ingat hingga kini—saya memposting di Facebook pada 24 Juni 2012 dan saya posting ulang pada 2 Maret 2015—adalah tentang “reading center”. Mbak Tiwik menulis, “Yang dimaksud Reading Centre ini sebenarnya hanyalah salah satu ujung ruang bermain seluas 1 X 1 meter persegi. Ada rak buku kecil dan beberapa buku. Di atas rak yang lain ada beberapa kardus berisi buku. Empat kursi sofa untuk ukuran anak-anak ditata seperti ruang tamu. Tidak luas, namun nyaman.
“Ada sebuah poster tertempel di dinding yang menyebutkan fungsi Reading Centre sebagai tempat anak-anak untuk bersantai, menikmati dan mengeksplorasi buku-buku dalam suasana yang tenang dan menyenangkan. Anak-anak bisa merasakan pengalaman memegang dan membaca buku, terlibat dalam komunikasi non-verbal, memaknai gambar dan teks, dan bercakap-cakap tentang apa yang mereka temukan dalam buku-buku tersebut. Pengalaman-pengalaman inilah yang akan membawa mereka ke ‘pengalaman membaca yang sebenarnya.”
Terus terang pengalaman literasi Mbak Sofie dan Mbak Tiwik tersebut kemudian sedikit “memaksa” dan mengarahkan saya untuk membaca secara mendalam Bab 7. Judul Bab 7 buku Suara dari Marjin kemudian saya pakai untuk menjuduli tulisan saya ini. Mbak Sofie dan Mbak Tiwik dengan bagus mempertanyakan arah gerakan literasi kita. Katanya, literasi saat ini diperlakukan seperti fashion. “Kita beramai-ramai memakainya agar tak tertinggal gerbong pendidikan modern. Pada gerbong ini, kriteria kemelekaksaraan menjadi usang. Kita mengamini bahwa seseorang tak cukup dapat membaca. Ia harus dapat memahami bacaan tersebut, menganalisis, memilahnya, lalu menggunakannya untuk meningkatkan taraf kehidupan…. Namun, apakah gerakan literasi kita melangkah ke arah yang seharusnya?”
Buku Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial (PT Remaja Rosdakarya, Mei 2017) sangat mencerahkan diri saya. Apakah suara-suara yang berasal dari buku ini akan didengarkan oleh bangsa yang sedang mabuk literasi saat ini? Apakah arah gerakan literasi—yang dicoba dikritisi oleh buku ini—akan benar-benar melangkah ke arah yang seharusnya? Apakah literasi lokal yang mengakar pada kekhasan praktik budaya dan jati diri bangsa—sebagaimana dibahas dengan sangat menarik oleh buku ini—akan mendapat perhatian pula?
Terima kasih Mbak Sofie Dewayani dan Mbak Tiwik yang sudah menulis buku bagus dan penting ini.[]

 

Advertisements

Literasi yang Memberdayakan

Ulasan Talk Show saat peluncuran buku Suara dari Marjin di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2017 di JCC, 8 September 2017

http://mediapublica.co/2017/09/15/indonesia-international-book-fair-iibf-2017-literasi-yang-memberdayakan/

Jakarta, Media Publica – Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional yang jatuh pada tanggal 8 September,  Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menyelenggarakan acara pameran buku Indonesia International Book Fair (IIBF) 2017 yang bertajuk ‘Literasi yang Memberdayakan’. Acara yang bertempat di Assembly Hall Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat ini telah berlangsung sejak 6 September 2017 dan didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) serta dihadiri oleh sejumlah penulis dan penerbit buku yang turut menyuarakan gerakan literasi di Indonesia.

Literasi merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk. Penyelenggaraan acara IIBF 2017 ini tidak lepas dari upaya memaknai pentingnya literasi dalam mengolah dan mengkritisi informasi. Diperlukan kemampuan untuk mengetahui informasi dengan benar. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Pratiwi Retnaningdyah selaku penulis buku ‘Suara Dari Marjin’ sekaligus anggota Satuan Tugas (Satgas) Gerakan Literasi Sekolah di Kemdikbud.

“Literasi saat ini perlu dimaknai bahwa kita harus mempunyai kemampuan untuk mendapatkan, mengolah, mengevaluasi, mengkritisi, dan juga menciptakan informasi. Semua itu harus diawali dari membaca dan menulis, tapi memang sekarang ini kita tidak lagi bicara tentang baca tulis. Kita harus bicarakan bagaimana kita mempunyai kemampuan untuk mengolah informasi itu,” ujarnya saat ditemui oleh Media Publica, Sabtu (9/9).

Menurut Pratiwi, pemahaman literasi tidak hanya diperoleh dari buku-buku bacaan, melainkan cerita yang dibuat dari kearifan lokal juga merupakan bagian dari literasi. Baginya, literasi tidak hanya buku yang bersifat cetak. Adanya tradisi lokal melalui pembacaan dongeng juga menjadi bagian dari upaya penumbuhan literasi di sekolah. “Di daerah terpencil ada banyak guru yang karena tidak ada buku mereka bisa membuat cerita dari kearifan lokal, itu kan bagian dari literasi. Tapi karena kita suka terobsesi dengan sesuatu yang besar dan kolosal, hal-hal yang marjinal itu jadi tidak dilirik,” jelasnya.

Selain itu, Pratiwi menjelaskan bahwa cara lain yang dapat dilakukan sebagai transisi ketika anak mulai bosan membaca adalah dengan menyaksikan film pendek dan membaca buku bergambar. Cara ini diharapkan mampu melatih kecakapan literasi anak dan belajar berdiskusi.

Upaya meningkatkan pemahaman literasi juga dilakukan oleh pemerintah melalui Kemdikbud dengan membuat Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar para siswa memiliki budaya membaca dan menulis. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah membaca buku non pelajaran selama  15 menit sebelum waktu belajar dimulai.

Hernowo Hasim selaku penulis buku ‘Mengikat Makna’ yang juga hadir dalam acara tersebut menambahkan bahwa konteks dasar dari literasi adalah membaca. Meskipun minat membaca masyarakat Indonesia tergolong rendah, hal ini dapat ditingkatkan kembali melalui gerakan literasi sekolah. Selain itu, perlu adanya sosok public figure  yang ikut serta memberi teladan untuk gemar membaca.“ Kalau di Barat ada sebutan ‘The Reading Mother’ untuk orang yang memberikan teladan. Contohnya seperti Presiden Obama, pemain NBA dan tokoh-tokoh penyanyi. Semua menggalakkan literasi. Jadi, semua turun tangan untuk menunjukkan bahwa membaca itu penting dan menjadikan saya sukses,”  tutupnya.

Repoter: Ranita Sari & Via Oktaviani

 

Memerdekakan Literasi

Review buku Suara dari Marjin oleh Fatih Zam

https://www.alineatv.com/2017/08/memerdekakan-literasi/

BILA meminjam istilah dunia virtual, literasi berikut derivasinya tampaknya sedang viral saat ini. Literasi bagaikan fashion, kata Dewayani dan Retnaningdyah (2017), orang beramai-ramai memakainya agar tidak ketinggalan mode. Literasi seolah telah menjadi brand baru bagi pendidikan modern. Hampir seluruh istilah yang berkaitan dengan ‘pendidikan’ atau ‘pengetahuan’ telah berganti baju menjadi literasi. Bukan hanya pegiat dan relawan, kepolisian sampai presiden pun turut ambil bagian.

Akan tetapi, di tengah geliat dan popularitasnya, kampanye literasi masih dilingkupi perasaan inferior. Inferioritas tersebut bahkan diembuskan oleh para pegiatnya sendiri. Saya masih kerap menjumpai makalah-makalah atau ceramah-ceramah literasi yang masih dihiasi data-data survey internasional yang menempatkan Indonesia hampir selalu berada pada ranking terbawah.

Saya sudah lama memendam perasaan tidak setuju dengan kampanye literasi yang menghidangkan ranking dan data berdasarkan survey internasional sebagai titik pijaknya. Saya pun sudah lama tak mengindahkan ujaran-ujaran yang mengatakan bahwa indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001, siswa di Indonesia membaca 0 buku dalam setahun, atau data teranyar dari studi Most Littered Nation in The World yang menempatkan Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara. Saya percaya, setiap negara memiliki kekhasannya masing-masing. Dari segi jumlah penduduk, misalnya, rasanya tak apple to apple membandingkan Indonesia dengan Singapura, misalnya, yang jumlah penduduknya tidak sebanding. Itu belum melihat aspek lain, misalnya keragaman karakter dan kebudayaan.

Dalam buku “Suara dari Marjin” (Rosda Karya, 2017), Dewayani dan Retnaningdyah menuturkan bahwa pengaruh survey internasional memang telah berhasil menginduksi berbagai kebijakan. Sayangnya, kentara betul bahwa gerakan literasi yang dikobarkan pemerintah masih terkesan demi mengejar berbagai ketertinggalan versi survey internasional tersebut. Oleh karena orientasinya mengejar ketertinggalan tanpa ditopang penelitian yang holistis, maka kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan pemerintah masih bersifat artifisial, seremonial, kurang esensial, dan berujung menjadi rebutan proyek.

Kondisi demikian memunculkan aktor-aktor, yang oleh Iqbal Dawami (2017) disebut sebagai pseudoliterasi. Pseudoliterasi adalah mereka yang berkedok pegiat literasi namun pada kenyataannya tengah berebut aneka proyek untuk keuntungan pribadi. “Saya sering melihat para aktivis literasi mengampanyekan untuk membaca, tetapi dirinya tidak membaca.” Demikian Iqbal melontarkan keresahannya dalam buku Pseudoliterasi (Maghza, 2017). Ya, bagaimana mungkin kampanye membaca dan menulis digalakkan oleh mereka yang tidak menjadikan membaca dan menulis sebagai kegiatan dalam keseharian? Kemunculan pseudoliterasi, menurut Iqbal, tak bisa dihindari karena motif awal kampanye yang dicanangkan pemerintah pun sekadar memperbaiki peringkat. AS Laksana, sebagaimana dikutip Iqbal, menyebut kampanye gerakan literasi saat ini ibarat perayaan tujuh belas Agustusan, yang pesan utamanya hanya: “Kami telah menjalankan anjuran untuk memasyarakatkan budaya membaca.”

Literasi Ideologis

Kampanye literasi yang artifisial sangat mudah kita identifikasi cirinya. Tengoklah lini masa media sosial kita. Akan kita jumpai foto-foto anak-anak yang sedang berpose membaca buku, atau anak-anak yang berbaris sambil menampilkan salam literasi (ibu jari dan telunjuk diacungkan membentuk huruf L). Foto-foto yang ditampilkan hampir seluruh komunitas literasi tersebut tentu saja tidak salah. Akan tetapi, foto tersebut menjadi ciri betapa gerakan-gerakan literasi menjadi sungguh artifisial manakala para pegiatnya alpa melaporkan hasil baca, menyodorkan karya dan sebagainya. Keberhasilan gerakan literasi, bagi para pseudoliterasi ini, dicirikan oleh adanya kemeriahan dan pencitraan.

Dewayani dan Retnaningdyah dalam Suara dari Marjin (Rosda Karya, 2017), mengajak kita untuk memahami bahwa literasi memiliki makna lebih daripada sekadar kampanye penumbuhan minat baca dan program tantangan membaca yang didengungkan dengan meriah. Kampanye literasi, tambah mereka, hendaknya tidak memaksakan program yang seragam kepada komunitas masyarakat. Dewayani dan Retnaningdyah menawarkan konsep literasi ideologis.

Literasi ideologis adalah upaya menitikberatkan pada upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami teks (seperti teks cetak, digital, teks budaya, teks religius) untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Titik pijaknya adalah “memahami”. Seseorang atau masyarakat tidak mungkin memiliki pemahaman tanpa mengalami atau terlibat yang dalam istilah Dewayani dan Retnaningdyah disebut trajektori. Trajektori literasi adalah lintasan pengalaman seseorang ketika memaknai kegiatan membaca dan menulis untuk mencerna pengetahuan (2017:24).

Bagaimana cara menuju literasi ideologis? Kuncinya ada pada keteladanan. Apakah kebijakan bidang literasi ini telah terinternalisasi dalam pribadi pengambil kebijakannya?

Apakah di lingkungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, kegiatan membaca dan menulis sudah menjadi tradisi? Di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, sudahkah pejabat-pejabatnya sampai pegawai-pegawainya menjadikan membaca dan menulis sebagai tradisi? Jika hal itu belum menjadi kebiasaan yang mengakar, maka gerakan literasi yang sejauh ini sudah dilakukan hanya sandiwara belaka, yang dalam bahasa Erving Goffman sebagai dramaturgi literasi.

Saya mengajak siapa saja, terutama para pengambil kebijakan di bidang literasi, untuk memerdekakan literasi kita dari ranking-ranking internasional. Upaya membumikan gerakan literasi harus dimulai dari bumi kita, dari kultur kita, dari kondisi masyarakat kita, bukan dari langitan, dari tes-tes dan survey internasional. Karena gerakan literasi yang berangkat dari sosiokultural kita akan mensyaratkan keterlibatan langsung para pelakunya, sehingga suasana maupun hasilnya mampu membangkitkan kesadaran, membentuk pribadi yang lebih kuat, dan lebih tepat sasaran. Bukan hanya itu, praktik literasi yang ideologis seperti itu bisa berlangsung secara mandiri, penuh idealisme, saling menguatkan. Dan sebenarnya, gerakan-gerakan seperti ini telah berlangsung cukup lama, namun terabaikan oleh pemerintah yang terbius oleh obsesi mengejar ketertinggalan berdasarkan ranking yang dibuat lembaga-lembaga internasional itu.

Praktik Literasi yang Ideologis

Review buku Suara dari Marjin oleh Iqra di blog pribadinya:

http://kulimaspul.com/2017/09/08/praktik-literasi-yang-ideologis/

Rie rie, seorang pekerja asing berusaha menggeser paradigma perihal buruh migran Indonesia (BMI) di Hongkong. Di sela-sela kesibukan rumah tangga yang dibebankan kepadanya, ia memanfaatkan waktu yang sedikit untuk menulis di blog. Kadang menulis dilakukan di waktu sedang masak atau mengurusi hal lain. Selain Rie rie, ada pula BMI yang lain, yang justru harus menyembunyikan catatan agar tidak ketahuan majikan. Mereka seolah berjibaku dengan aktivitas yang padat.

Jauh dari pada itu, migran asal Indonesia di Hongkong membentuk kelompok menulis dan membuka lapakan buku setiap akhir pekan di ruang publik. Ini mengisyaratkan bahwa ‘babu’ bukan berarti tak berpikir maju dan berwawasan. Ada semacam kesadaran bahwa mereka membutuhkan pengetahuan yang luas dan kemampuan berbahasa agar berdaya di negeri rantau.

Cuplikan narasi di atas diterangkan dalam “Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial” oleh Pratiwi Retnaningdyah. Pratiwi menelaah istilah babu atau buruh migran yang kerap dianggap pekerjaan rendahan, yang oleh Rie rie didekonstruksi lewat medium teks. Melalui akun blog berjudul Babu Ngeblog yang dimiliki Rie rie, ia bercerita tentang keseharian sebagai pembantu tumah tangga di Hongkong. Posisi subordinat yang lekat pada istilah ‘babu’ dilawan dengan praktik literasi yang menggugah. Inilah sebuah praktik dimana literasi menjadi energi ideologis.

Dalam buku yang sama, Sofie Dewayani pun menunjukkan bagaimana komunitas anak-anak jalanan terjamah nuansa praktik literasi. Literasi digerakkan dalam kultur yang melingkupi. Olehnya proses yang digiatkan mendayagunakan teks kultural (Dyson). Salah satu metode yang tergambar ialah mengacu pada perspektif Lev Vygostky, yakni pengetahuan lokal-aktual personal (anak-anak) menjadi respon dan titik anjak pegiat literasi (guru) untuk memacu potensi secara proporsional. Pendampingan literasi demikian menjadi ilustrasi pengunaan daya (literat) menjadi medium untuk mengembangkan habitus atau komunitas (Boerdieu).

Buku ini pun menawarkan pijakan reflektif untuk mengeksplorasi literasi lokal. Praktik literasi yang dinarasikan oleh Pratiwi dan Sofie menjadi contoh bagaimana literasi beradaptasi dan terintegrasi kedalam stuktur dan kultur yang unik. Senada dengan Pahl dan Rowsell, mereka menjelaskan perlunya jalinan yang berkelindan pada praktik literasi informal sebagai bagian dari pendidikan formal. Yang tentunya mengisyaratkan agar lembaga pendidikan formal memberi jalan kepada peserta didik menggali potensi (karakter) lewat akses literasi yang tersedia di luar sekolah.

Respon mereka terhadap gerakan literasi juga tak pelak menyentak pegiat literasi agar bergerak lebih jauh. Kala gerakan literasi sedang semarak pada pemenuhan akses (ruang baca) dan penumbuhan membaca secara fungsional, justru ajakannya memantik kita untuk menjadikan literasi sebagai alat pembebasan dan melejitkan kualitas hidup masyarakat. Tak hanya berpacu dalam kampanye gerakan membaca (literasi) otonom, dan tidak dengan cara mekanistis. Refleksinya, literasi ideologis bergerak secara dinamis dalam merespon identitas, lokalitas dan kebutuhan masyarakat.

Literasi Lokal

Aksi literasi yang terintegrasi dalam lokalitas sudah saatnya diaktualisasikan. Literasi tidak cukup sekedar berkutat pada literasi dasar. Ini mengartikan bahwa teks (pengetahuan tercetak) bukanlah instrumen yang selalu mengemuka (dominan). Sebab jika literasi dipahami dalam makna yang agak luas, maka pegiat literasi dapat memerankan kemampuan literasi. Artinya pegiat adalah teks yang cair, sebuah dorongan menerjemahkan teks dalam gerakan yang adaptif dan dinamik. Namun pegiat (pengetahuan lokal) semacam itu hendaknya mampu memberikan pengaruh dan sanggup menciptakan pemberdayaan yang berkesinambungan. Disamping karena ia berangkat dari teks, sudah sepantasnya untuk terus memadukan pengetahuan eksplisit dan implisit (kultural).

Berdasar itu, literasi lokal bukanlah seberapa tekunnya merengkuh makna dari teks. Saat kita berbicara dalam konteks masyarakat agraris, maka literasi bisa saja berkonsep agroliterasi dan memungkinkan bergerak simultan dengan ecoliterasi. Tumbukan itu akan senantiasa dipercakapkan agar memadukan kehidupan yang egaliter. Tanpa ketimpangan, literasi lokal akan bergerak pada kearifannya yang khas. Antara rasio dan spirit menjadi harmoni.

Kalaulah harmonisasi itu berlanjut maka barangkali literasi menjadi budaya. Seirama yang dikatakan dalam karya Sofie dan Pratiwi di atas, bahwa suatu saat kala cara pandang literat mempengaruhi pola pikir dan sikap hidup bangsa, maka Indonesia tak lagi merasa perlu melantangkan istilah literasi.

Sastra dan Pendidikan Karakter

Review buku Suara dari Marjin oleh Eka Sugeng Ariadi

http://harianbhirawa.com/2017/07/sastra-dan-pendidikan-karakter/.

Pendidikan karakter telah digaungkan, dan tak lama lagi ditetapkan sebagai model pendidikan di negeri ini untuk sekarang dan beberapa tahun ke depan. Pro-kontra tentu sudah lumrah mengiringi tiap kebijakan baru, pameo “ganti menteri ganti kebijakan” menjadi hukum alam, tinggal semua pihak menyikapinya dengan senantiasa duduk bersama, mengutamakan kepentingan bersama,menyisihkan kepentingan satu kelompok/golongan semata. Tulisan ini, sejenakberalih dari perdebatan akademik, sosial, politik, dan lain-laintentang kebijakan baru pemerintah di bidang pendidikan yang tentunya saat ini masih dipersiapkan lebih matang ke esensi perubahan yang diinginkan, yakni penguatan pendidikan karakter bagi peserta didik. Melalui media ini, penulis menyuarakan bahwa apapun konsep perubahan yang ditawarkan beserta proses pembelajaran yang akan membungkusnya,pembentukan karakter ideal anak bangsa hendaklah tak lupa peran unik sastra sebagai bagian dari pendukungnya. Bukan tidak mungkin, justru sastra yang akan mengambil bagian terbesar atau menjadi ujung tombaknya.
Sastra dalam Riset
Pratiwi Retnaningdyah, dalam bukunya Suara dari Margin -Literasi sebagai Praktik Sosial-, memaparkan hasil riset pendidikan baik dari luar negeri maupun dalam negeri tentang hubungan antara sastra dan prestasi akademik siswa. Pertama, hasil penelitian dari luar negeri yang dilakukan  ESRC (Economic and Social Research Council)sampai pada kesimpulan bahwa ternyata buku-buku fiksi membentuk karakter siswa gemar membaca dan efek selanjutnya adalah siswa yang gemar membaca prestasi akademiknya lebih baik daripada yang malas membaca. Tak heran, kemudian Amerika, Inggris, dan Selandia Baru mengalokasikan dana besar-besaranuntuk menambah koleksi buku-buku fiksi di perpustakaan sekolah, tentu dengan harapan melejitnya prestasi akademik siswanya. Kedua, hasil penelitian dalam negeri yang dilakukan oleh Kemendikbud dengan program INAP (Indonesian National Assessment Program) di tahun 2016 pada anak kelas 4 SD se-Indonesia menghasilkan fakta dan data bahwa kemampuan siswa dalam memahami teks sastra lebih rendah (skor 27.65) daripada teks nonsastra (skor 43.34). Maka, tak heran pula, sejak Indonesia ikut dalam tes PISA (Programme for International Student Assessment)-tesuntuk mengukur kecakapan literasi membaca, sains, dan matematika- siswa kita tak kunjung beranjak dari posisi bawah. PISA tahun 2009, Indonesia berada di peringkat ke-57 dari 65 negara. Berikutnya tahun 2012, ada di peringkat ke-64 dari 65 negara. Kemudian tahun 2015, di peringkat ke-64 dari 72negara.
Hasil riset diatas seakan mendidihkan denyut nadi sebagian praktisi pendidikan (termasuk penulis) untuk segera beraksi nyata, mengentas siswa dari keterpurukan intelektual dan kemerosotan karakternya.Semoga api semangat semakin membara, menjadikan karya sastra sebagai faktor utama atau ujung tombak suksesnya pendidikan karakter seperti yang diimpikan.Jonathan Haidt, peneliti pendidikan, mengingatkan bahwa,”Human mind is a story processor, not a logic processor”, design otak manusia itu lebih mudah mencerna informasi atau ilmu yang disampaikan dalam bentuk cerita daripada bentuk angka-angka. Maka dari itu, kemampuan dan kesediaan seorang pendidik untuk mulai belajar sastra serta menggunakannya dalam proses belajar mengajar di kelas tentu sangat dibutuhkan.Apapun mata pelajaran yang diampuhnya, sastra bisa menjadi media ‘pembungkusnya’.
Sastra dalam Karakter
Bicara karakter, di sastra-lah tempatnya. Mau menciptakan karakter apa saja pasti bisa, baik yang protagonis maupun antagonis. Demikian pula merencanakan output siswa berkarakter dalam dunia pendidikan, kurang lebihnya sama seperti yang sudah banyak dinarasikan dan diabadikan dalam karya-karya sastra. Mau mencetak lulusan yang protagonis alias berkarakter baik, atau menghasilkan lulusan yang antagonis alias berkarakter buruk, semua tergantung ‘penulisnya’. Orang tua, pendidik, pemerintah, dan masyarakat luas adalah ‘penulis-penulis’ handal yang akan menentukan baik tidaknya output karakter yang diinginkan.
Datuk Panji Alam Khalifatullah, gelar bagi Taufiq Ismail, seorang penyair dan sastrawankenamaan negeri ini, dalam pidato kebudayaan tahun 2008 berjudul Budidaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka, mengingatkan akan kerusakan-kerusakan karakter yang sebenarnya dihasilkan oleh para penulisnya. Seperti pada poin ke-3, diceritakan bahwa ada beberapa guru SMA menyampaikan keluhan, “Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan dan memalukan.” Hal ini disebabkan tak lain karena semakin maraknya produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi mengumbar syahwat. Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial yang kemudian ditayangkan pada jam prime time. Oleh karena itu, sastra dengan mudah bisa menjadikan orang yang membaca dan menikmatinya menjadi pribadi yang berkarakter buruk. Namun sebaliknya, sastra bisa menjadikan orang berkarakter baik, sebagaimana yang dialami oleh Rie rie, seorang buruh migran di Hong Kong. Meski hanya seorang buruh dari desa, dia mampu menulis dan menciptakan banyak karya tulis (esai, opini, cerpen, dan lain-lain) yang dituangkan dalam ‘rumah’ virtualnya, babungeblog.blogspot.com. Dengan kreatifitasnya ini, dia mampu menggerakkan teman-teman seprofesinya untuk berbuat hal yang sama, menciptakan komunitas, dan pada akhirnya menciptakan karakter buruh yang lebih baik dan bermartabat.
Sebagai penutup, harapan penulis, jika pemerintah ingin benar-benar menetapkan pendidikan berkarakter sebagai kebijakan pendidikan untuk tahun ini dan seterusnya, maka sangat urgen pendidikan kesusastraan diberikan secara eksplisit dan terprogram bagi pendidik dan peserta didik. Untuk menjadikanseorang pendidik yang sastrawan, tidak harus sangat menguasai teori-teori sastra dan paham secara mendalam berbagai macam kritik sastra.Bagi pendidik mata pelajaran nonsastra, setidaknya mau membaca karya-karya sastra yang ada kemudian dikaitkan dengan bidang keilmuan yang dimiliki, lalu digunakan dalam proses pembelajaran.Bagi lembaga-lembaga pendidikan, jangan kesampingkan keberadaan dan kebutuhan buku-buku fiksi di perpustakaan, karena kreatifitas peserta didik dan daya imajinasinya tidak semata lahir dari buku-bukuwajib atau nonfiksi. Segera susun program dimana peserta didik mau menikmati karya sastra sebagai bahan bacaan yang menyenangkan reading for pleasure) bukan sekedar sebagai bahan hafalan lalu diberikan pertanyaan-pertanyaan klasik seperti dalam ujian.Di negara bagian Victoria, Australia, siswa setingkat SMA wajib dan harus menyelesaikan program membaca sebanyak 36 karya sastra (baik novel, puisi, drama, dll) dan teks nonfiksi selama mereka 3 tahun belajar (Retnaningdyah, 2017). Sekolah kita kapan?

Arah Baru Literasi Indonesia

Review buku Suara dari Marjin oleh Ahmad Wiyono

http://koran-sindo.com/page/news/2017-08-13/0/2/Arah_Baru_Literasi_Indonesia

United Nations Educational Sceintific and Cultural Organization (Unisco) tahun lalu merilis hasil survei gerakan literasi internasional. Yang mengejutkan adalah posisi Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang menjadi objek survei intensif tersebut.

Tentu ini satu kenyataan yang memilukan. Bahwa posisi literasi bangsa kita masih kalah jauh dengan beberapa negara di dunia, bahkan dengan negara tetangga di Asia yang sama-sama tergolong negara berkembang. Apa penyebab kemesorotan tingkat literasi tersebut? Di antara sekian banyak penyebab terpuruknya budaya literasi dinegeri ini, salah satunya adalah sifat malas yang masih menggurita dalam jiwa segenap bangsa kita.

Perhatikan misalnya saat anak-anak diarahkan untuk menggalakkan budaya baca. Mereka lebih tertarik menjadi pendengar ketimbang menjadi pembaca. Atau dalam pengalaman keseharian anak-anak di kota, mereka lebih suka mendengar atau menonton berita ketimbang membaca buku. Endy Bayuni, editor senior The Jakarta Post, menyebut fenomena itu sebagai penyakit literasi.

Penyakit literasi lebih condong pada tradisi lisan, yaitu mendengarkan orang berbicara. Ini setidaknya salah satu akar masalah yang menyebabkan budaya baca tidak terbentuk. Padahal tradisi lisan yang dimaksud tak lebih hanya pembelaan atas lemahnya budaya baca itu sendiri. Sebagai langkah strategis dalam mengimbangi capaian literasi global tersebut, perlu ada konsepsi baru di bidang literasi.

Konsep baru ini menjadi arah baru serta jawaban atas kegundahan literasi Tanah Air. Tentu gerakan literasi baru ini hadir tidak dalam rangka sebagai alibi atas kegundahan posisi literasi kita di kancah global, tapi lebih sebagai solusi untuk membangkitkan kembali energi literasi bagi segenap bangsa Indonesia bahwa mengatasi ketertinggalan dalam capaian literasi internasional adalah sesuatu yang wajar.

Kendati demikian, mengembangkan yang sudah ada juga suatu keniscayaan. Salah satu buku yang peduli dengan persoalan literasi bangsa yang rendah adalah Suara Dari Marjin, karya bersa Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Buku ini boleh dibilang awal mula dari percakapan baru tentang dunia baca dan tulis, tentang literasi, tentang interaksi pengetahuan dan tentang cara berpikir.

Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah melalui karya bersama Suara Dari Marjin tampak sedang berupaya menggagas lahirnya literasi dengan konsep terbarukan. Di mana, literasi tidak hanya dimaknai secara simbolik, lahir dengan data dan fakta kuantitas, tapi jauh dari itu literasi hadir sebagai roh untuk melihat, mengamati, dan membaca kondisi sebuah budaya dan jati diri bangsa.

Dengan pemahaman baru ini diharapkan gerakan literasi lahir secara alami dengan membangkitkan partisipasi para penggiat dari segala multiprofesi. New Literasi Studies (NLS) adalah salah satu kerangka kajian literasi baru yang lahir dari pergerakan anak jalanan dan buruh migran.

Gerakan literasi yang lahir dari kelompok anak jalanan dan buruh migran merupakan fajar baru untuk membangkitkan gairah literasi secara umum. Konsepsi dasar dari gerakan literasi baru ini adalah membangun kesadaran kolektif tentang budaya baca, tulis, dan mengkaji kondisi secara alamiah. Literasi tidak hanya diukur dari serangkaian kegiatan formal membaca dan menulis itu sendiri, tapi lebih pada kegiatan yang mengangkat harkat dan jati diri sebuah bangsa.

Literasi bukanlah sesuatu yang stagnan karena dia bergerak dan berubah. Misalnya, pengalaman literasi setiap orang bisa jadi berbeda dan tidak harus terkait pengalaman mengeja atau saat pertama kali seseorang mampu membaca.

Dalam buku ini, pengalaman literasi dimaknai sebagai rekam pengalaman seseorang dengan kegiatan membaca, menulis, dan mencerna pengetahuan, yang bermakna karena signifikan terhadap pilihanpilihan hidupnya di kemudian hari (hal 24). Buku ini hadir dengan tawaran konsep literasi lokal yang kontekstual, upaya untuk mengembalikan arah literasi pada khazanah budaya dan jati diri bangsa.

Selain itu, buku ini juga meramu konsep perlawanan terhadap hegemoni literasi yang terbentuk oleh praktik budaya kelompok masyarakat yang dominan, demi menumbuhkan praktik literasi yang lebih terarah sesuai konteks sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia. Salam Literasi!

Ahmad Wiyono

Penggiat Literasi dan Peneliti di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan

Literasi yang Membumi, Gagasan yang Menyadarkan

Review buku Suara dari Marjin oleh Wawan Eko Yulianto

http://basabasi.co/literasi-yang-membumi-gagasan-yang-menyadarkan

Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah hadir di tengah gegap gempita gerakan literasi nasional yang merupakan respons pemerintah terhadap rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia di tataran internasional. Menurut pemeringkatan literasi internasional, posisi Indonesia selalu termasuk paling buncit, sebagaimana dibahas di buku ini. Uniknya, penulis buku ini, yang juga terlibat dalam program literasi nasional itu, memiliki pandangan yang dibilang sangat mewadahi gerakan literasi yang tidak seperti digalakkan oleh pemerintah. Karena itulah, buku ini menyegarkan dan menyadarkan.

Suara dari Marjin adalah peleburan hasil dari dua penelitian yang pernah dijalankan oleh kedua penulisnya secara terpisah. Sofie Dewayani melakukan penelitian atas praktik literasi di kalangan anak-anak yang bekerja di jalan untuk keperluan disertasi S3-nya di University of Illinois at Urbana-Champaign. Sementara itu, Pratiwi Retnaningdyah meneliti praktik literasi di kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI), khususnya yang bekerja (atau pernah bekerja) di Hong Kong.

Buku ini menegaskan argumen yang banyak disuarakan para teoretikus Kajian Literasi Baru atau New Literacy Studies (NLS). Menurut NLS, literasi bukan hanya seperti lazimnya yang kita pahami di sekolah, yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis sesuai metode dan praktik formal. Literasi juga bisa terjadi melalui praktik informal, yang berlandaskan praktik keseharian dan memiliki tujuan akhir yang lebih relevan dengan keseharian pelakunya.

Dalam khazanah NLS, literasi dibedakan menjadi otonom dan ideologis. Literasi otonom adalah gerakan literasi yang tujuannya murni untuk meningkatkan kemampuan baca-tulis kritis tanpa mempertimbangkan faktor lain. Literasi ideologis, di lain pihak, adalah peningkatan kemampuan intelektual yang tak terpisahkan dengan keseharian si pelaku, sehingga tujuan akhirnya adalah peningkatan hajat hidup si pelaku. Literasi ideologis lazimnya menyadari elemen yang ada di lingkungan pelaku dan memanfaatkannya untuk pendidikan literasi. Dan literasi ideologis inilah yang disuarakan dalam buku Sofie dan Pratiwi ini.

Dari upaya literasi di kalangan “anak jalanan” (yang hendaknya selalu disertai tanda kutip karena ternyata sebutan ini dianggap tidak akurat mewakili dan terkesan merendahkan mereka yang dirujuk), Sofie mendapati penerapan konsep-konsep yang disuarakan NLS. Contohnya adalah Bu Sri, pendiri dan pengelola PAUD Bestari yang bercita-cita membimbing balita di Pasundan, Bandung, agar bisa masuk ke Sekolah Dasar, sehingga terhindar dari menghabiskan waktu di jalan pada usia sekolah. Dalam praktik mengajarnya Bu Sri banyak menggunakan apa-apa yang telah dipahami anak-anak (yang secara teoretis disebut “teks kultural”) dan mengoptimalkannya guna mengajari anak-anak keterampilan dasar baca tulis yang memampukan mereka masuk ke Sekolah Dasar.

Dari kalangan BMI, Pratiwi menyoroti proses pembelajaran yang memaksimalkan pengalaman keseharian mereka untuk meningkatkan potensi pribadi mereka. Di antara contoh-contoh kasus yang dibahas Pratiwi, kita bisa melihat kisah Rie Rie, seorang BMI asal Jawa Timur yang belajar blogging sendiri hingga akhirnya terbiasa menulis dan banyak membuahkan tulisan yang membangun kepercayaan diri sesama BMI dan bahkan berambisi mengubah citra “babu” yang cenderung dipandang rendah karena pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Rie Rie kemudian menularkan keterampilannya kepada para BMI yang lain melalui pelatihan-pelatihan blogging dan kepenulisan.

Dari dia, pengamatan etnografis atas praktik literasi di lingkup marginal yang berlainan ini, kita mendapati sejumlah kesimpulan penting yang perlu dipertimbangkan di tengah demam literasi dewasa ini. Satu hal yang paling penting adalah bahwa gerakan literasi hendaknya tidak dipahami hanya sebagai suatu gerakan yang menumbuhkan minat baca, tulis, dan berpikir kritis yang dilakukan secara formal dan tidak relevan dengan keseharian pelaku (otonom). Namun, upaya literasi bisa berlangsung di mana saja, dengan cara berlainan, tetapi bertujuan riil meningkatkan harkat hidup pesertanya (ideologis).

Simpulan lainnya adalah bahwa dengan melihat keberhasilan upaya literasi ideologis yang digagas secara mandiri dalam kelompok-kelompok marginal, upaya literasi di lingkup formal (sekolah-sekolah) hendaknya mempertimbangkan elemen-elemen yang berhasil tersebut, misalnya dengan menyertakan elemen kultural dari kehidupan sehari-hari pelakunya dan dengan cara yang lebih ramah terhadap keberagaman minat peserta didik. Dan tentunya, berbagai upaya literasi informal itu juga sudah sejak awalnya mengintegrasikan elemen-elemen upaya literasi otonom di dalamnya. Maka, di tengah gegap gempita literasi yang banyak berorientasi pada literasi otonom ini, tulisan Sofie dan Pratiwi yang juga terlibat dalam proyek pengembangan literasi nasional ini menyegarkan dan menyadarkan, membuat kita lebih awas dengan potensi literasi di sekeliling kita, literasi yang membumi.

TKW dan Anak Jalanan juga Menulis

Review buku Suara dari Marjin oleh Handoko Widagdo

https://indonesiana.tempo.co/read/113583/2017/07/16/handokowidagdo/tkw-dan-anak-jalanan-juga-menulis#

Selama ini kita berasumsi bahwa hanya kaum terpelajar yang berliterasi. Ternyata asumsi tersebut salah. Buku ini membuktikan bahwa Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan anak-anak jalanan bisa berkarya. Mereka bisa menulis tentang apa yang mereka pikirkan. Bahkan para TKW di Hongkong berhasil menerbitkan buku, menjadi bloger dan mengelola perpustakaan.

Sejak diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, dimana salah satu butirnya adalah tentang pembiasaan membaca di sekolah, program literasi bergulir kencang di Indonesia. Semua sekolah dan madrasah, dari jenjang SD/MI sampai dengan SMA/SMK/MA menerapkan kegiatan 15 menit membaca buku nonmatapelajaran. Program literasi tak hanya bergulir di sekolah-sekolah, tetapi juga di luar sekolah melalui Gerakan Literasi Nasional. Kegiatan-kegiatan literasi bersama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan komunitas belajar marak di berbagai tempat di tanah air. Apalagi pada saat Hari Buku, Pak Jokowi mengadakan acara khusus dengan para siswa dan dengan para aktifis literasi masyarakat.

Namun kalau dicermati, ada beberapa hal yang perlu didiskusikan dalam gerakan literasi yang sedang marak ini. Pertama adalah tentang faktor pendorong. Faktor pendorong yang sering digunakan oleh para pegiat literasi adalah jebloknya rangking Indonesia dalam hal tes-tes internasional seperti PISA, PRILS dan lain-lain. Demikianpun dalam hal budaya membaca, rakyat Indonesia dianggap sangat rendah. Pada tahun 2012 UNESCO merilis hasil studi yang menyampaikan bahwa hanya ada 1 dari 1000 orang Indonesia yang gemar membaca. Laporan UNESCO dan keterpurukan literasi berdasarkan pengukuran internasional tersebut dijadikan faktor pendorong dalam gerakan literasi. Akibatnya gerakan literasi diberlakukan sebagai sebuah fashion saja. Gerakan literasi dilakukan untuk tujuan supaya kita tak tertinggal gerbong pendidikan modern (hal. 212). Akibatnya upaya-upaya jalan pintas supaya nilai PISA dan PRILS bisa segera terdongkrak dilakukan.

Isu kedua adalah respon terhadap gerakan literasi dari masyarakat (dan sekolah) dimana gerakan ini lebih banyak direspon dengan deklarasi-deklarasi, membaca dan/atau membuat resensi secara masal, kalau perlu dengan pemecahan rekor MURI. Penampilan para duta baca yang memakai  selempang keren. Namun kurang merespon terhadap apakah siswa sudah benar-benar suka membaca, apakah buku bacaan yang cocok tersedia dalam jumlah yang cukup. Respon gerakan literasi seperti ini akan segera redup dan tak bertahan lama.

Isu ketiga adalah belum didiskusikan secara mendalam peran literasi (melalui sekolah) hubungannya dengan karier dan kemudian kesejahteraan. Kita seakan-akan menelan begitu saja bahwa literasi dalam arti kemelekaksaraan, adalah satu-satunya sarana untuk memasuki dunia kerja untuk menuju hidup yang sejahtera. Benarkah pendapat tersebut?

Buku ini berangkat dengan pertanyaan: “Apakah benar literasi (dalam arti kemelekaksaraan) adalah satu-satunya cara untuk memampukan warga negara untuk berdaya secara sosial, politik, dan ekonomi? Sebuah penelitian di Meksiko (Hernandez-Zamora, 2010) menemukan bahwa pendidikan tidak serta-merta bisa menaikkan taraf hidup seseorang (hal. 191). Ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi kesejahteraan seseorang selain dari kemelekaksaraan (baca: pendidikan).

Jadi, jika kita mengembangkan literasi, harus literasi yang seperti apa? Penulis buku ini memperingatkan bahwa program literasi yang hanya bertumpu kepada kemelekaksaraan tidak akan mampu menjawab tantangan pendidikan yang semakin kompleks. Literasi harus diarahkan kepada kemampuan baca tulis, kemampuan berpikir kritis, memahami nilai budaya dalam konteks jatidiri sebagai anggota komunitasnya. Tujuan literasi yang seperti ini tidak akan bisa dijangkau melalui kegiatan-kegiatan supervisial saja. Program literasi haruslah merupakan sebuah aktifitas sosial.

Dengan menggunakan pendekatan Kajian Literasi Baru (New Literacy Studies/NSL), Sofie dan Pratiwi mengkaji praktik literasi di anak jalanan di Bandung dan para buruh migran di Hongkong. Sofie dan Pratiwi memakai metode etnografi, dimana mereka berdua tinggal bersama mereka saat penelitian. Mereka berdua menemukan bahwa praktik literasi yang dilakukan baik oleh anak jalanan maupun oleh buruh migran, bukanlah sekedar praktik literasi yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menulis saja. Praktik literasi kedua kelompok marjin ini adalah sebuah praktik literasi untuk memperjuangkan jati diri mereka. Mereka menggunakan artefak literasi (tulisan, gambar, film) untuk menunjukkan bahwa posisi sosial mereka yang dianggap marjin tidak serta-merta menjadikan mereka inferior.

Pengalaman literasi anak jalanan dan para buruh migran ini memberi pemaknaan konsepsi baru tentang literasi yang kontekstual dan autentik. Literasi bukan lagi sekedar menjadikan orang-orang menjadi melek aksara (model otonomi) supaya hidup mereka menjadi lebih baik, tetapi literasi adalah sebuah praktik sosial yang tidak bebas nilai (model ideologi) yang muaranya adalah proses penemuan diri.

Di bab terakhir, Sofie dan Pratiwi menggugat pelaksanaan literasi di sekolah yang berjalan saat ini. Mereka membahas pentingnya model literasi ideologis mewarnai program literasi di sekolah. Pembahasan sampai kepada kesimpulan bahwa model literasi ideologis harus mewarnai praktik literasi di sekolah. Tantangan berikutnya adalah apakah model literasi ideologis ini bisa diterapkan di sekolah? Kalau bisa bagaimana caranya? Dua pertanyaan ini belum dijawab oleh kedua penulis. Semoga pada buku berikutnya, Sofie dan Pratiwi bersedia menuturkan bagaimana model ideologis bisa diintegrasikan dalam gerakan literasi sekolah, sekaligus dengan tips-tips penerapannya.

Di tengah-tengan kondisi literasi Indonesia yang baru kembali tumbuh ini, kehadiran buku ini adalah seperti sebuah anugerah. Saat hampir semua pembicaraan tentang literasi selalu dihubungkan dengan prestasi-prestasi buruk Indonesia dibanding dengan negara lain, ternyata ada suara merdu meski dari pinggiran bahwa literasi Indonesia itu keren. Buku ini menggambarkan “prestasi” literasi di Indonesia yang sangat menyentuh tujuan utama literasi tersebut, yaitu memampukan orang untuk bersanding sederajad dengan sesamanya.

Mewarnai Pembelajaran dengan Strategi Literasi

Pagi ini Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris, bu Ririn Pusparini, mengajak tim pengajar PPG/PLPG melakukan rapat persiapan dan penyamaan persepsi PPG Pra jabatan dan PLPG. Salah satu isu yang banyak ditanyakan guru/calon guru adalah bagaimana memunculkan literasi dalam proses pembelajaran. Memang selama ini masih ada persepsi bahwa literasi di sekolah adalah kegiatan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai. Ketika kemudian ada ‘tuntutan’ untuk mewarnai pembelajaran dengan literasi, sebagian guru memersepsikannya sebagai kegiatan 15 menit membaca selama pelajaran.

 

Perlu dipahami bahwa kegiatan membaca ini hanyalah titik awal dalam pengembangan budaya literasi di sekolah. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembiasaan dan pengembangan minat baca warga sekolah (siswa, guru, staf, kepala sekolah). Di sisi lain, pembelajaran yang inovatif, kritis, dan kreatif memerlukan penerapan berbagai strategi literasi dalam pembelajaran. Ini tidak hanya berlaku untuk pembelajaran bahasa, namun untuk semua mata pelajaran.

 

Berbagai penelitian dan praktik yang baik tentang literasi dalam pembelajaran meyakinkan kita bahwa sebenarnya para guru sudah menerapkan berbagai strategi. Hanya saja kita tidak/belum mengenalnya sebagai contoh strategi literasi dalam pembelajaran. Banyak guru yang kemudian bertanya bagaimana caranya menerapkan literasi dalam pembelajaran. Padahal saat PLPG yang baru lalu, guru-guru yang ada di kelas saya merasa lega ketika ditunjukkan bahwa beberapa strategi yang mereka gunakan dalam praktik pembelajaran adalah strategi literasi.

 

Tantangan ini membuat kami perlu menyamakan persepsi. Materi apa yang perlu disampaikan agar pelaksanaan PPG/PLPG dapat terkawal dari hulu sampai ke hilir. Kabar baiknya, Satgas Gerakan Literasi Sekolah Dikdasmen sudah menyusun materi strategi literasi dalam pembelajaran untuk SD dan SMP. Saya sendiri ikut mengembangkan modul SMP.

 

Literasi dalam pembelajaran mengacu pada sebuah kerangka yang dikenal dengan Multiliteracies Pedagogy Framework yang dikembangkan oleh New London Group. Ada 4 (empat) aspek di dalamnya, yakni Situated Practice, Overt Instruction, Critical Framing, dan Transformed Practice. Secara lebih ringkas, kerangka multiliterasi dapat diwakili oleh peta konsep di bawah ini.

multiliteracies

Secara lebih sederhana, kerangka multiliterasi ini dapat diterjemahkan secara lebih membumi di RPP dan Praktik Pembelajaran. Di dalam modul literasi dalam pembelajaran sudah dicantumkan sebuah checklist indikator literasi dalam pembelajaran. Guru dapat menggunakannya untuk mengecek ada tidaknya strategi literasi di RPP dan/atau praktik pembelajaran. Salah satu poin yang ditekankan di dalam pembelajaran berstrategi literasi adalah pemaknaan kata ‘teks.’ Teks tidak hanya berupa cetak, namun juga audio, visual, audiovisual, digital, gerak, gesture, dan tactile (terkait dengan hal yang bisa disentuh). Dengan demikian, pembelajaran yang baik perlu memanfaatkan teks yang bersifat multimoda. Di dalam modul tersebut juga tersedia berbagai contoh pengatur grafis (graphic organizer) yang amat membantu mempelancar proses pembelajaran dan membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.

 

Semester yang lalu ada beberapa mahasiswa S2 Unesa konsentrasi Pendidikan Bahasa Inggris yang menulis tesis dengan topik literasi. Ada yang meneliti tentang strategi literasi dalam buku teks Bahasa Inggris, penerapan strategi literasi di kelas, pemanfaatan berbagai pengatur grafis, dan eksplorasi kerangka multiliterasi di sebuah SMP di Lombok. Tesis-tesis ini menjadi bagian dari komitmen Unesa untuk mengembangkan kajian literasi di Indonesia.

 

Di bawah ini saya cantumkan checklist indikator literasi dalam pembelajaran yang disarikan dari berbagai sumber. Checklist ini sudah diujicobakan dalam berbagai kesempatan bimbingan teknis intruktur Kurikulum 13 yang diselenggarakan oleh Dit SMP Dikdasmen. Para peserta adalah guru 15 mapel (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Sains, IPS, PPKN, Seni Budaya, Pendidikan Agama Islam, Agama Kristen, Agama Katolik, Agama Buddha, Agama Hindu, Konghuchu, Prakarya, dan PJOK). Para guru ini mengembangkan RPP dengan strategi literasi dan menerapkannya dalam praktik pembelajaran.

 

indikator literasi dalam pembelajaran

Buat teman-teman guru mapel apa saja, silakan memanfaatkan checklist ini untuk mengembangkan pembelajaran yang kental warna literasinya. Semoga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan inovatif.

 

Salam literasi!

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑