BAJOLBALL: FROM CONSUMER TO PROSUMER

Bajolball sticker

Anda suka mereview barang dan jasa yang Anda gunakan/konsumsi dan memberikan review melalui media sosial? Bila Anda menjawab iya, boleh jadi Anda sudah menjadi prosumer. Anda menggunakan produknya, dan menciptakan konten media tentang produk tersebut. Banyak orang yang tidak sadar sudah menjadi prosumer.

Apa itu prosumer? Kata ini adalah perpaduan dari dua kata, producer dan consumer. Nah, generasi milenial adalah generasi prosumer. Mereka tidak hanya menjadi pengguna berbagai produk dan jasa yang beredar di pasaran. Anak-anak jaman sekarang dapat menghasilkan sesuatu dari barang dan jasa yang mereka nikmati setiap hari. Ini beda dengan generasi ibu bapaknya, atau bahkan eyang dan buyutnya, yang mungkin sudah puas menjadi penikmat saja.

Apa sih contoh prosumer? Gampang sekali menemukannya di sekitar kita. Anak-anak kelas 6 SD bahkan boleh dikata sudah menjadi prosumer. Sembari makan mie samyang misalnya, mereka bisa membuat vlog untuk mereview jenis samyang yang dimakan, baik rasa maupun tingkat kepedasannya. Saya tidak pernah makan samyang karena tidak suka pedas, tapi Adzra, anak perempuan saya, pernah melakukan samyang eating challenge dengan teman-temannya dan mereview samyang dengan nge-vlog. Salah satu hobby Adzra adalah nonton channel para food vloggers dan belajar cara mereview kuliner. Setiap kali kami makan di luar, ada saja yang dia review dan kemudian share ke teman-temannya via akun Instagramnya.

Teknologi internet memang menjadi alat yang paling berpengaruh dalam menciptakan para prosumer ini. Para fans bisa mendirikan kerajaan bernama Fandom karena mereka tidak hanya menikmati musik, film, atau klub sepakbola kesayangannya. Mereka berkreasi dan berinovasi dengan berbagai konten media tentang idola mereka. Ada yang bahkan mengembangkan konten medianya secara serius.

Ghanta, anak sulung saya, adalah bonek sejati sejak kecil. Setiap kali Persebaya main, dia hampir tidak pernah absen nonton. Baik langsung ke GBT maupun nobar atau nonton sendiri di rumah. Tidak cukup dengan nonton, Ghanta menulis review tentang permainan Persebaya. Ada 4 (empat) tulisannya yang dia kirimkan ke website bonek, https://emosijiwaku.com/?s=bayoghanta.

Nah, saat ini dia dan beberapa teman sesama bonek merambah ke dunia podcast dan membuat channel bertajuk Bajolball podcast. Bajolball adalah podcast channel tentang Persebaya dan Bonek. Channel ini dapat ditemukan di Spotify, https://open.spotify.com/show/1Hp5BJg5CUth723KTFfXYF, maupun di Apple podcast, https://podcasts.apple.com/id/podcast/bajolball/id1464955759.

Mereka serius banget ngopeni Bajolball. Ruang baca di rumah praktis menjadi markas buat rekaman sampai malam-malam. Kalau ada segerombolan anak muda parkir sepeda motor di depan rumah sekitar pukul 9 malam, ini adalah tanda bahwa saya dan Adzra perlu naik ke lantai atas. Tulisan ‘JANGAN BERISIK. ADA REKAMAN’ tertempel di pintu perpustakaan di lantai bawah.

Sosok yang diwawancarai bervariasi, mulai bonek sejati, fans dari klub lain yang sedang bertandang ke Surabaya, pengamat sepakbola, akademisi, sampai pemain Persebaya. Perpustakaan pernah ramai banget dan penuh gelak tawa karena kedatangan fans PSM Makassar.

Rekaman obrolan tentang sepakbola tidak hanya dilakukan di rumah. Februari lalu kami sekeluarga pergi ke Yogya untuk sebuah acara gathering dengan kantor mas Prapto, suami saya. Ghanta niat bawa backpack agak besar yang berisi perlengkapan untuk rekaman. Waktu saya tanya untuk apa, dia bilang mau ketemuan dengan seorang dosen Komunikasi dari Yogya yang juga pengamat sepakbola. Feeling saya mengatakan bahwa saya kenal dosen tersebut. Ternyata benar. Dia adalah Dr. Fajar Junaedi, dosen di UMY, pegiat media, yang juga adalah sepupu saya, putra dari bulik Sun, adik bapak saya. Lha kok bisa sudah kenal dan janjian dengan seseorang tanpa tahu bahwa dia adalah oom-nya sendiri. Akhirnya kami jadi reuni keluarga. Seneng banget ketemu dengan adik sepupu yang keren bin anti mainstream. Saya dapat hadiah 3 buku tentang sepakbola yang ditulis oleh dik Edi. Ghanta seolah dapat penguatan bahwa yang dia lakukan juga amat berpotensi dikembangkan.

edi on bajolball
Reuni dengan dik Edi di Yogya

Bajolball podcast channel baru saja merayakan episode ke-100. Sebuah pencapaian dari konsistensi dan komitmen yang tidak bisa dianggap remeh. Tahu nggak apa yang mereka lakukan?

Kamis sore yang lalu pas saya pulang dari kampus, Abay, asisten rumah tangga kami, bilang bahwa rumah ramai sekali siang tadi. ‘Mas Ghanta rekaman. Ada bule buk,’ kata Abay. Ternyata Bajolball mengundang Aryn Williams ke rumah Kebraon. Kalau Anda belum kenal, Aryn Williams adalah pemain Persebaya dari Perth, Australia.

Aryn on Bajolball
Aryn Williams, pemain Persebaya asal Australia, bertandang ke Bajolball.

Jadi begitulah, Bajolball dan dunia podcast menjadi bahan baru yang kami obrolkan. Saya jadi banyak bertanya ke Ghanta tentang proses podcasting dan kisah-kisah behind the recording. Mulai dari bagaimana menemukan seorang pengamat sepakbola dari India sampai bagaimana Aryn nyetir sendiri mencari rumah Kebraon via google map. Dan tentu saja produk-produk promosi yang mereka buat dengan modal urunan. Sticker bajolball menjadi produk yang menghiasi mobil, helm, dan AC portable. Adzra menjadi salah satu penerima Bajolball T-shirt dan diminta ikut promosi. Kalau berminat silakan PO di instagram Bajolballpodcast ya.

t shirt bajolball

Saya menjadi ibu yang bangga dengan aktivisme anak lanang saya. Dari bonek menjadi pelaku media dengan konten kreatif di era tanpa batas ini. Saya sendiri jadi terinspirasi untuk membuat podcast tentang literasi.

Tapi bagaimanapun saya adalah seperti ibu-ibu yang lain yang deg-degan sekaligus berharap tentang hal lain.

‘Mas, ojok lali skripsine sing kari sak uprit. Ndang marekno, ndang ujian, ndang wisuda.’

Extensive Reading: the best language program?

Saya biasanya mengikuti seminar atau konferensi yang punya tema besar dalam disiplin tertentu sebagai payung dari berbagai subtema. Partisipasi saya juga dengan berbagai peran. Seringnya ikut sebagai presenter, kadang sebagai peserta, dan sesekali sebagai pembicara utama. Nah, acara yang saya ikuti di Taichung, Taiwan ini beda. Bukan seminar atau konferensi, tapi kongres. Temanya juga spesifik banget. Judul lengkapnya The 5th World Congress on Extensive Reading. Tuan rumahnya adalah Feng Chia University. Saya akan menggunakan istilah ER dalam tulisan kali ini. Ben ringkes.

Bicara ER dalam konteks GLS berarti bicara tentang pembiasaan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Reading for Pleasure. Istilah yang sering dipakai di GLS adalah pembiasaan 15 menit membaca. Lha iya, ER yang ‘cuma’pembiasaan saja sampai dibuat tema kongres tingkat dunia setiap 2 tahun sekali, dan saat ini sudah yang kelima. Ini artinya bahwa ER BUKANLAH sekedar pembiasaan. Menurut pakar pembelajaran bahasa Inggris, ER adalah cara nomor wahid untuk meningkatkan kemampuan bahasa seseorang. Rasanya tidak ada satu orang pakarpun yang menyangkal pentingnya ER dalam proses pembelajaran bahasa. Kalau ada guru (atau bahkan dosen) yang masih belum percaya bahwa ER perlu mendapatkan perhatian serius dalam pembelajaran bahasa, bisa dipastikan mereka tidak suka membaca. Lha kalau ada guru yang tidak suka membaca, jangan heran bila siswanya lebih malas lagi membaca.

Kongres ER ini diadakan selama 4 hari, mulai tanggal 9-12 Agustus.  Hari pertama untuk workshop, dan 3 hari berikutnya untuk konferensi. Tanggal 13 Agustus untuk excursion (baca: jalan-jalan mengenal budaya Taiwan). Topiknya maha menarik. Sampai bingung milih mau ikut yang mana. ER dikaitkan dengan berbagai aspek kebahasaan, psikologis, sampai budaya; diteliti dengan berbagai metode penelitian; dilakukan di berbagai setting, mulai Afrika Selatan sampai Amerika Serikat, tapi paling banyak di konteks negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Setiap hari ada Plenary Session dari pakar yang tidak perlu diragukan lagi. Di catatan kali ini saya ulas plenary session pertama (10 Agustus 2019) tentang ER research oleh Rob Waring.

Plenary session pertama amat kuat pesan akademiknya tentang bagaimana ER berkaitan erat dengan berbagai aspek keterampilan bahasa, komponen bahasa, dan faktor afektif. Sesi ini dibawakan oleh Rob Waring, executive board member Extensive Reading Foundation (ERF). Ini yayasan yang mengadakan kongres ER. Pengurusnya para akademisi yang meneliti, melakukan, dan mempromosikan ER dalam berbagai konteks. Presentasi Rob Waring mencantumkan ratusan penelitian sebelumnya ttg ER, tapi itupun masih banyak ruang yang harus diisi oleh penelitian-penelitian yang lain.

Waring dkk mengelompokkan tema-tema penelitian ER, antara lain:

  • ER mengembangkan kemampuan Listening dan Speaking
  • ER berkorelasi dengan peningkatan hasil tes kemampuan bahasa seperti TOEIC
  • ER meningkatan kegemaran membaca
  • ER meningkatkan keterampilan, kecepatan, dan pemahaman membaca
  • ER mengembangkan kosa kata
  • ER berkaitan erat dengan motivasi membaca
  • Dampak ER terhadap penguasaan bahasa kedua

Saking banyaknya penelitian ER, sampai-sampai harus dikelompokkan seperti di atas. Bila Anda tertarik membaca abstrak dari penelitian-penelitian ER, silakan klik di website ERF sini.

Di setiap kategori ini sudah banyak sekali penelitian yang dilakukan dengan berbagai konteks, tapi tetap saja tidak akan ada habisnya. Mengapa? Karena jauh lebih mudah mengatakan bahwa ER itu penting daripada melakukannya. Itulah sebabnya di banyak sekolah/universitas, ER menjadi program yang diwajibkan. Kalau tidak ‘dipaksa’, banyak siswa/mahasiswa yang lebih memilih untuk tidak membaca. Ini bukan hanya sekedar asumsi, tapi banyak hasil penelitian ER menyatakan begitu.

Dari banyak hal penting yang disampaikan Rob Waring, salah satu point yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana itung-itungan waktu membaca dapat menjadikan seorang pembelajar bahasa asing tingkat Beginner mencapai tingkat Advanced. Berikut ringkasannya:

2 minutes per day (5 days a week) will take them 20.7 years

5 minutes per day (5 days a week) will take them 8.3 years

10 minutes per day (5 days a week) will take them 4.1 years

15 minutes per day (5 days a week) will take them 2.8 years

20 minutes per day (5 days a week) will take them 2.0 years

 

Jadi bila Anda ingin meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris, dengan membaca buku (terutama fiksi) 20 menit per hari selama 5 hari saja, kemungkinan besar skor kemampuan Bahasa Inggris Anda akan meningkat tajam dalam waktu 2 tahun saja. Janji ya: gak boleh bolong di hari biasa. Apapun alasan dan kesibukan Anda. Saya kasih libur deh di akhir pekan. Kalau tidak percaya, silakan coba sendiri.

Menyusun program ER tidak susah. Syaratnya harus ada buku berjenjang. Boleh cetak maupun digital. Baik dalam konteks pembelajaran bahasa pertama maupun bahasa asing. Yang lebih susah, kata Rob (dan saya mengamininya), adalah keengganan sekolah atau sesama guru/dosen akan pentingnya ER. Masak iya hanya dengan membaca, tanpa tugas macam-macam, terus Bahasa Inggrisnya bisa lebih bagus daripada belajar dengan banyak latihan grammar dan soal-soal bahasa? Boleh tidak percaya, tapi seorang pakar Applied Linguistics dari Taiwan, Sy Ying Lee, membuktikannya. Penelitiannya yang membandingkan tiga treatment–ER, ER + bedah kata, dan ER + latihan soal–menunjukkan bahwa kelas yang diberi treatment dengan ER malah menunjukkan peningkatan kemampuan bahasa lebih stabil dalam jangka waktu lama. Presentasi Lee akan saya ceritakan di tulisan berikutnya.

Ini pakar-pakar yang tidak hanya meneliti dan menelurkan penemuan baru. Mereka juga adalah dosen yang juga melakukannya di kelas yang mereka ajar. Nah, kalau para pakar sudah bilang begitu, dan kita masih beralasan ini itu, entah bagaimana lagi caranya meyakinkan diri kita sendiri.

Di akhir presentasi, Rob memberikan nasihat terbaik:

If you want to make the most positive change that you can to your language course, set up an extensive reading program.

Yang mau S2 atau S3, nih ada banyak bidang garapan yang akan berkontribusi besar untuk bangsa dan negara. Eaaaa!

rob waring
Tujuan foto dengan Rob Waring untuk kasih bukti ke Andy Cirocki bahwa Rob masih mengingatnya. Andy adalah visiting lecturer dari York University yang saat foto ini diambil sedang berada di Unesa (untuk keempat kalinya). This is a small world.

Bila Anda berminat mendapatkan materi presentasi Rob Waring, silakan email saya di tiwik.pr@gmail.com.

Taiwan, here I come again!

As Indonesians, did you know that you don’t need a visa to enter Taiwan if you hold a visa from several countries? The visa can be valid or expired for less than 10 years. The countries on the list are the US, UK, Schengen States (Europe), Australia, NZ, Canada, Japan, and South Korea. As long as your stay is less than 30 days, the visa requirement is exempted.

On my first trip to Taiwan in 2014, I got an entry permit by using my Australian visa and flew from Melbourne to Taoyuan International Airport. I attended the Inter-Asia Cultural Studies Summer School in Chiao Tung University and stayed for two weeks at Tsing Hua University dorm. These two universities are adjacent. Read my posts in Bahasa Indonesia on this trip here, and here.

This year I got another opportunity to travel to Taiwan. I received the great news that the Regional English Language Office (RELO), the US Embassy would sponsor several academics to attend the 5th World Congress on Extensive Reading to be held in Feng Chia University, Taichung, 9-12 August 2019.

Screen Shot 2019-08-09 at 10.00.40

Four people received the travel grants: mbak Lanoke Intan Paradita (a lecturer from Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, an active member of the Indonesian Extensive Reading Association (IERA), ibu Pangesti Wiedarti ( a lecturer from Universitas Negeri Yogyakarta, chief of School Literacy Movement Task Force (Satgas GLS) Kemdikbud, mas Billy Antoro (staff at Setjen Dikdasmen Kemdikbud, and me. When I received the nomination, I tried to rationalize in what capacity I am sponsored. Head of English Dept-Universitas Negeri Surabaya? Probably, since we hosted one of the ER workshops early May this year. A member of Satgas GLS? or a member of IERA, albeit a new one? Well, I decided to just take what the letter says. I owe my colleagues English Dept-Unesa, Satgas GLS, and IERA for this unexpected opportunity. This is going to be a wonderful event to learn about recent studies and best practices in ER and literacy from different countries.

Screen Shot 2019-08-09 at 11.38.38

Assuming that the visa application to Taiwan would take time, I decided to apply early. I contacted an agent, who asked me whether I hold a visa from such and such countries. I told him that I went to Japan in 2018 for a conference at Soka University.  So he told me, “no need to have a Taiwan visa, bu Tiwik.” His response took me back to the time I applied for a visa for my first trip. I quickly got his message and applied online. In less than 10 minutes, I was able to get the travel authorization certificate. I printed it out, saved it with my passport. Ready for the trip.

August 8, 2019. 11.00 am.
I was with mbak Lanoke and bu Pangesti, getting ready to check-in at China Airlines check-in counter at Terminal 3, Soetta airport. Mas Billy was on his way to the airport. The check-in staff checked my travel documents, then told me that there’s a name difference between my passport and travel authorization certificate. ‘Pratiwi Retnaningdyah’ on the certificate, and ‘Pratiwi Retnaningdyah Soeko Prabowo’ on a page in the passport. I did make a name amendment two years ago, as required by the Saudi Arabia immigration office (another story behind this). The name has to be at least three (first, middle, and surname). So, to make the story short, I had to redo the application to enter Taiwan. I panicked a little bit, but quickly went to the Information counter to get a desktop and filled out the form online. Done in 5 minutes. But then there was no printer there. Lanoke accompanied me to check if everything went okay. She, bu Pangesti, and mas Billy had checked in. I rushed to the check-in counter and asked the staff to help me print it out. Thanks for their cooperation, I got the print out version, was advised not to show the previous certificate at the immigration office in Taiwan later. The staff also shared some bad experiences with trivial but incorrect information in travel documents to enter Taiwan and the fines that entailed. Then she checked me in.

After flying for 5 hours and two movies on the plane, we landed smoothly despite the turbulence. The first greeting we heard from an airport staff was in Bahasa Indonesia, “Tenaga Kerja Indonesia?” We said no and quickly joined the long queue to the immigration counter at Taoyuan International airport.

WhatsApp Image 2019-08-08 at 10.01.44 PM
A wefie right across from the immigration counter. Courtesy: Billy Antoro

It was already 10 pm. Rain was seen pouring heavily on the roof. While waiting for our turn, we checked new messages on Whatsapp. Some concerns about Typhoon Leikema and earthquake in some parts of Taiwan were sent by friends in Indonesia.

Lanoke went first to the counter. In less than 1 minute, she had her photo taken and index fingers scanned. While waiting for my turn, I said all ‘sapu jagat’ prayers, hoping nothing would go wrong with my documents. The stories told by the staff at check-in counter in Soetta apparently freaked me out a bit.

Bismillah. My turn now. I handed in my travel documents, tried to stay calm, and observed how the staff checked my documents. She frowned for a while, opened some pages of my passport, looked again at the authorization certificate. I noticed a smile of relief on her lips and then gave me a sign to have my photo taken. “Index fingers, please.” I put my index fingers on the scanner and smiled back at her. I heard her put a stamp on my passport before she handed me the documents. With a big relief, I thanked her. I’m officially in Taiwan.

WhatsApp Image 2019-08-09 at 12.22.17 PM

Waiting for the van, I saw the billboard at the arrival gate. Several flights, mainly from Japan, Hong Kong and Korea, were canceled. Probably due to Typhoon Leikema.

WhatsApp Image 2019-08-08 at 10.20.23 PM

The downpouring rain accompanied us on our way by van to Taichung. One more hour and a half before we could lie on a comfy bed at the hotel. But to me, it’s a sign of fruitful days to come.

In One City Inn, Taichung

EXTENSIVE READING DAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH: REFLEKSI USAI DISKUSI PANEL EXTENSIVE READING ROADSHOW

Hati saya lagi membuncah. Membayangkan banyak hal besar dan menantang yang mungkin akan terjadi dalam kaitannya dengan Gerakan Literasi Sekolah. Kemarin saya berada di Universitas Sanata Dharma (USD) untuk mengikuti acara peluncuran Extensive Reading Roadshow.

Agenda ER Roadshow ini sendiri diselenggarakan oleh The Indonesian Extensive Reading Association (IERA), yang merupakan salah satu affiliate dari Extensive Reading Foundation (ERF). IERA berdiri atas inisiasi dari 2 perempuan hebat dari USD, Ibu Mita (Wakaprodi Pendidikan Bahasa Inggris) dan Ibu Yuseva (IERA Chair). Dalam diskusi panel sekaligus konferensi pers ini ada 7 (tujuh) panelis, antara lain:

  • Pak Rektor USD
  • Pak Thomas Robb, Ph.D, ERF Chair, Kyoto Sangyo University, Jepang
  • Pak Prof. Marc Helgesen, ERF Board Member, Miyagi Gakuin Women’s University, Jepang
  • Pak Dr. Bradley Horn, Direktur RELO
  • Ibu Christina Lhaksmita Anandari, IERA roadshow chair
  • Ibu Yuseva Ariyani Iswandari, IERA Chair
  • Saya sendiri (mewakili Satgas GLS)

Ini kedua kalinya IERA menyelenggarakan roadshow, dan tahun ini amat beruntung disponsori oleh Regional English Language Office (RELO)-Kedubes AS.

Lalu apa hubungannya dengan saya? Hmm, anggap saja ini keberuntungan punya banyak teman dan manfaat berjejaring. Desember lalu saya ditelpon mbak Dian Safitri, RELO assistant. Mbak Dian ingin mengajak pak Bradley Horn, Direktur RELO yang baru untuk berkunjung ke Unesa. Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris sendiri sudah cukup baik jejaringnya dengan RELO. Pada tahun 2010-2012, Jurusan kami pernah mendapatkan teaching fellow dari Amerika. Program teaching fellowship ini disponsori oleh RELO. Ibu Dr. Jonnie Hill, fellow yang ditugaskan ke Unesa, membantu kami mengajar, melakukan riset, menulis buku, dan memberikan workshop untuk guru-guru. Sampai saat ini saya masih berhubungan baik via email dan WA dengan bu Jonnie. Bahkan beliaulah yang jadi proofreader tesis S3 saya secara pro-bono sebelum berhasil saya submit di pertengahan tahun 2015.

Singkat cerita, dari kunjungan pak Brad dan mbak Dian ke Jurusan di bulan Desember 2018, kami baru tahu ada EIRA yang selama ini mengembangkan kegiatan ER ke sekolah-sekolah. Saya jadi merasa bodoh. Kemana saja selama ini kok belum pernah mendengarnya. Padahal Jurusan sudah rutin melakukan kegiatan ER, terutama untuk mahasiswa semester I pada mata kuliah Intensive English. Pada matkul IE ini, mahasiswa diberi tugas di luar materi perkuliahan untuk membaca sejumlah graded readers selama 1 semester. Selain itu, ER adalah salah satu kegiatan penting yang dapat dikembangkan di GLS. Kabar baiknya, IERA akan mengadakan roadshow dan mendatangkan 2 (dua) ER specialists dari AS.

Pentingnya ER ini kemudian membuat jejaring antara beberapa elemen menjadi mungkin. Beberapa minggu sebelum kick-off, RELO melakukan berbagai kontak dengan beberapa unsur Kemdikbud yang selama ini ngopeni GLS dan GLN, antara lain pak Hamid Muhammad, Dirjen Dikdasmen Kemdikbud, Satgas GLS dan Badan Bahasa. Saya jadi ikut excited membayangkan kolaborasi antara RELO, EIRA, dan ERF, dan Kemdikbud untuk sama-sama mengembangkan GLS.

ER Roadshow akhirnya diluncurkan pada tanggal 23 April 2019 di lantai 4 Kantor Pusat Universitas Sanata Dharma. Ada tiga alasan mengapa roadshow ini ditepatkan pada tanggal tersebut, yakni peringatan  Unesco’s World Book Day, UN’s English as an International Day, dan 70th anniversary of Indonesia-US partnership.

WhatsApp Image 2019-04-23 at 6.24.59 PM
courtesy: IERA

Dalam roadshow selama dua minggu, mulai tanggal 24 April-4 Mei 2019, dua orang ER specialists, Dr. Tom Robb dan Prof. Marc akan berbagi tentang apa, mengapa, dan bagaimana ER. Beberapa perwakilan dari IERA juga akan menjadi pembicara dan berbagi praktik yang baik. Unesa kebagian keberuntungan dengan menjadi salah satu institusi yang digandeng sebagai host pada tanggal 4 Mei 2019. Sementara itu, sekitar 10 anggota Satgas GLS juga diundang berpartisipasi di ER workshop pada tanggal 26 April 2019 di MyAmerica-Kedubes AS. Berikut jadwal lengkap ER Roadshow.

  • April 24: American Corner, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
  • April 26: My America Jakarta, U.S. Embassy Jakarta
  • April 27: Sampoerna University Jakarta
  • April 29: Maranatha University & BPK Penabur Bandung
  • April 30: American Corner, ITB, Bandung
  • May 2: STKIP PGRI Jombang, Jawa Timur
  • May 3: American Corner, Unair, Surabaya
  • May 4: Universitas Negeri Surabaya

Setelah mengikuti diskusi panel, saya mencatat secara reflektif beberapa hal penting mengapa ER yang digarap IERA amat relevan dengan GLS, dan untuk itu perlu didukung dan bahkan dikolaborasikan. Berikut catatannya:

  1. ER merupakan salah satu kegiatan yang direkomendasikan GLS, baik melalui 15 menit membaca maupun sebagai kegiatan pengembangan melalui klub baca atau bedah buku.
  2. IERA berkomitmen menggerakkan ER di sekolah-sekolah. Sementara ini IERA memang lebih banyak menggarap pemberdayaan guru-guru Bahasa Inggris, namun tidak menutup kemungkinan ER dikembangkan ke bahasa-bahasa lain di Indonesia.
  3. ER dijalankan dengan menggunakan graded readers (buku berjenjang) dalam Bahasa Inggris. Bahkan ERF sudah memiliki platform daring yang dapat mencatat berapa jumlah buku yang sudah dibaca siswa, lengkap dengan quiz untuk mengecek pemahaman bacaan. Berikut link-nya, http://erfoundation.org/wordpress/graded-readers/mreader/. Nah, GLS dapat belajar dari ERF untuk mengembangkan platform sejenis dengan bacaan buku berjenjang dalam bahasa Indonesia.
  4. Pentingnya buku berjenjang dalam GLS mendorong RELO untuk memikirkan strategi untuk mendukung pengembangan buku berjenjang dalam berbagai bahasa. Ini mirip dengan yang sudah dilakukan beberapa lembaga seperti USAID Prioritas, Room to Read (Provisi), The Asia Foundation, dan Inovasi. Artinya, semakin banyak pihak ikut berpartisipasi mengembangkan GLS.
  5. Poin nomor 4 juga membuka kemungkinan semakin banyaknya buku berjenjang untuk ditulis. Apalagi dengan adanya sistem perjenjangan buku yang dihasilkan oleh Pusbuk, maka penulisan buku berjenjang menjadi wajib segera dilakukan. Saya pribadi ingin mendorong banyak guru yang selama ini aktif menulis dalam upayanya menggerakkan literasi di kalangan guru untuk ikut serta menulis buku berjenjang. Dengan demikian buku yang dihasilkan menjadi lebih terasa manfaatnya untuk sekolah dan masyarakat.
  6. Penulisan buku berjenjang dapat diarahkan pada tema-tema yang sesuai dengan kurikulum, atau yang penting dan urgent dibutuhkan di masyarakat, seperti anti perundungan kepada anak, mitigasi bencana, pelestarian lingkungan, toleransi atas keberagaman, dsb. Melalui buku-buku seperti inilah literasi informasi dapat dikembangkan sejak dini kepada anak.
  7. Salah satu kelemahan GLS terletak pada masih kurang jelasnya pemahaman guru/sekolah tentang bagaimana kegiatan membaca dilakukan. Panduan GLS sebenarnya sudah cukup gamblang menjelaskan bagaimana menjalankan kegiatan membaca nyaring, membaca bersama, membaca terpandu, dan membaca mandiri. Di sisi lain, ada perbedaan mendasar antara Extensive Reading (ER) dengan Intensive Reading (IR). Dengan sifatnya sebagai kegiatan reading for pleasure, ER lebih dekat dengan kegiatan pembiasaan dan pengembangan di GLS, sementara IR lebih pas untuk pembelajaran, di mana diperlukan berbagai strategi literasi dalam memahami bacaan. Dengan demikian, ER Roadshow ini menjadi pengingat yang tepat bagi GLS untuk merapikan panduan dan manual yang ada dan melakukan pendampingan yang lebih terarah.
  8. Pak Brad, pak Tom, dan pak Marc menekankan pentingnya studi tentang ER dan literasi. Melalui penelitian, IERA, GLS, maupun dosen/guru pemerhati literasi dapat memiliki bukti tentang proses dan dampak ER dan praktik literasi terhadap siswa, ekosistem sekolah, dan masyarakat. Studi dengan bukti ilmiah juga perlu dilakukan untuk dapat mendorong pemangku kebijakan menetapkan aturan yang lebih pro-literasi.
  9. Studi-studi pada poin 8 perlu segera dilakukan untuk menyambut World Congress on Extensive Reading yang kemungkinan besar akan diselenggarakan di Indonesia pada tahun 2021. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi penyelenggara, tapi tidak berkontribusi dalam pemikiran.
  10. ER dan GLS akan berjalan optimal bila ada kolaborasi dengan masyarakat dan media. Saat diskusi panel tadi, ada beberapa teman dari TBM di wilayah DIY yang diundang. Senang sekali bertemu dengan teman-teman TBM yang sudah beberapa kali ikut terlibat di kegiatan GLS dan sudah melakukan kolaborasi dengan sekolah. Media juga ikut berperan dalam sosialisasi pentingnya literasi di sekolah dan masyarakat. Ada sejumlah awak media yang hadir dalam diskusi panel dan melakukan wawancara seusai acara. Berikut salah satu hasil liputan yang sudah dimuat di Kompas, 24 April 2019.

ER press conf_1

Banyak PR menanti. Kolaborasi menunggu untuk dijalin rapi. Komitmen perlu diperkuat lagi. Tugas akademisi untuk terus meneliti.

1st-year thesis progress summary

Doing a PhD study can feel like a lonely journey. There are times when a PhD student/candidate feels lost or overwhelmed, not to mention experiencing a writer’s block. To anticipate such gloomy moments, it would be good for a research student to take daily notes of what (s)he does. The notes can help them keep on track of the progress. Here’s my progress summary that I wrote and submitted for my PhD confirmation. Hope readers find it useful.

===

SUMMARY OF PROGRESS

(September 2011-August 2012)

Pratiwi Retnaningdyah

 

This report summarizes my progress during the first year of my PhD candidature. As stated in my thesis proposal that I submitted for my PhD application, I intended to focus on issues of gender, race, and class in Indonesian migrant literature, with particular interest in the writings produced by Indonesian Domestic Workers (IDWs) in Hong Kong. During my first consultation meeting with my supervisors, I realised that I had practically no knowledge of the background context of IDWs in relation to transnational labour migration, and surely very limited understanding of Cultural Studies. Therefore, I anticipated the following months exclusively for reading any related references to build my literature review.

September –October 2011

I spent my first two months building my understanding of key issues and researches in transnational mobility, transnational labour migration, and Cultural Studies. My previous educational backgrounds in American Studies and Literature are helpful as stepping stones to see the connection with Cultural Studies. I also made several lists of IDWs’ published works and the key issues in those works. On the basis of my readings, I began writing the outline of my introductory chapter, and consider a focus on female subjectivity and negotiation of space as reflected in IDWs’ writings.

While my thesis ideas were still quite raw, I took an opportunity to present my raw thesis ideas at Indonesian Postgraduate Students Roundtable. This event is held twice a year, and is conducted by Indonesian postgraduate students at the University of Melbourne, with the participants also coming from other neighbouring universities. I gained useful feedback from my fellow Indonesian students and began networking with those with similar interest in gender studies. My thesis topic on IDWs’ creative writing was not yet publicly known, yet attracted the audience. Later this month, I was interviewed on air by the Indonesian program of SBS radio, to talk about the relation of IDWs’ writing, their diasporic identity and their nationalism.

In the meantime, I continued and expanded my contact with prospective informants. Using a snowball technique, I was introduced by a Bonari Nabonenar, a senior writer, also a mentor for IDWs’ writing group, to IDWs’ cyber communities. Becoming a member of those cyber communities had provided me a clear picture of IDWs’ daily lives and their writing activities. I followed up this networking by making personal contacts with some IDWs. They were eager to discuss their works and activities, and had asked for my involvement in their activities. Ani Ema Susanti, an IDW-cum-film director, asked me to translate her latest film subtitle into English for Indonesian Film Festival 2012. Her documentary film, Donor ASI (breastmilk donor) later won the category of the best documentary film. Nessa Kartika and Jaladara, two IDWs who spoke in Ubud Writers and Readers Festival 2011 sent me their latest works to add to my resources.

November 2011

I developed my introductory chapter outline and started writing. At this stage, I focused on female subjectivity and negotiation of space in Indonesian Domestic Workers’ literature. The draft already developed a literature review of transnational labour migration,   domestic work in Indonesian popular culture, and positioning IDWs’ writings in Indonesian literature. As my theoretical framework, I considered using Foucauldian concept of power and Erving Goffman’s front/back stage.

In the meantime, I attempted to attend as many Upskills programs offered by the university as possible since my first month of study, in order to upgrade my knowledge in researches and academic life, as well as to gain a good understanding of academic and administrative requirements for a PhD study.

December 2011-January 2012

I went back to Indonesia in mid-December 2011, and spent my time at home till January 2012 to find and read published works by IDWs. I started my text-based preliminary analysis on the representation of space in IDWs’ works. I also approached some prospective informants and talked whenever possible about IDWs’ creative writing, in order to get their perspective of the phenomenon.

February 2012

I accepted my co-supervisor’s suggestions to consider other related themes. To do this, I decided to write descriptive and analytical pieces on various activities that involve IDWs, ranging from literary festivals, writing competitions, suitcase libraries to writing groups and mentoring. I attempted to incorporate those activities into a brief analysis of circuit of culture. These raw analytical attempts seemed to be unrelated to one another, as I was unable to find a solid theoretical framework for the analysis.  Thus, I began considering a shift in the major theme, from female subjectivity to literacy. I had mentioned the term ‘literacy’ in my scratches previously, yet was not aware of its importance and the overwhelming literature in literacy and identity.

March 2012

With very limited knowledge of the theory of literacy, I began reading any scholarly literature on literacy by using a snowball technique. This way helped me gain a better picture of the developing social theory of literacy that has been cited continuously in the previous studies in literacy. I was actually surprised to find out that this theme of literacy covered practically everything I intended to discuss in my thesis, from creative writing, writing group, reading community, mentoring, cyber community, to power, identity, and community empowerment.

April 2012

Meanwhile, I also began reading scholarly literature on research methodology in media studies, including audience research and media text analysis, which would be implemented in the analysis of the circuit of culture of IDWs’ writings. Now with some knowledge of literacy and methodology, I revisited my previous analysis of IDWs’ creative writing activities and attempted to do a brief analysis of IDWs’ literacy practices, to see the possibility of using this theme in my thesis.  These raw pieces of analysis were not included in my introductory chapter, and would surely be developed in other chapters. I was personally satisfied to realise that I already had some parts that could eventually be used as starting points of each chapter I had planned.

May 2012

Gaining a better understanding of literacy, I considered this theme a better and stronger framework to discuss IDWs’ creative writing. By focusing on the social theory of literacy, I would still be able to cover my previous themes in IDWs’ subjectivity and negotiation of identity, and even expand the discussion to community empowerment. With a shift in themes, I began writing/editing the outline of my introductory chapter.

Meanwhile, I maintained my networking with prospective informants through emails and social media network. I received resources in the form of IDWs’ works, media coverage of IDWs’ creative writing, personal videos of writing workshops, as well as new links to IDWs’ blogs and citizen journalism posts. Acknowledging blogging as an equally important creative writing practice, I expanded my discussion to digital literacy practices. I also wrote articles on IDWs’ literacy practices in Indonesian and sent them to some mailing lists and IDWs’ cyber community as well in order to gain useful feedback. My article on IDWs’ digital literacy practices was eventually published in Majalah Peduli, a monthly magazine freely distributed to IDWs’ community in Hong Kong.

June 2012

With a clearer and more organised outline of the introductory chapter and a new theme in literacy, I saw that major changes had to be made to my previous draft, and began editing it. I incorporated the theoretical framework and the research method to provide a better grasp and connection of the ideas, and polished the section on the background context to match the new shift in theme. Meanwhile, I also submitted my abstract for a presentation at the upcoming Work-in-Progress Day Seminar scheduled in mid-July 2012.

Approaching the end of the month, I started working on the paperwork for Ethics Approval, but then left it unfinished and postponed it till August to prioritise on oral presentation and confirmation instead. However, I mentioned the need for informants’ consent in my email correspondence with my prospective informants.

July 2012

With my confirmation already scheduled in mid-August 2012, I spent the last month of my first-year study editing and polishing my introductory chapter in order to meet the requirement of confirmation.

As part of my plan to present a paper at the 2012 Indonesia International Conference on Communication to be held in December 2012, I submitted my abstract and intend to talk about Indonesian Domestic Workers’ digital literacy practices as a media for community building.  The abstract was already accepted for a presentation in a parallel session. This topic itself will be a section of Chapter 3 on the moment of production of IDWs’ literacy practices.

To meet the hurdle requirement of confirmation, I also presented my thesis ideas in the Work-in-Progress Day Seminar on 18 July 2012. My presentation aimed at providing a general introduction of several literacy practices among Indonesian Domestic Workers in Hong Kong.

August 2012

While waiting for the scheduled confirmation meeting, I plan to use the first two weeks of this month to finalise the paperwork for Ethics Approval.

By the end of my first year study, I consider that I have sufficient preliminary data to be used for text-based analysis. This includes some published works by IDWs, IDWs’ blogs and citizen journalism, and media text that covered IDWs’ creative writing activities. I am certain that it will develop during the course of data collection through field work, and therefore anticipate possible minor changes.

In terms of informants, I have already built quite a good networking with IDWs’ community, senior writers as mentors, maid agents in Indonesia, and members of reading communities in Indonesia. The latter two groups will be involved as part of data collection and analysis of the reception of IDWs’ writings.

 

Lika-liku Publikasi (2): How minor is minor revision?

Sembilan bulan lewat sudah sejak artikel ‘Defining Islamic Modernity‘ saya submit di akhir tahun. Saya sudah mulai mengikhlaskannya, dan bahkan mulai lupa judul lengkap artikel yang terkirim. Saya mulai menimbang-nimbang lagi celengan manuskrip mana yang dapat dan perlu diutak-atik agar tidak salah kirim artikel yang sama ke jurnal yang berbeda. Etika publikasi memang begitu. Kita tidak boleh mengirimkan 1 artikel yang sama ke beberapa jurnal. Kalau sudah ditolak atau ditarik kembali oleh penulisnya, baru boleh dikirimkan ke jurnal lain.

Tanggal 8 Oktober 2018 itu, server Unesa sedang bermasalah, dan email Unesa ikut terdampak. Seharian saya tidak mengecek Single Sign On (SSO) dan email Unesa. Presensi dan jurnal perkuliahan saya isi secara manual karenanya. Baru kemudian di malam hari saya iseng cek email.

Mak deg…ada email masuk dari Culture and Religion:

08-Oct-2018

Dear Dr Retnaningdyah:

Your manuscript entitled “Defining Islamic Modernity through Creative Writing: A Case Study of Indonesian Domestic Workers in Hong Kong”, which you submitted to Culture and Religion, has been reviewed. The reviewer comments are included at the bottom of this letter.

The reviews are favourable and suggest that, subject to minor revisions, we would like to publish your paper in the journal.  Please consider these suggestions, and I look forwards to receiving your revision.

These are very minor revisions, which we would hope you can make quickly if possible………..

Seperti anak kecil dapat permen coklat, saya tarik dan peluk Adzra, yang melongo melihat ibunya yang sedang euphoria. Alhamdulillah. Lega sekali rasanya.

Baru setelah lebih tenang dari overexcitement yang saya rasakan, email saya baca kembali, mencoba mencermati catatan revisi yang diberikan reviewers. Very minor revisions. Praktis tidak ada komentar tentang konten, hanya diminta menambahkan 1 paragraf untuk menjelaskan Forum Lingkar Pena lebih detil di bagian awal. Ada 2 catatan kecil yang tidak perlu mikir untuk mengubahnya. Saya endapkan pikiran selama 1 hari sebelum menyentuh kembali manuskrip dan menambahkan catatan yang diminta reviewer. Revisi langsung saya kirim pada tanggal 9 Oktober 2018.

Proses setelahnya berjalan begitu cepat. Hari berikutnya saya mendapatkan 3 email berturut-turut: revisi diterima, artikel siap publish, dan kemudian Agreement form yang harus saya tandatangani secara online. Begitu urusan Agreement beres, artikel sudah pindah ke bagian editing, yang memastikan layout tepat dan tidak ada kesalahan dalam ejaan, tanda baca, dan kesesuaian referensi. Dua hari kemudian, tanggal 12 Oktober 2018, saya menerima proof of review dari bagian editing. Di file pdf yang saya terima, artikel sudah dalam layout publikasi, tapi ada catatan-catatan yang harus diperbaiki. Di file ini saya baru tersadar ada logo Routledge. Tambah ndredeg mau revisi urusan tanda baca.

Ternyata masih ada saja yang terlewat. Entah terlalu banyak space, lupa menyebutkan nama kota di mana Unesa berada, sampai halaman bab dari beberapa referensi yang saya pakai. Bener-bener deh. Tidak boleh ada celah kesalahan sama sekali. Semua referensi harus bisa dicek secara online.

 

Mau tidak mau saya buka lagi tesis saya (dan ternyata nemu kesalahan yang sama). Saya cek buku-buku di perpustakaan rumah, kumpulan cerpen BMI-HK yang saya gunakan sebagai sumber data. Saya buka EndNote and Mendeley saya, mencari ebooks dan artikel jurnal yang saya rujuk. Revisi minor tidak berarti bahwa kesalahan tanda baca dan referensi dapat ditolerir. How minor is minor revision?

Bagian editing tidak menerima revisi lagi, dan apapun yang dikirim setelah revisi tahap ini akan dipublish apa adanya. Koreksi lebih dari 30 kesalahan akan berdampak pada sejumlah biaya yang dibebankan kepada penulis. Lha saya tidak mau keluar uang, wong untuk publikasi ini saya tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Saya cermati kembali manuskrip sampai ke titik koma dan jarak ketukan antar kalimat.  Huh…benar-benar serasa seperti masa-masa menulis tesis. Akhirnya dua hari kemudian (14/10/2018) saya submit revisinya. Automated reply system langsung memberikan jawaban bahwa proses submit berhasil.

Usaha keras sudah dilakukan, dan saatnya tawakkal. Semoga proses publikasi lancar. I’ve done my best, let Routledge do the rest. Sesuai informasi di email yang terkirim sebelumnya, perlu proses 2 bulan sebelum artikel siap publish secara online. Nah…ketika Anda membaca bagian ini, berarti artikel saya sudah dinyatakan publish secara online. Artinya, hanya 5 hari dari tanggal saya mengirimkan revisi terakhir. Artikel sudah mendapatkan DOI number berikut: 10.1080/14755610.2018.1535443, dan dapat di-search sumbernya secara online.

Artikel ini masih menunggu proses dimasukkan ke volume dan issue berapa. Informasi ini penting untuk keperluan sitasi. Meskipun begitu, sebagai author, saya diijinkan untuk memberikan 50 free online copies kepada teman dan kolega yang tertarik membaca full textnya. Bila Anda berminat membaca versi onlinenya, silakan klik tautan berikut:

https://www.tandfonline.com/eprint/dUBSadFswXzMu4UYmZrs/full

Bila Anda berhasil mengunduh artikelnya, berarti Anda beruntung mendapatkan unduhan gratisan secara resmi dari penerbitnya. Namun bila ternyata jatahnya sudah keduluan pembaca lain, jawil saya saja. Selalu ada cara lain untuk berbagi…hehehe.

Selamat membaca, semoga kontennya memberi manfaat. Semoga cerita lika-liku publikasi juga memberikan semangat pantang menyerah bagi siapa saja yang bergelut di dunia akademik.

Jangan lupa pula bahwa pencapaian di dunia akademik bukan hanya ditentukan oleh publikasi di jurnal internasional. Seberapa bermakna ilmu yang kita punya untuk masyarakat luas, itulah yang seharusnya menjadi tujuan utama.

Lika-liku Publikasi (1): Rejection is part of the deal

Ketika satu artikel saya akhirnya berhasil tembus ke jurnal internasional berreputasi, beberapa teman bertanya dan berkomentar, ‘gimana caranya?’, ‘bagi dong ilmunya, atau ‘saya diajari ya.’

Baiklah, saya ingin cerita proses jatuh bangun dan deretan kegagalan di balik publikasi ini.

Artikel ini merupakan cuwilan dari salah satu bab tesis S3 saya. Datanya tetap, tapi pendekatannya saya sentuh di sana-sini. Tidak banyak sih, yang penting ada rasa baru. Setidaknya menurut saya.

Saya lupa kapan tepatnya saya mulai menulis manuskrip ini. Di desktop saya, cukup banyak tulisan—ilmiah dan kreatif—yang tidak selesai. Tepatnya, belum sempat diselesaikan. Entah karena malas, kesibukan yang bejibun, atau malah lupa punya bahan tulisan. Nah, artikel ini termasuk yang terakhir. Yang saya ingat adalah saya pernah meminta ijin ke Fran Martin, supervisor saya, untuk mencantumkan namanya di satu artikel yang sedang saya persiapkan. Saat itu saya masih berstatus mahasiswa bimbingannya. Itu sekitar awal 2015. Tesis sudah hampir rampung, masa kepulangan tinggal menghitung bulan, dan saya tahu tagihan-tagihan akademik sebagai dosen sudah menanti. Salah satunya adalah publikasi ilmiah. Eh, si Fran malah menolak. Dia bilang, ‘it’s your own work, Tiwi.’ Yah….kecewa deh.

Sirnalah keinginan saya numpang beken di dunia akademik. Publikasi supervisor saya ini banyak banget. Silakan cek di sini. Tapi saya memahami pilihannya. Di disiplin Humaniora, termasuk di antaranya Cultural Studies, tidak jamak ditemukan nama dosen pembimbing nempel di publikasi mahasiswa bimbingannya. Saya pernah membaca publikasi beberapa mahasiswa bimbingan Fran. Semuanya main solo.

Alhasil saya kembali fokus ke penyelesaian tesis. Singkat cerita, kuliah selesai, dan saya kembali ke habitat saya di universitas tercinta, sembari menyimpan angan-angan, ‘kapan yo bisa publish ke jurnal keren?’ Di paruh kedua tahun 2016, Unesa semakin menggeliat dalam mengompori para dosen untuk publikasi di jurnal internasional. Saya bertemu dengan teman-teman yang hebat dan publikasinya sudah berderet-deret di Scopus. Saya?…satupun belum punya. Dengan suasana akademik yang kondusif ini, saya mencoba peruntungan kembali. Mulailah acara ubek-ubek isi Dropbox dan Hard disk. Eh…ketemu manuskrip yang jumlah halamannya sudah cukup panjang. Judulnya ‘Forum Lingkar Pena Hong Kong’ : Defining Islamic Modernity through Literacy Practices by Indonesian Domestic Workers. Setelah menghaluskan manuskrip di sana sini agar tidak terkesan dipenggal dari bab tesis, saya coba kirimkan ke satu jurnal terbitan Elsevier, yakni Women’s Studies International Forum (WSIF). Mengapa saya memilih jurnal ini? Ya pakai feeling saja sebenarnya. Topik saya cukup nyambung dengan area jurnal WSIF ini. Selain itu, jurnal ini masuk Q2. Alasan lain yang gak ilmiah: teman PhD seangkatan saya, Shu Min dari Singapore, sudah publish di jurnal ini. Padahal saat itu dia belum selesai studi (eh..apa hubungannya?).

Di cover letter yang saya lampirkan, artikel ini saya kirimkan tertanggal 11 November 2016. Bagaimana hasilnya? Tak menunggu lama, sekitar 2 minggu kemudian, saya menerima email balasan. Cepet banget? Saya jadi gak enak hati. Dan bener juga. Artikel ini rejected. Kata editornya, topiknya tidak sesuai dengan focus WISF. Duh…rada ngenes juga. Ternyata saya terlalu PD, mengira tema manuskrip saya ini relevan banget. Kurang apa coba? Nama jurnalnya Women’s Studies International Forum, dan saya menulis tentang isu perempuan buruh migran. Aneh kan kalau dianggap tidak relevan? (Ini mah curhatan orang yang kurang terima dapat penolakan). Pada saat yang sama, saya juga masih menunggu hasil review manuskrip lain yang saya kirim di jurnal berbeda. Kapan-kapan saja saya cerita nasib manuskrip perdana ini.

Saya penasaran karena jurnal WISF sebenarnya tidak mengatakan apa-apa tentang kualitas tulisan, kecuali bahwa temanya tidak sesuai. Saya cermati lagi manuskrip ini. Ngecek judulnya, isinya, teori yang dipakai, dan macem-macem. Saya mulai hunting jurnal lain di scimagojr.com. Cari yang reputable, tentang perempuan, dan bisa mewadahi analisis karya kreatif. Ketemulah jurnal bernama Contemporary Women’s Writing. Hati saya berkata, mungkin inilah pilihan yang lebih tepat. Ditolak jurnal Q2, saya mencoba peruntungan di level bawahnya, Q3. Saya baca-baca artikel yang dipublikasikan di jurnal terbitan Oxford UP ini, nampaknya lebih relevan. Ada banyak karya klasik dan kontemporer yang ditulis perempuan menjadi subjek analisis. Jadi kalau saya mengangkat tulisan kreatif para BMI Hong Kong, mestinya akan menjadi terobosan baru. Boleh dong optimistis!

Judul artikel saya ubah menjadi lebih simpel, ‘Forum Lingkar Pena Hong Kong: Defining Islamic Modernity through Indonesian Domestic Workers’ Creative Writing.’ Isinya gak banyak berubah, dan langsung saya submit via online system. Respon dari jurnal ini cukup lama saya terima.. Selama menunggu ini, status artikel saya intip terus, eh siapa tahu ada kabar. Ada sekitar dua bulan masa tunggu.

Jawaban yang terima via email berasa ditolak gebetan yang lama diimpikan. Bagaimana rasanya ketika seseorang yang kamu rindukan bilang begini:

“kamu tuh baik banget sama aku, gak pernah nyakiti aku, selalu perhatian.         Pokoknya kamu itu ‘one of a kind’ deh. Tapi kita berteman aja. Kayaknya aku nggak cocok buat kamu. Gimana kalau kamu aku kenalkan sama temen baikku?”

Saya speechless baca pujian di email balasan. ‘This is a well-crafted and carefully researched essay, and the topic is really interesting. Unfortunately, our journal covers articles from literary perspectives, while your manuscript has a sociological nuance. I suggest that you submit it to journals that cover issues of culture and religion. You may be interested in publishing your article in our open access journal ……dst dst.

Kecewa ditolak lagi meski seneng juga bahwa artikel saya dinilai berkualitas (tapi tetap aja gak relevan), saya jadi agak kehilangan semangat. Mana pula manuskrip satunya dapat banyak masukan lumayan kritis dari reviewer. Saya sejenak mengesampingkan niat submit ke jurnal, dan bergerak ke level yang lebih terjangkau. Presentasi di konferensi dan publish di indexed proceedings. Nulisnya tandem, sebagai penulis pertama maupun kedua. Tidak main solo.  Topiknya tetap literasi, namun tidak lagi tentang literasi BMI Hong Kong. Beberapa di antaranya sudah publish di Atlantis Press, dan satu artikel di prosiding sudah terindeks Scopus.

Meski begitu, isu BMI tetap menghiasi beberapa dongengan saya ketika kebetulan diminta bicara tentang literasi dan komunitas. Sampai kemudian niat menerbitkan buku ilmiah bergaya populer juga keturutan. Dari pertemanan saya dengan mbak Sofie Dewayani di Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud, kami berkolaborasi menyatukan disertasi kami dalam sebuah buku berjudul Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial (2017) terbitan Rosdakarya. Pendekatan kami praktis sama, yakni New Literacy Studies. Bedanya di subjek penelitian. Mbak Sofie mengangkat praktik literasi anak jalanan di Bandung dalam disertasinya di the University of Illinois at Urbana-Champain, sementara saya fokus pada literasi BMI Hong Kong. Secara kualitas, kami berdua puas dengan buku SDM ini, dan berencana menyiapkan sequel-nya. Meski begitu, kami berdua sama-sama menyimpan mimpi menulis bareng untuk jurnal internasional berreputasi. Kerangka artikel tentang Literacy and Space menjadi pengingat agar mimpi ini tidak hanya angan semata.

Setelah penolakan dari Contemporary Women’s Writing di awal 2017 itu, sesekali saya masih suka browsing jurnal yang pas. Pernah nemu jurnal bernama Culture and Religion terbitan Taylor and Francis group. Pernah iseng mengisi submission form di jurnal ini di bulan Juli 2017, tapi tidak saya lanjutkan. Entah kenapa, saya lupa alasannya. Alasan paling masuk akal adalah kakehan gawean. Nah, di bulan itu, semangat publikasi berkobar lagi ketika saya mendapatkan kesempatan untuk ikut pendampingan publikasi jurnal dalam program APDP (Alumni Professional Development Program), yang merupakan kolaborasi beberapa universitas di Australia. Sasarannya adalah para alumni S2/S3 lulusan Australia. Maka ikutlah saya di workshopnya yang diadakan di Makasar. Saya juga mendapatkan mentor melalui proses online mentoring selama 3 bulan untuk menyempurnakan manuskrip. Proses mentoring berjalan lancar di awal Agustus-September, dan kemudian saya tenggelam lagi dalam tagihan administrasi dan akademik lain. Saya merasa kecewa dengan diri saya sendiri. Tidak mampu menyelesaikan target pribadi dan hanya mencari alasan pembenaran.

Di penghujung akhir tahun 2017, ketika orang-orang melakukan refleksi, membuat resolusi, atau menyiapkan bakaran ikan, saya menatap desktop. Saya mencoba menemukan satu bukti produktivitas yang saya tetapkan di akhir tahun sebelumnya. Saya masih belum juga submit artikel ke jurnal internasional.

Hasil perenungan di depan desktop membawa saya ke email notifikasi dari Culture and Religion bahwa saya pernah menyiapkan draf untuk publikasi. Satu artikel yang tak tersentuh selama setengah tahun. Saya niatkan menutup tahun 2017 dengan menuntaskan target ini. Setelah memastikan panjang dan format artikel sesuai dengan ketentuan, mengupdate cover letter, saya sentuh lagi judulnya agar lebih nendang. Jadilah manuskrip siap submit dengan judul ‘Defining Islamic Modernity through Creative Writing: A Case Study of Indonesian Domestic Workers in Hong Kong.’ Saya bahkan tidak terlalu ingat siapa penerbitnya dan Q berapa. Yang saya pegang sebagai ukuran kualitas adalah Taylor and Francis group. Baru belakangan saya sadar bahwa saya sudah submit artikel ke jurnal Q1. Wah…nekad banget ini. Ditolak jurnal Q2 dan Q3, malah kirim ke Q1.

Di sela-sela tugas sehari-hari, saya rutin mengecek status review artikel di online system. Dua bulan tanpa kabar, tiga bulan, empat bulan. Status masih waiting for review. Kalau tidak salah baru di bulan keenam statusnya berubah menjadi ‘under review.’ Saya coba kirim email, tapi tidak dibalas oleh editor. To be honest, I had almost given up hope, tapi kemudian optimistis lagi setelah mendengar cerita dari banyak teman dan kolega, yang WNI maupun WNA. Rejection is part of the deal.

(bersambung)

Buku Saja Belum Cukup

Hari ini, tanggal 23 April adalah World Book Day. Saya kira tidak ada yang akan menyangkal bahwa buku perlu hadir dalam keseharian kita. Dengan geliat literasi di sekolah dan masyarakat yang semakin dahsyat, pertanyaan ‘apa pentingnya membaca?’ atau ‘apa itu literasi?’ tidak lagi relevan. Yang lebih sering ditanyakan banyak pihak sekarang adalah ‘apa lagi setelah membaca?’ atau ‘apa yang harus dilakukan dengan literasi?’

Buku sebenarnya hanya satu di antara empat lapis literasi. Buku baru akan berperan maksimal bila tiga lapis lainnya juga menyertai. Keempat lapis literasi yang perlu hadir adalah: lingkungan kaya teks, buku, bahasa tulis, dan bahasa lisan.

Bagaimana agar empat lapis literasi ini dapat mengembangkan praktik dan kemampuan literasi anak? Mari kita belajar singkat tentang ORIM Framework. ORIM adalah singkatan dari OPPORTUNITIES, RECOGNITION, INTERACTION, AND MODELLING.

ORIM foto

Menurut kerangka ORIM ini,  literasi anak akan berkembang bila orangtua memberikan atau melakukan empat hal: KESEMPATAN, PENGAKUAN, INTERAKSI, dan KETELADANAN. Kerangka ini dapat digunakan untuk mencermati atau merencanakan kegiatan literasi di rumah maupun di sekolah.

Orangtua perlu memberikan kesempatan agar literasi menjadi praktik dan berkembang menjadi kemampuan. Memberikan pensil dan kertas kepada anak, mengajak anak ke perpustakaan dan menjadi anggota, menyediakan ruang di rumah agar peristiwa literasi dapat terjadi, menempatkan buku dan peralatan tulis di tempat yang mudah dijangkau adalah beberapa contoh sederhana yang dapat kita lakukan.

DSC_0355

Orangtua juga dapat dan perlu memberikan pengakuan kepada keberhasilan anak, sesimpel apapun, misalnya dengan memberikan catatan pujian, mendiskusikan hal yang berhasil dilakukan anak.

Interaksi dapat dilakukan dengan menyediakan waktu bersama dengan anak melalui kegiatan membaca bersama, bermain tebak kata, bermain Scrabble, atau menulis kartu ucapan untuk teman.

LITERACRAFT

Tak kalah pentingnya, dan barangkali yang paling penting adalah contoh dan keteladanan dari orangtua. Ayah atau ibu yang sering kelihatan membaca dan/atau menulis akan memberikan penguatan bagi anak. Menulis resep, mengetik, mengerjakan Teka Teki Silang, melengkapi formulir, mencatat hal penting ke dalam buku adalah kegiatan sederhana tapi menjadi contoh praktik literasi yang baik di rumah.

Nah, ayah bunda, mau coba seberapa banyak ORIM kita lakukan di rumah dan seberapa kaya lapis literasi kita sediakan di rumah? Silakan amati dan catat kegiatan literasi di rumah dengan menggunakan tabel di atas. Isikan seperti apa kesempatan, pengakuan, interaksi, dan keteladanan yang sudah Anda berikan untuk setiap lapis literasi kepada anak, baik di rumah maupun di sekolah. Anda akan takjub sendiri betapa literatnya Anda sebagai orangtua.

Jangan lupa berbagi kisah ORIM Anda di rumah ya!

 

Rujukan:

Nutbrown, C, Hannon, P. & Morgan, A. (2005) Early literacy work with families: policy, and research. London: Sage.

Blog at WordPress.com.

Up ↑